oleh

Puella Bukit Manuk

-Cerpen-168 views

Aku tahu kau selalu menungguku. Di bukit ayam yang mereka namakan, kau seperti tertanam dengan rona biasa yang selalu aku lihat ketika kita melepas rindu di lepas pantai bertebing terjal itu. Kau memang sangat cantik, ibuku juga mengakuinya. Seakan aku dan ibu berlomba mendapatkan hatimu.

Kita tak pernah bertemu waktu malam hari. Kata orang kampung, haram untuk melakukan itu. Entah kenapa, tetapi siang atau malam toh kejahatan tak pernah kenal waktu. Mereka datang bagai udara, menyerodok dan memeluk kita masing-masing.

Dengan terusan birumu itu kau tak pernah menutup tanganmu sewaktu berbicara denganku, seakan bersiap menamparku atas dosa rindu yang kuletakan pada hatimu. Aku tahu itu. Kemudian kau dan aku tak akan berbicara sebelum aku menandai dahi, dada dan bahuku. Kau sama halnya patung jika aku tak melakukan itu.

Kau selalu dengan tatapan kosongmu, mungkin menghitung ombak di pantai seberang. Sama halnya ketika rindu menemukan temu, kau tahu aku akan bercerita lebih banyak dan mendominasi percakapan dengan sentuhan perasaan yang berbeda. Kau akan terlihat sedikit tersenyum dengan mancung hidungmu.

Kulitmu bukan kuning langsat tetapi putih pucat, menandakan kau adalah seseorang yang bukan datang dari Nian Tana. Kemudian mengemis pada mataku agar tak berpaling dan memang tak akan demikan. Kau akan mendengarkan dengan tatapan kosong menggandakan makna antara marah dan rindu. Tak tahukah kamu kalau dirimu selalu ada pada pojok doa dan ujung doa-doaku.

Mereka yang tak tahu mungkin menganggapku gila karena melakukan itu. Mereka memang tidak percaya. Di antara mereka ada yang pernah engkau kecewakan sehingga demikan bencinya mereka pada dirimu. Entah apa yang mereka minta sampai tak bisa kau berikan.

Maaf aku tak biasa berbicara sampai titik ini. Kau selalu dengan tatapan kosongmu mengusir kedatanganku dan memanggil kepulanganku. Sorot matamu tak akan mempedulikan kedatanganku apalagi kepergianku bahkan sekalipun untuk melirik itu adalah suatu kebetulan yang sangat jarang terjadi. Itu kau lakukan hanya beberapa kali saja.

Tak terhitung jari sekalipun ruas-ruasnya. Dari itu kuambil dua kesimpulan bahwa kedatanganku memang kau rindukan dan kepulanganku ke seminari kau harapkan. Kemudian kita akan berbicara aku akan selalu memujimu, itu rumusan yang baku. Tak dapat diubah. Ceritaku mungkin sudah busuk di telingamu namun kau selalu saja mau mendengarkan.

“Bapa sedang bangkrut dan ekonomi keluarga kami pasti kau tahu. Aku menyesali keputusan masuk seminari”, Selahku di antara cakap kita. Ketika itu matahari sedang menyilaukan mata kita, jatuh bersama kau dan kita.

Kita tak terbiasa tersenyum. Kita juga jarang chatting seperti yang teman-temanku lakukan menjadikan mereka generasi berlabel 24/7. Kita memiliki hubungan yang telah terajut beraus-ratus tahun lalu. Sederhana, seakan tak dijodohkan namun dipertemukan.

Pada akhir pertemuan kita aku selalu berharap kau selalu ada di sampingku. Ya khususnya pada saat ajal mengetuk kehidupanku. Aku lebih senang kau dengan terusan biru itu karena aku senang yang agak kontras. Biru akan lebih mantap jika disandingkan dengan putih. Itu yang kau lihat setiap kita bertemu. Bahwa di ujung laut biru ada ombak putih kecil.

 

Hewa, 15 Juni 2021
Bukit Manuk

Ole: Chavin Pani

Penulis lahir di Kupang, 12 Juli 2003
Kini Menempuh Pendidikan di SMAS Seminari San Dominggo, Hokeng-Flores.

 

Sumber: cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan