oleh

Nama Perempuan itu Rika

-Cerpen-296 views

Rika,  memandang nanar pada langit biru pagi itu. Sembari mendengarkan lagu ”cinta luar biasa” cipta Andmesh Kamaleng yang begitu merdu, romantis, dan menyentuh hati. Udara segar pagi ini yang diiringi lagu itu membuat Rika membayangkan sosok lelaki yang benar-benar tulus mencintainya. Seperti dalam lagu itu, ia bayangkan seorang lelaki yang mencintainya yang punya hati yang setia.

Ya, Rika memang hanya menginginkan lelaki yang benar-benar mencintainya tanpa pamrih, tak peduli lelaki itu tak punya bunga juga tak punya harta, yang terpenting bagi Rika adalah ketulusan cinta lelaki itu. Jika benar-benar ada seorang lelaki seperti yang digambarkan dalam lagu itu, Rika sudah memastikan dirinya akan mencintainya.

Rika juga telah berjanji pada dirinya sendiri, hanya lelaki seperti itu saja yang mau ia nikahi. Lalu bagaimana jika Rika tidak menemukan lelaki seperti itu? Rika tidak mau menikah! Ya, begitu jawabannya demi memelihara hatinya yang suci.

Semenjak lulus sekolah dasar, Ririn tidak melanjutkan belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan berarti karena tidak mampu, bukan! Bapaknya adalah orang terpandang di kampungnya, selain sebagai seorang katolik yang terlihat taat, bapaknya juga seorang pegusaha sembako yang sukses. Kalau hanya sekedar menyekolahkan Rika, setinggi-tinggi sekolahnya, hartan itu masih sisa banyak. Bagaimana tidak? Rika hanya anak semata wayang dalam keluarganya.

Namun sangat disayangkan, bapaknya yang tergolong kaya itu tak mengijinkannya melanjutkan sekolah hanya karena Rika perempuan! Apa salahnya perempuan kalau sekolah? Bukankah kalau Rika bersekolah bisa mengangkat derajat orang tuanya? Bukankah kalau Rika bersekolah bisa membantu orang-orang kampung memajukan kampungnya? Bukankah kalau Rika melanjutkan sekolah, ke SMP, ke SMA, ke perguruan tinggi, Rika akan menjadi wanita yang hebat di kampungnya? Lalu Rika akan dihujani pujian oleh orang-orang kampungnya? Dan bukankah pujian adalah suatu yang selalau diharap-harapkan bapaknya?

”Kamu itu perempuan, tidak usah sekolah-sekolah segala, sekolah saja sama ibumu. Belajar masak, nyuci, dan mengurus urusan rumah tangga. Hanya itu tugasmu ketika menjadi seorang istri nanti!” Ketika mengingat kata-kata itu, Rika pasti menangis. Hanya lagu-lagu favoritnya yang bisa melupakannya dari kejadian di masa lalu yang menyedihkan itu. Namun ketika mendengar lagu-lagu cinta yang begitu romantis dan mampu membuatnya tersenyum-senyum sendiri itu, ia harus memutarnya setelah bapak berangkat ke toko.

Ya, karena bapaknya melarang keras Rika mengdengarkan musik atau lagu semacam itu, haram! Katanya. Rika hanya boleh mendengarkan lagu-lagu berlirik Manggarai yang ia dan bapaknya tak tahu apa arti dan siapa penyanyinya. Beruntung, selama ini ketika Rika mendengarkan lagu-lagu favoritnya belum pernah bapaknya mengetahui. Entah bagaimana jadinya jika bapaknya tahu saat ini Rika sedang mendengarkan lagu-lagu itu.

Memang, sebagai anak tunggal, Rika begitu dimanjakan, apa yang ia inginkan seringkali diberikan oleh orang tuanya. Ya, kecuali pendidikan, musik, dan apapun yang tak disukai bapaknya. Ibunya pun tak berani membantah apa yang dikata dan dilakukan suaminya.

***

Pagi itu, dalam riuh, bau, dan hingar-bingarnya pasar, Rika sedang menemani ibunya berbelanja. Di sebuah warung bakso Rika melihat seorang pengamen, berambut gondrong, dandanannya compang-camping, dengan membawa gitar, ia menyanyikan salah satu lagu favorit Rika.

Di saat ibunya sedang membeli sayuran, Rika mendekat ke warung bakso itu dan tanpa sadar ia ikut menyanyikan lagu yang dilantunkan si pengamen. Ketika pengamen itu keluar dari warung, Rika masih saja bernyanyi dan menikmati nyanyiannya sembari memejamkan mata. Sang pengamen heran pada tingkah Rika, lalu ia menegur,

”Hay, Enu suka dengan lagu itu?”

Rika tergelagap dan menjawab, ”Ha-hay, ya, aku menyukainya.” Sambil tersenyum tersipu, manis sekali.

”Namaku Lalik, musisi jalanan. Maksudku, pengamen, ya, pengamen.”

”Aku Rika, gadis rumahan, hanya keluar saat pergi ke pasar.” Rika langsung melanjutkan, ”Suaramu enak didengar.”

”Suaramu tak lebih buruk dari suaraku. Kau suka bernyanyi?”

”Terimakasih. Ya, aku suka bernyanyi, setiap hari, sebagai penghilang sedih. Ia adalah penawar perih bagiku.”

”Setiap hari? Setiap hari kau bersedih?”

Belum sempat Rika menjawab, ibunya memanggil dari kejauhan. Ia langsung menghampiri ibunya dan sesekali menoleh pada Lalik. Lalik melambai pada Rika, lalu dibalas dengan anggukan dan senyuman. Ya, senyum yang manis sekali. Tak mau buang-buang waktu, ibunya bertanya,

”Siapa laki-laki dekil tadi?”

”Lalik, Bu.”

”Nama yang tak sesuai dengan orangnya. Temanmu?”

”I-iya, Bu.”

”Jangan terlalu dekat dengan orang seperti dia, tampang gelandangan seperti itu pasti tak disukai bapakmu.”

”Tapi dia baik, Bu.”

”Ah, Rika, dari mana kau tahu dia orang baik?”

”Dari suaranya, ia begitu baik dalam bernyanyi, suaranya membawaku terbang ke perasaan penuh harapan.”

”Ah, Rika, kau sudah gila.”

”Iya, Bu, aku memang gila sejak dulu, mungkin itu alasan bapak tidak mau menyekolahkanku.”

”Rika!” bentak ibu dengan mata membelalak.

”Maaf, Bu.”

Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.

***

Sampai di rumah, bapak Rika sudah menunggu di kursi depan rumah, dengan tergopoh-gopoh bapaknya menghampiri ibu dan Rika untuk membantu membawakan belanjaan. Tidak biasanya bapak Rika sudah di rumah pagi-pagi menjelang siang seperti ini, biasanya ia pulang dari toko sore hari. Dengan wajah berseri sambil masuk ke dalam rumah, ia berkata,

”Ada kabar baik buat kita sekeluarga, Bu, buat Rika utamanya.”

Ibu Rika kebingungan, begitu juga dengan Rika. Lalu, ”kabar gembira bagaimana, Pak?”

”Ibu tahu Pak Kobus, kan?”

”Pak Kobus yang tinggal di kampung sebelah?”

”Iya, benar.”

”Yang banyak hartanya itu? tuan tanah di kampung itu? yang haji sampai tiga kali? yang punya isteri tiga?”

”Iya, benar.”

”Siapa yang tak tahu dia, Pak..pak..”

”Nah, itu, itu..”

”Itu itu bagaimana, Pak?”

”Sini-sini, duduk dulu tenang-tenang.” Mereka duduk di ruang tamu, dan bapak Rika menyampaikan berita gembiranya itu, ”tadi, dia belanja ke toko, sehabis belanja, ia mengatakan hendak menikahi Rika dengan belis yang begitu banyak, ia melamar Rika, Bu.” Rika begitu kaget mendengar itu, matanya membelalak, kepalanya menegak sebentar, lalu menunduk kembali, dan bapaknya melanjutkan, ”itu sebabnya Bapak pulang lebih awal dari biasanya. Kita akan punya menantu orang kaya, orang terpandang!”

”Sebentar sebentar, memangnya Bapak sudah menerima lamaran itu?”

”Ya belumlah, Bu. Bapak pulang untuk mengabari kalian, biar kalian tahu dulu. Nanti sore Bapak pergi ke rumah Pak Kobus untuk menyampaikan jawaban sekaligus menentukan tanggal pernikahannya. Kamu pasti mau kan, Rika?”

”Tidak, Pak, Rika tidak mau.”

”Lhoh, kenapa begitu? Kamu harus mau, Rika, kamu harus mengikuti apa perintah bapakmu!” dengan suara meninggi.

”Maafkan Rika, Pak, tapi Rika sama sekali tidak mencintai orang itu, tahu saja tidak.”

”Ahh, Rika, tahu apa kau tentang cinta? Cinta tidak bisa menghidupimu, yang bisa menghidupimu adalah harta, orang hidup itu pakai harta! Hidupmu akan terjamin kalau kau menikah dengan Pak Kobus!”

”Tidak, Bapak!” sekali dalam hidupnya Rika berkata keras pada bapaknya. ”Rika sama sekali tidak mencintainya, Rika tidak mau!”

”Membentak? Kau berani membentak bapakmu? Kau berani menyangkal bapakmu?”

”Menikah tanpa dasar cinta itu hanya akan membuat orang sengsara, Pak, Rika juga punya hak untuk memilih lelaki mana yang Rika inginkan sebagai suami.” Entah mengapa tiba-tiba Rika berani berkata demikian pada bapaknya.

”Ahh!, omong kosong!” suara itu mengiringi pukulan pada kepala Rika. Tubuh Rika terkapar, menangis ia sejadi-jadinya, namun bapaknya tak menghiraukan. Ia justru memaksa dan memaksa. Dengan kepala sekeras baja, hati nurani dan akal sehat yang tertutup kabut, bapaknya tetap memutuskan hendak ke rumah Pak Kobus untuk menerima lamaran dan menentukan hari pernikahan.

Ibunya hanya diam, tak ada pembelaan, hanya menemani Rika menangis dan tak berkata-kata sama sekali. Barangkali ia bingung harus bagaimana ia membela atau ia takut karena memang begitulah watak bapak Rika. Mungkin perlakuan semacam itu juga sering dialaminya, namun yang tahu hanyalah dia dan sang suami. O iya, satu lagi, Ia Yang Maha Tahu.

***

Pernikahan Rika sudah berjalan enam bulan. Semenjak ia dinikahi Pak Kobus, hubungan dengan keluarganya terputus atau mungkin memang sengaja diputus. Selama enam bulan itu, berat badannya selalu menurun, begitu juga kesehatannya. Pak Kobus terlalu menyepelekannya setelah dua minggu pernikahan.

Apalagi ketiga istrinya, juga selalu mendiami Rika, entah karena cemburu atau apa, tapi Pak Kobus sama sekali tidak pernah mengajak Rika jalan-jalan, lebih-lebih berbelanja barang-barang mahal. Pak Kobus akan mendekati Rika hanya ketika ia ingin bercintaya, meskipun tanpa cinta.

Rika sudah tidak betah dengan keadaannya di rumah pak Kobus. Suatu ketika, orang-orang rumah, pak Kobus dan ketiga istrinya sedang bepergian entah ke mana, Rika menemukan ide tentang kebebasan! Ya, Rika berpikir untuk kabur dari neraka berselimut surga itu.

Benar, Rika benar-benar akan pergi, pergi sejauh-jauhnya dari Pak Kobus dan istri-istrinya. Tak mungkin ia kembali ke rumah orang tuanya, ia takut akan mendapat amukan lagi dari bapaknya. Lalu ke mana ia mau pergi? Ke mana saja, ia akan mencari kedamaian dan kebebasan menurut versinya sendiri.

Saat itu juga Rika pergi dari rumah Pak Kobus, ia kemasi barang-barangnya secukupnya dan uang seadanya. Rika juga masih menyimpan perhiasan yang diberi Pak Kobus waktu menikahinya. Pikirnya perhiasan itu bisa ia jual ketika di perjalanan nanti ia kehabisan uang.

Entah ke mana tujuan Rika ia tak tahu, tapi ada satu pikiran yang menurut Rika menjadi tujuan. Lalik, ya, Lalik si pengamen gondrong itu. Diam-diam Rika menaruh hati pada lelaki itu, walau hanya bertemu satu kali Rika merasakan ada suatu kenyamanan pada lelaki itu. Entah apa, Rika pun tak tahu.

Akhirnya Rika berpikir untuk mencari Lalik, tapi ke mana ia harus mencari? Apakah ke pasar tempat mereka berjumpa kala itu? tidak tidak, kalau Rika pergi ke sana ia takut akan bertemu ibunya dan disuruh kembali ke rumah Pak Kobus atau pulang ke rumah orang tuanya. Ia akan kembali lagi pada kungkungan dan kesewenang-wenangan itu. Lalu ke mana ia harus mencari Lalik?

”Aku akan pergi ke mana saja dan aku harus menemukannya!”, kata Rika dalam hati.

Berhari-hari Rika menyusuri jalanan, sambil sesekali singgah di emperan toko ketika malam hari hendak istirahat. Ia sebenarnya mampu membayar kos, namun tak ada kosan yang mau menerimanya lantaran hamil tanpa membawa seorang suami.

Rika terus berjalan, kandungannya pun semakin membesar, bekal yang ia bawa sudah menipis, perhiasan-perhiasannya sudah ia jual semua, tinggal ada satu harta yang paling berharga baginya, yaitu makhluk kecil yang suci yang berada di dalam perutnya.

”Aku harus menyelamatkan anakku, ya, ini anakku, aku harus membebaskannya. Membebaskannya dari kungkungan yang kejam, membebaskannya dari seluruh kesewenang-wenangan, membebaskannya dari kehidupan yang kelam. Ia harus menjadi manusia bebas! Ia anakku, anakku yang akan memberontak pada kungkungan itu.”Kembali Rika berkata-kata dengan rasanya. Semangat Rika selalu bertambah ketika mengingat anaknya sambil mengelus-elus perut yang semakin membesar itu.

Suatu hari, di bawah teriknya matahari, Rika begitu lemas, bukan lemas lantaran lapar, tapi ia hendak melahirkan. Rika sudah tak kuat lagi berjalan, ia meminta tolong pada orang-orang di sekitarnya dan beberapa orang mendekat. Mereka tahu Rika hendak melahirkan, beruntung, mereka langsung membawa Rika ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, sempat terjadi penolakan karena kamar bersalin terlalu penuh, namun pada akhirnya Rika tetap diperbolehkan bersalin di rumah sakit itu. Di tempat bersalin Rika langsung ditangani, dengan sisa tenaganya yang begitu lemah, mau tidak mau Rika harus tetap melahirkan. Keringatnya bercucuran deras, tarik nafas, keluarkan nafas, ia ulang berkali-kali untuk mengumpulkan tenaganya.

Ia berusaha mengeluarkan bayinya dengan sekuat tenaga. Tak hanya keringat yang mengalir, air matanya juga ikut mengalir. Air mata perjuangan demi memerdekakan makhluk sucinya. Susah payahnya terbayar dengan suara tangis yang begitu melengking dan menggema.

Seusai dokter menyeka anaknya, diberikanlah anak itu pada Rika, bayi itu perempuan. Rika tersenyum pada anaknya, senyum kelelahan, senyum kebahagiaan, senyum kesengsaraan, semua keadaan menyatu dalam senyumnya itu, lalu ia berkata pada anaknya,

”selamat datang, anakku, selamat datang di dunia barumu. Kau akan menjadi makhluk yang bebas, yang menentukan perjalanan hidupmu sendiri. Dengarkan ibumu baik-baik, jangan biarkan orang lain merampas kebebasan dan kebahagiaanmu, jika ada, kau harus melawannya, melawan dengan tindakan, jika tak bisa, lawanlah dengan mulutmu, jika itu masih tak bisa, paling tidak kau harus melawan dengan hatimu! Jangan diamkan mereka!”, bayi itu tersenyum, Rika pun tersenyum.

Dengan senyum itulah Rika diantarkan, diantarkan pulang ke rumah Sang Kuasa, rumah kebebasannya, rumah terindahnya, rumah yang sama sekali belum pernah ia tempati, dan ia akan menempati rumah itu selamanya bersama penciptanya. Ya, inilah kebebasan versi Rika. Kegagalan cintanya tak menghalangi kebebasannya. Satu hal lagi, Rika sudah melawan, dan perlawanan akan berlanjut dengan lahirnya calon pelawan yang suci.

 

Oleh: Lalik Kongkar

Komentar

Jangan Lewatkan