oleh

Panggung Mati

-Cerpen-313 views

Panggung sudah menjadi kebiasaan kami sebagai mahasiswa dan sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia.

Saya pernah bertanya kepada sunyi dalam debar hati yang tak mampu dinamakan. Isyarat yang tak bisa dikatakan. Bahasa yang tak bisa diucapkan. Berkali-kali mencoba dan gagal akhirnya sampai pada tujuan akhir adalah pisah.

Saya pernah memberi kesempatan kepada cinta dalam ruang dan waktu untuk memasuki setengah dari bagian diri saya. Dan saya lupa belajar bagaimana mencintai cinta? Sedang orang pernah bilang cinta itu puisi. Apakah mungkin cinta itu imajinasi? Bisa jadi.

Dan hari ini, kau mengajak saya untuk berkelahi dengan panggung.

“Hans. Hans, seandainya kau bertanya betapa rapuhnya saya di hadapan panggung, tak mungkin serapuhnya saya di hadapan seorang gadis. Panggung itu berkali-kali saya lucuti tubuhnya, bercinta dengan nafsu, dan mengakhirinya dengan birahi yang tak kenal puas. Makin nikmat, ia makin buas. Sampai-sampai panggung pun tak bisa mengelak dari caraku memandangnya,” ucapku sambil menepuk pundak Hans.

“Gigs, maksudku hanya ingin bertanya, bagaimana mungkin kau bisa menguasai panggung dalam sekejap naskah yang rumpang-rampung belum benar-benar clear ditulis itu? Sudah kukatakan kepadamu, Hans, kalau panggung itu tak bisa mengelak dari caraku menatapnya,” jawabku kemudian.

***

Pagi itu, hujan sedang remai menyirami tanaman-tanaman bumi dan ibu bumi sedang melebur dalam kemesraan yang damai. Membasahi kerongkongan yang telah gersang berhari-hari lamanya. Membiarkan kekasihnya lebur kembali dalam hasrat untuk perjumpaan yang telah lama dibatasi oleh terik dan gumpalan awan di langit.

Ibuku baru saja berkata kepadaku, “Gigs, bukannya sebentar malam ada panggungmu di bioskop kota kita?”

“Iya, Bu,” jawabku.

“Lalu, kamu mau pergi ke mana sekarang? Sedang di luar sana ibu langit sedang bercinta dalam gaduh dengan ibu bumi. Bukannya kau harus beristirahat dan menyiapkan segala keperluan untuk panggungmu sebentar malam?”

“Oh iya, Bu, aku hanya ingin mengunjungi bioskop. Sekadar memastikan tempat dan alur untuk panggungku sebentar malam. Setelah itu, pasti aku pulang,” sambungku.

Ibuku diam. Mengamati diriku dengan tatapan yang resah. Ada beribu bahasa yang tak bisa diucapkan. Memberi isyarat tapi tak bisa kubacakan dengan baik. Ada doa yang tak terucap namun hadir dalam perjalananku. Mungkin saja, batinku.

“Gigs, mending tunggu hujan redah baru kamu berangkat,” ucap ibuku.

“Ah, Ibu, kan sudah kubilang, aku tidak akan lama-lama. Setelah itu aku pasti pulang. Toh, hujan di luar tidak ada tanda-tanda akan redah. Malah hanya menampakkan intensitas curah hujan yang makin tinggi,” jawabku menyanggah saran ibu.

“Tapi, Nak, ibu takut kamu sakit saja,” sambung ibuku.

“Tidak apa-apa, Bu, kan aku gunakan mantel untuk menjaga tubuh dan menghindari diri dari hujan di laur sana,” kataku meyakinkan ibu, agar tak harus khawatir pada anak semata wayangnya ini.

Ibu mengenal aku. Ia tahu dengan perkataanku. Dan ia tahu jika aku mengatakan “tidak” maka “tidak.” Jika “Ya” maka “Ya”.

Meskipun demikian, aku sempat melihat wajah ibu yang sedikit berbeda dari biasanya. Wajahnya yang tampak makin tua itu penuh dengan ketakutan. Banyak pikiran yang menggerogoti hati dan pikirannya.

“Apa mungkin ibu begitu cemas? Ah, namanya seorang ibu pasti selalu saja ada alasan untuk mencemaskan anak-anaknya,” ungkapku sembrono.

Meskipun demikian, di dalam matanya yang bening itu, ada isyarat yang tak bisa kubacakan dengan baik. Ibu hanya memberi isyarat tanpa membahasakannya dengan baik. Tinggal aura cemas dan kekhawatiran menjadi bahasa ideal dalam tubuhnya.

“Bu, aku akan pulang secepat mungkin. Selepas usai menata panggung dan alur panggungku untuk sebentar malam, aku janji aku langsung pulang. Ibu tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja,” kataku meyakinkan ibu.

Ketika tubuhku pergi meninggalkan halaman rumah, membelah hujan yang makin besar dan menerobos genangan-genangan kenangan hasil percintaan ibu langit dan ibu bumi. Di rumah, anjing peliharaanku meraung-raung dan menggonggong tak karuan. Memanggilku berkali-kali. Dan aku tak gubris. Bukan karena inginku. Lebih tepatnya, gendang telingaku telah akrab dengan nyanyian hujan yang begitu memekakkan telinga.

Di rumah, ibuku membaca doa dengan khawatir. Sesekali mendekatkan diri di depan kaca jendela. Menatap-menanti agar aku pulang.

Ibuku mondar-mandir di ruang tamu rumah kami. Bahkan di tengah gaduh seng rumah yang berbenturan—menolak hujan yang begitu deras, ibuku tetap memasang telinganya pada bunyi khas motor buntut peninggalan ayahku. Sudah tak terhitung lagi untuk kesekian kalinya lagi dan lagi ibuku membuka gorden jendela dan menatap keluar mengamati satu per satu tetesan hujan yang jatuh sambil memupuk harap agar aku pulang.

Sedang, di tengah perjalananku menuju bioskop kota, kulihat tak ada satu pun kendaraan roda dua maupun empat yang berkeliaran hilir-mudik. Tinggal aku satu-satunya yang ramai menari di bawah nyanyian basah seorang ibu langit.

Dari atas motorku, kulihat di halte-halte sepanjang kampung ada sepasang kekasih muda yang sedang mengatapkan tubuh mereka, pun ada sepasang suami-istri yang dengan tenangnya membaca doa: agar hujan lekas redah.

Sambil, rumah-rumah sepanjang jalan mataku, tak ada satu pun yang berani membiarkan jendela dan kain gordennya terbuka, pun pintu-pintu rumahnya. Kubayangkan sepasang pengantin baru mampu menikmati hujan ini sebagai bagian dari bulan madu. Mungkin juga, sepasang suami-istri tua beserta anak-anak mereka menjambangi tubuh mereka masing-masing di depan tungku dengan paras tubuh yang saling menggigil—memanggil hangat.

Ada dingin yang begitu mencekam. Ada pula tubuh yang menggigil panjang.

Di pertengahan jalan menuju bioskop kota, hujan belum juga akrab dengan tubuhku. Satu per satu jemariku mulai rapuh—kaku ditelan dingin yang makin merebut raya nyamanku di atas motor buntut ini.

“Dalam hitungan kurang dari 15 menit dengan perkiraan tikungan yang tertinggal 3-5 belokan, kujumpai bangunan bioskop itu dan sebentar lagi, aku tiba,” kataku menguatkan diri sendiri.

Ketika asyik berbicara dengan diri sendiri, aku teringat pada ucapan Hans. Pikiranku mulai terprovokasi untuk mengenang kembali percakapan demi percakapan kami.

Hans adalah sehabat masa merah putihku dulu. Bisa dikatakan, saat di merah putih, roda juara satu dan dua umum hanya bisa diperkirakan pada dua kemungkinan. Kalau bukan saya, maka Hans, dan sebaliknya.

Kami berpisah sejak SMP hingga Perguruan Tinggi. Hans mengakhiri Sarjana Akuntansi Perbankan pada salah satu Universitas di Jakarta. Yang hingga saat ini, hanya bisa kukenal dengan menyebutnya sebagai kota Metropolitan. Sedangkan aku, aku menyelesaikan program S1-ku di fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia pada salah satu Universitas Swasta di ibu kota provinsi kami.

Dan untuk kesekian tahun yang memisahkan kami antara ruang dan waktu akhirnya jarak itu terhubung dengan perjumpaan tak terduga dalam sebuah pertemuan sebulan yang lalu pada agenda pertemuan Membuka Malam Hiburan di kota. Salah satu agenda pertemuannya adalah mengenai panggung.

Dalam percakapan kerinduan itu, kami berdua saling membahas satu per satu masa-masa kecil hingga berbagai hal menarik seputar perkuliahan kami. Hingga akhirnya ia menanyakan tentang berbagai pendengarannya mengenai diriku di atas panggung.

“Gigs, kok bisa kamu begitu mencintai panggung?” tanyanya dalam percakapan itu.

“Hans, sahabatku. Sederhananya demikian, aku adalah mahasiswa sekaligus sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia. Dengan demikian, dunia panggung merupakan dunia keterampilanku, bukan?”

Jadi panggung sudah menjadi kebiasaan kami sebagai mahasiswa dan sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia.

“Begitu pun sebaliknya dengan kamu, Hans. Mengapa kau pandai sekali membaca setiap kemungkinan dari perhintungan laba pun defisit sebuah pertumbuhan dan perkembangan ekonomi mikro dan makro?”

Mungkin saja jawabannya bisa sama dengan jawabanku. Hanya saja dibedakan pada situasi dan konteks.

***

Ada tangisan pecah di dalam rumahku. Hujan barangkali telah redah dua atau tiga jam yang lalu. Dan aku masih basah kuyup.

Di depan rumah, ada panggung dengan bendera-bendera kecil. Di ruas jalan sepanjang rumahku, ada tanda. Tanda yang mengisyaratkan untuk diam dan memperlambat kendaraan roda dua maupun empat yang hilir-mudik. Ada nyanyian merdu, dengan lagu kesedihan yang panjang.

Orang-orang kompleksku mulai sibuk mengatur kursi di sekitar panggung depan rumah kami. Lainnya lagi, orang-orang tua pun muda sedang mengalih tanah di samping rumah kami, tepat di samping makam ayahku. Ada tanggisan yang memanggil-meraung, yang lain ada yang membacakan doa, menyanyikan lagu kesedihan. Apa gerangan yang terjadi?

Aku berlari, menerobos kerumunan para tetangga yang hilir-mudik di depan rumah kami. Kudengar suara ibuku yang merontah dan memanggil namaku berulang-ulang kali. Di depan pintu rumah, aku lihat ada peti yang disemayamkan di tengah-tengah ibu, tanta-tanta juga om-omku.

“Bu, aku di sini. Ini aku, Bu.”

Aku mendekatkan tubuhku kepada ibu. Menyentuhnya tanpa mendapatkan respons balik. Kubuat gaduh tanpa ada respect balik.

Kulihat Hans ada di samping peti itu dengan air mata yang belum usai. Kulihat di sampingnya ada Rian sutradara naskahku. Kulihat ada Yun penyusun Skenario alur panggungku.

“Hei, apa yang kalian tanggisi. Aku di sini. Aku baik-baik saja. Bukankah sebentar malam kita akan berpanggung di bioskop kota? Hans, hei, aku di sini. Aku baik-baik saja.” Berbagai ucapanku tak ada satu pun yang merespons.

***

Malam itu, seorang anak perempuan yang begitu terampil berdiri di atas panggung dengan berpanggungkan naskah yang berjudul Panggung Mati. Dengan meninggalkan tanya di atas jalan panjang, ia mengucapkan, “Selamat jalan, Gigs, lelaki dalam kenangan naskahku. Pergilah dengan damai. Kami selalu mendoakanmu.”

 

Oleh: Chan Setu / Mahasiswa STFK Ledalero Maumere, Kelahiran Detusoko, 29 April 1998, Aktif menulis di beberapa media online dan lokal

 

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar