oleh

Politisi Muda

-Cerpen-335 views

Politisi muda itu terlihat suntuk, setelah seharian sibuk berdebat mempertahankan pembenaran membela tokoh yang didukung partainya. Mau tak mau dia pun harus ikut memuja sang tokoh meski hati dan akalnya tak begitu menerima.

Tapi itulah risiko yang harus diambil ketika memutuskan menjadi politisi. Menjadi seseorang yang sibuk mencari pembenaran demi kepentingan partai yang tentu saja ada kepentingan pribadi di dalamnya.

Awalnya politisi muda ini menemukan kebanggaan ketika berhasil menjadi seorang politisi. Dia begitu menikmati benturan konflik dalam ruang demokrasi. Membangun opini publik, melempar isu, berdebat, melobi, dan mencari kekurangan lawan, yang terakhir ini sangat mudah dilakukannya. Sekadar menunggu berita negatif, lantas menyebarkannya dan menggorengnya dengan berbagai argumen pembenaran yang tak membutuhkan mengisi otak dengan banyak baca buku.

Tapi setelah beberapa kabar negatif yang disebar dan digorengnya ternyata tidak benar, membuat nuraninya bergolak juga. Di sini dia menyadari lebih kejamnya fitnah daripada pembunuhan. Orang yang dituduh telah rusak nama baiknya dan tak akan pulih hanya sekadar kata maaf apalagi sekadar menghapus postingan.

Lalu malam ini politisi muda itu tak ingin membuka media sosial. Dia ingin jalan-jalan sendiri mengitari kota, melewati jalan-jalan yang dulu pernah dilewati dengan berjalan kaki atau naik angkot. Kini mobil mewah dia kemudikan sendiri ditemani tembang lawas Iwan Fals, 22 Januari.

Ketika melintasi jembatan di atas sungai Citarum, politisi muda itu mendadak menginjak rem. Dia melihat ada seorang perempuan yang hendak melompat ke sungai. Bergegas dia turun dan menarik lengannya. Perempuan itu meronta sambil meratap, politisi muda berusaha menenangkan dan memeluknya. Setelah reda, politisi muda itu mengajaknya masuk mobil.

“Apa yang membuatmu ingin mengakhiri hidup?”

“Saya seorang pelacur, merasa bosan hidup terus-terusan mengangkang!”

Politisi muda diam sejenak, dia tak ingin melanjutkan pertanyaan.

“Sekarang mampir dulu ke rumah saya, besok pagi saya antar Mbak pulang, masalah Mbak akan saya bantu selesaikan!” ungkapnya perlahan.

*****

Pintu rumah politisi muda itu diketuk dengan kasar. Suara teriakan minta dibukakan pintu terdengar mengancam.

Tak lama berselang dia membukakan pintu, disambut kilatan cahaya kamera dan hujaman pertanyaan. Mereka mempertanyakan kehadiran perempuan yang sedang ada di dalam. Dia berusaha menjelaskan kronologi dengan tenang. Tapi tetap saja teriakan tuduhan sudah berbuat mesum terdengar.

Lalu berhari-hari tuduhan itu digoreng penuh cibiran. Terlebih foto perempuan itu di IG dan Facebooknya tampak vulgar. Maka meskipun perempuan itu membantu meluruskan tetap saja yang didapat cibiran. Karena Mereka tidak sedang mencari kebenaran, mereka hanya ingin politisi muda itu tenggelam karier politiknya.

 

Oleh: Wahyu Arshaka

Komentar

Jangan Lewatkan