oleh

Pilu Merayu dengan Sayu

-Cerpen-219 views

Semesta melukis luka di balik senja yang kian menyala. Merona seperti api yang sedang mengobari ujung bumi. Sinarnya merasuk pelan di rongga kulit, mencipta besit.

Kopi menemani sore dengan aroma yang khas. Bersama sepoi yang gugurkan helai ringin secara halus mengakas. Pas, melengkapi paras Marten yang selalu macak tak ada apa-apa.

Tak terasa, langit kian menggelap dan angin kian mencepat. Hembusan angin malam itu mulai menggelitik tipis di tubuh Marten yang sedang asyik mengutik kata.

Menebar haru di batas buku. Pena Marten terus melaju, merangkum asa yang kian membayu. Ingatan suara merdu telah berubah menjadi bisu. Menggondel semangat baru untuk tidur berselimut rindu.

Sesekali ia sruput tipis-tipis kopi itu dengan pejaman sayu. Hmmmm …. Begitu nikmat, sang bayu pekat.

Kebiasaan menulis segala hal selalu ia goreskan di atas meja kayu belakang rumah. Beberapa tulisan sudah Marten torehkan di tempat itu. Baik sajak maupun prosa. Berasal dari fakta yang dikemas secara sastra. Hanya di tempat itu, imajinya dapat mengalir tanpa sendatan. Tak heran, walau tampak tua meja itu masih saja menjadi tempat semayam utama.

Menepis godaan dunia, Marten masih saja fokus dikebiasaan lamanya. Di atas meja tua. Menyendiri, mengintrover diri secara paksa demi tulisan yang tak menjamin apa-apa. Ia hanya merasa nyaman, ,merasa ditakdirkan untuk bersahabat dengan tulisan.

***

Sore itu, Marten menangis di atas kertas,. Coretannya tak seperti biasanya. Beberapa kali ia tersandung kata. Serasa aneh, merasa seperti bukan menjadi dirinya.

Masih terdengar tegas di awang-gemawang. Langkah kaki pertinggal dari seorang yang selalu digadang. Dulu teman berbincang, kini telah menghilang. Cintanya pun berkubang, tercincang-cincang.

Kesadaran akan keadaan, memaksanya melepas semua beban. Namun lagi-lagi, bayangan itu merayu-rayu dan terus menmderu tak mau lalu.

Muak dengan diri sendiri. Memaksa kaki untuk pergi tinggalkan meja dan kopi meninggalkan tulisan rumpang yang masih mengambang tertahan beban.

Kepul cangkir kopi itupun semakin tipis, tersingkir oleh hawa petang di bawah cahaya lintang. Tipis tak berarti taka ada, karena masih sempat mengintip sipit tinggalkan Marten di atas meja.

***

Marten pun menuliskan puisi.yang syarat akan makna.

 

Senyummu kelabu

Merambati lorong waktu

Merasuk ke relung kalbu

Indahmu melayu

Hanyut di sungai rindu

Tenggelam di palung candu

Surgaku melaju

Timggalkanku dalam cemburu

Merayu, dan perlahan mengabu

 

Oleh: Lalik Kongkar

Komentar

Jangan Lewatkan