oleh

Pecahan Kaca

-Cerpen-214 views

Laboratorium IPA terletak persis di tengah komplek sekolah. Jam pelajaran Biologi sesekali berlangsung di laboratorium. Ada bagian tertentu dari materi yang harus dijelaskan dengan praktik.

Hari itu mata pelajaran Biologi. Ibu Duka telah berpesan untuk praktikum di laboratorium. Segala persiapan telah dilakukan. Semua siswa kelas II A memasuki laboratorium dengan antusias. Tapi juga was-was.

Ibu Duka yang tertib, disiplin, lurus tanpa basa basi langsung mengawasi dan mengarahkan siswa untuk duduk dengan tertib. Di depan mereka masing-masing ada mikroskop.

“Selamat pagi, Anak-anak!”
“Selamat pagi, Ibu!”

“Hari ini kita praktik Biologi. Kita akan menggunakan mikroskop untuk meneliti sel tumbuhan. Sebelum menggunakan mikroskop ini, perlu saya tegaskan bahwa alat ini mahal harganya. Jadi kita gunakan dengan hati-hati supaya jangan rusak. Bisa?”

“Bisa, Ibu!”

“Baik. Saya jelaskan penggunaan mikroskop. Sesudah itu tiap orang praktik dengan daun hijau yang dibawa masing-masing. Jangan lupa gambar dan bandingkan dengan yang ada di dalam buku pelajaran.”

Ibu Duka menjelaskan detil penggunaan mikroskop. Semua sunyi memperhatikan. Yang nakal dan suka usilpun konsentrasi mendengarkan. Lupa pada pikiran usil. Ada juga rasa segan karena ibu Duka dikenal sebagai guru yang galak, disiplin, bicara lurus, tidak basa basi. Tak ada yang mau kena semprot di ruang laboratorium.

Satu persatu mulai meneliti di bawah bimbingan ibu guru. Semua hanyut dalam keasyikan meneliti dan takjub melihat isi dalam sepotong daun hijau.

Di barisan belakang, Sandro tak sengaja memecahkan kaca tipis penutup objek teliti. Ia memandang ke kanan kiri, berharap tak ada yang melihat. Tapi sepasang mata persis melihat kejadian itu. Keringat dingin mengalir di dahinya. Ia melengos dan mengambil pecahan kaca itu. Buru-buru dimasukkan ke dalam saku celananya. Sepasang mata tadi melihat dengan ekor matanya sambil pura-pura konsentrasi pada mikroskop.

“Sandro, belum berhasil?”
Sandro gelagapan. Ibu Duka telah di sampingnya. Keringat dingin semakin mengalir. Ia benar-benar gugup.

“Belum, Ibu,” jawabnya gemetar.
“Kesulitannya di mana?”
“Saya tidak tahu pasang, Ibu.”

Ibu Duka memeriksa. Ada yang kurang. Ia membuka lemari di belakang dan mengambil kaca baru.

“Pasanglah. Lalu teliti dan gambar.”
Sandro bersyukur. Ia tak peduli lagi pada sepasang mata tadi. Dengan konsentrasi ia memasang mikroskop dan mulai meneliti. Apa yang dilihatnya membuat ia takjub. Gambar itu terbentuk di benaknya. Lalu dialihkan di buku catatannya. Gambar yang dengan apa yang ada di buku pelajaran. Ia tersenyum. Lalu menoleh.

Sepasang mata tadi persis memandangnya. Sandro segera main mata dan tersenyum. Senyumnya dibalas senyum. Rahasianya akan aman. Ia yakin.

Selesai praktikum, semua kembali ke kelas. Tak ada cerita antara keduanya, sampai jam sekolah selesai.

Dalam perjalan pulang, Sandro mendekati sepasang mata tadi di ruang laboratorium.

“Saya tadi melakukan kesalahan. Harap jangan beritau Ibu Duka, e?”

“Jangan kuatir. Saya akan simpan rahasia ini.”

“Terima kasih. Saya tadi gugup sampai gemetar dan keringat dingin.”

“Ya, saya pas angkat mata dan melihat kejadian itu.” Ia tersenyum. Sandro pun tersenyum.

Keduanya kemudian sama-sama berminat pada Biologi. Sandro berjanji akan tekun mempelajari Biologi. Sepasang mata itupun berniat yang sama. Keduanya saling membantu dalam pelajaran Biologi dan menjadi mahir dalam praktikum di laboratorium. Ibu Duka senang karena nilai Biologi keduanya tertinggi di kelas.

Sampai tamat, rahasia pecahan kaca itu tersimpan rapi di hati. Pecahan kaca itu adalah momen awal persahabatan mereka. Juga titik awal prestasi mereka di bidang Biologi. Ibu Duka tak pernah tahu tentang peristiwa ini. Juga teman-teman lainnya. Hanya Sandro dan sepasang mata yang merekam peristiwa itu.

Puluhan tahun kemudian, Sandro menceritakan peristiwa itu di grup alumni. Teman-temannya bertanya, “Siapa sepasang mata itu?”

“Pecahan kaca itu telah menentukan nasibnya,” jawab Sandro sambil senyum sendiri.

“Maksudmu?” tanya Nike si detektif.
“Dia menjadi guru. Guru Biologi.”

Grup menjadi gempar. Sandro menutup HP lalu tidur. Bermimpi tentang sepasang mata, yang entah sekarang berada di mana.

Keesokan harinya ia membuka HP. Ada 412 pesan.

“Adoooh, mati aku.” Ia menepuk jidatnya dan berlalu ke kamar mandi. Hari ini adalah hari penjelasan. Dan ia telah siap dengan hati riang gembira. Hati yang tidak pernah tergores oleh pecahan kaca di ruang laboratorium.

Tamat

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan