oleh

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

-Cerpen-317 views

Cerita tentang guru tak berakhir. Jasa mereka tetap dikenang. Walaupun disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Siapapun yang berhasil dalam pendidikan dan kehidupan, tentu tidak lepas dari peranan guru.

Guru. Yang digugu dan ditiru. Digugu dan ditiru semua ajarannya, juga teladan hidupnya. Guru tidak hanya transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan. Tetapi juga menanamkan nilai kehidupan, pendidikan karakter. Maka murid dibentuk dalam kapasitas intelektual dan keterampilan motorik teknis, sekaligus kapasitas sosial, moral, spiritual. Semua aspek berkembang secara intergral.

Setiap murid memiliki kenangan akan gurunya. Ada kenangan manis, ada juga yang pahit. Tetapi semuanya bernilai. Karena telah membentuk karakter murid untuk menjadi pribadi yang baik.

Di setiap jenjang pendidikan, entah TK, SD, SMP, SMA atau PT, selalu ada kenangan mengenai guru. Ada banyak tipe guru. Masing-masing dengan keunggulan dan kekurangannya. Sebagai manusia tidak ada yang sempurna. Dalam keterbatasan manusiawi, mereka telah berjuang mengabdikan diri untuk pembentukan generasi masa depan yang cerdas tapi juga berkarakter.

Ada guru yang lembut, ada yang galak. Ada yang memahami, ada yang killer tak kenal kompromi. Ada yang pintar membagi ilmu, ada yang pintar tapi sulit berbagi. Ada yang menegur dengan kata-kata, ada yang menggunakan tangan atau rotan. Apapun tipe setiap guru, semuanya memiliki hati yang mencintai. Mereka mau agar murid-muridnya berkembang jadi baik.

Mengenang guru-guru adalah sebentuk ungkapan terima kasih atas jasa mereka. Tentu saja tidak semua guru yang bisa diingat dan dikenang. Tapi kenangan tertentu yang membekas, telah menunjukkan bahwa guru itu telah turut memberi andil dalam pembentukan murid menjadi manusia yang berkualitas.
Catatan kenangan ini mengetengahkan sepenggal kisah kenangan bersama para pendidik atau guru di SMP Negeri 1 Soe tahun 1983-1986. Kisah kenangan ini tercecer dalam ingatan yang masih sempat terekam.

* * *

Pada STTB SMP tertulis nama dan tanda tangan kepala sekolah. Yosef David Parera. Nama yang tetap terkenang di kalbu. Seorang kepala sekolah yang tegas dalam prinsip, halus dalam cara. Dalam setiap amanat upacara, wejangan beliau selalu berupa motivasi, baik kepada guru maupun terutama siswa untuk disiplin. Disiplin adalah kunci meraih keberhasilan dalam pendidikan maupun kehidupan.

Wakil kepala sekolah adalah Pak Manafe. Beliau mengajar PMP. Pak Manafe seorang guru yang mengajar dengan menyisipkan cerita pengalaman tertentu sebagai penjelasan atas konsep tertentu.

Pengalamannya ketika pergi ke Bali dalam sebuah pertemuan dan bertemu wisatawan mancanegara yang pakai bikini adalah sebuah cerita yang dipakai untuk menjelaskan tentang perbedaan budaya, ketika membahas budaya nusantara berbasis Pancasila.

Ibu Yuli Tafui – Boru, guru Bahasa Indonesia dan Sastra. Beliau seorang guru yang lembut tapi tegas, memahami siswa, menghargai kreativitas siswa, dan rajin memotivasi siswa untuk maju. Di bidang sastra, cara mengajarnya membangkitkan minat siswa untuk mencintai sastra.

Pak Ar Tlonaen seorang guru yang disiplin, tegas, tidak kompromi. Banyak siswa menganggap dia guru killer. Beliau mengajar IPS. Salah satu tugas yang pernah diberikan adalah mendengarkan berita RPD Soe, mencatat isi berita dan istilah yang tidak dimengerti. Di kelas, tiap siswa melaporkan hasil mendengarkan berita. Istilah yang tidak dimengerti akan dijelaskan. Dengan demikian kosa kata kian bertambah. Beberapa siswa yang nakal tentu punya kenangan pahit dengan beliau. Kena tempeleng itu barang biasa.

Ibu Sel Duka – Manafe, guru Biologi. Penanggung jawab laboratorium IPA. Setiap pelajaran yang butuh praktek IPA, sudah pasti berurusan dengan beliau. Orangnya tegas, disiplin, lurus, kontan bicara di depan. Banyak siswa yang segan padanya. Saat praktek Biologi, yang paling menyenangkan adalah menggunakan mikroskop untuk meneliti mikroba. Menakjubkan. Beberapa siswa terinspirasi untuk kelak belajar Biologi juga.

Pak Amos Hila Kore, guru Biologi juga. Beliau walikelas yang akrab dengan siswa-siswi walinya. Orangnya rapi, bersih, tertib, disiplin, tegas. Dalam mengajar dan membimbing siswa, beliau selalu memberi motivasi dan nasihat untuk tekun belajar demi masa depan.

Ibu Kase, guru Fisika. Beliau seorang guru yang penuh keibuan. Tegas tetapi lembut memperhatikan kemajuan siswa. Fisika termasuk ilmu yang berat untuk sebagian siswa. Beliau akan berusaha dengan perlahan tapi pasti untuk membantu siswa mengerti materi.

Pak Tunu, guru PMP. Beliau orang yang ramah, sopan, rendah hati, memahami siswa, menegur yang nakal dengan lembut. Sungguh, apa yang diajarkannya itulah yang dihayatinya juga. Yaitu nilai-nilai moral Pancasila.

Pak Fanggidae, guru Matematika. Beliau selalu pikul tas besar berisi banyak buku saat datang mengajar di kelas. Orangnya tinggi, besar, selalu rapi. Kata-kata ikon yang terkenal dan selalu diingat siswa setiap generasi adalah “nul kali nul sama dengan nul”.

Pak Keraf juga guru Matematika. Beliau mengajar dengan baik dan cermat. Orangnya tegas, disiplin, pintar mengajar, cepat emosi dan suka toki kepala siswa kalau nakal atau lamban. Teman Yoka Asbanu pernah dapat toki dari beliau.

Pak Beny Lakapu, guru bahas Inggris. Beliau orang yang selalu senyum ceria, humoris, suka bikin lucu, termasuk saat mengajar. Bahasa Inggris menjadi mudah dimengerti. Beliau jarang marah siswa. Kalaupun menegur, selalu terselip humor sarkastik, dengan maksud menyadarkan siswa tersebut.

Pak Tanelap, guru bahasa Inggris juga. Ikon terkenal kreasi beliau adalah percakapan guru dan murid di awal pembelajaran. “Good morning, Boys and Girls.” Dijawab oleh siswa, “Good morning, Sir.” Dan seterusnya. Siswa diajar sampai mampu menerjemahkan cerita dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Pak Mias Oematan, guru olah raga. Beliau terkenal sebagai guru yang jahat, killer, pakai otot dalam menghukum. Banyak siswa takut padanya. Banyak siswa nakal yang pernah berhadapan dengan beliau pasti punya kenangan mendapat tempeleng. Tapi di bawah bimbingannya prestasi olah raga sekolah dalam aneka kompetisi diraih.

Pak Teguh Rahayu Purnomo. Guru Prakarya atau Keterampilan. Orang Jawa tulen. Makanya halus, lembut, tak pernah marah, tidak pernah menghukum siswa. Senakal apapun siswa, beliau tetap sabar menghadapi. Nasihat dan motivasi selalu diberikan dengan lemah lembut.
Ibu Wenyi, guru kesenian. Beliau selalu tampil modis dan rapi. Tapi terkadang tampil galak kalau siswa terlalu banyak main gila atau nakal.

Pak Tanaem, guru Fisika. Penampilan kalem, suka merokok, bersuara bas lantaran pengaruh rokok. Beliau jarang marah, tetapi sekali emosi, siswa gemetar. Kalau mengajar suka tunduk dengan posisi berdiri, agak membungkuk dan tangan memegang sisi meja sekalian menopang tubuh.

Sesekali angkat kepala dan keker siswa yang tidak memperhatikan pelajaran.
Ibu Matoneng, guru PKK. Selalu bikin praktek. Beliau ajar menggambar dan menggunting pola untuk menjahit baju. Praktek memasak adalah bikin kue bolu. Per kelompok. Besoknya dibawa ke sekolah dan dinilai. Lalu kue dimakan bersama dan dibagi juga ke kepala sekolah dan para guru serta pegawai.

Ibu Lusi Ndaong, guru Pendidikan Jasa. Para siswa diajar bikin pembukuan sederhana. Catatan keuangan. Pendapatan, pengeluaran dan saldo. Keterampilan manajemen keuangan sederhana ini ternyata membekas dan berguna di kemudian hari.

Masih ada guru tertentu lainnya yang tidak sempat ditulis dalam kenangan ini, karena memori terbatas. Meski demikian mereka juga telah memainkan peranannya yang luar biasa. Ada Pak Sebatu, Pak Wora, Ibu Luik, Ibu Milka, Pak Eben, Pak Dama. Masing-masing telah memberi andil dengan caranya untuk membentuk para siswa angkatan 1984-1986 dalam proses pendidikan.

* * *

Itulah sekelumit kisah singkat masing-masing guru yang sempat diingat. Bagaimanapun mereka telah berjasa dalam proses pembentukan diri para siswa menjadi manusia integral dalam segala aspek. Benih kebaikan telah mereka tanam pada masanya. Dan buahnya telah dipetik pada masa kini.

Terima kasih rasanya tidak cukup untuk para guru nan mulia ini. Terlalu banyak hal baik yang telah mereka berikan. Syukur dan pujian kepada Tuhan yang telah menganugerahkan mereka kepada para siswa didikan mereka. Para guru ini adalah anugerah istimewa. Tuhan membalas dharma bakti mereka dengan rahmat berlimpah. Amin.

Kupang, 3 Mei 2021

Sehari setelah Hardiknas, untuk mengenang para guru SMP Negeri 1 Soe tahun 1984 – 1986. Para pahlawan tanpa tanda jasa.

 

Oleh: Prim Nakfatu
Salah satu alumni 1986

Komentar

Jangan Lewatkan