oleh

Putih Biru Si Kepang Dua

-Cerpen-347 views

Namanya Agnes. Hitam manis berambut panjang. Rambutnya hitam berkilat dan selalu dikepang dua. Ciri khas tak tergantikan.

Di sekolah dia tidak pernah kena hukuman karena terlambat. Sebab rumahnya berhadapan dengan sekolah. Jalan Ki Hajar Dewantoro. Jalan yang didedikasikan kepada pahlawan pendidikan. Di jalan “pendidikan” inilah, terletak lembaga pendidikan terkenal di kota Soe. SMP Negeri 1 Soe.

Agnes juga mengidolakan tokoh pendidikan itu. Ia hafal semua pahlawan. Di bidang sejarah, dia jagoannya. Teman sekelas mengakuinya. Ia pelajar yang tekun dan serius. Makanya selalu masuk dalam jajaran lima besar kelas.

Di depan rumahnya, setiap hari Senin pagi, ia melihat temannya yang berasal dari Kapan, turun dari motor trail Yamaha, diantar bapaknya. Ia kenal baik temannya itu. Prim namanya. Sewaktu kelas 2 mereka sekelas dan tetangga meja. Kadang-kadang kalau ia ke Kapan, mampir di rumah temannya itu. Ia paling suka makan kue buatan mama Prim. Enak sekali.

Kelas 3 tahun 1985/1986. Dia ditunjuk wali kelas, Pak Ar Tlonaen sebagai ketua kelas. Tak terbayangkan olehnya. Dan tak bisa menolak. Hanya bisa katakan siap dan laksanakan tugas. Tapi ia sudah membayangkan kesulitan yang akan terjadi. Ia sadar akan perawakannya yang mungil. Lalu sebagai perempuan. Harus berhadapan dengan teman-teman sekelas yang rata-rata bertubuh bongsor. Apalagi yang laki-laki.

Selain besar perawakan mereka, terkenal juga kenakalannya. Suka usil, bikin kegaduhan, berkelahi, bolos. Agnes hafal persis mereka semua yang nakal di kelasnya. Ada Filo, William, Ferdy, Sony, Tutu.

Suatu hari absen di kelas hilang. Agnes bingung. Sudah dicari ke mana-mana tapi nihil. Tak ada jejak. Seperti siluman. Terpaksa ia ke kantor dan meminta daftar absen yang baru.

“Jaga baik-baik, ya. Jangan sampai hilang lagi.”

“Iya, Ibu. Terima kasih. Saya permisi.”

Saat mengisi ulang daftar itu, lima sekawan tukang bolos itu datang dan mengancam dia untuk isi semuanya hadir.

“Isi kami punya semua hadir!” perintah Sony, yang didukung keempat temannya.

“Awas, kalau isi kami alpa. Tau, to?” ancam Ferdy.

Agnes mengiyakan saja dan mengisi absen sesuai permintaan mereka. Tak ada gunanya berdebat dengan mereka. Habis waktu, habis energi, hasilnya nol kaboak.

Yang pasti ia mengerti sekarang, kenapa absen hilang. Ia ingat, selama dua minggu ini kelima temannya ini bolos beberapa kali terutama jam pelajaran PMP.

Pak Tunu, guru PMP, biasanya tidak terlalu memperhatikan siswa yang hadir. Beliau orang yang lemah lembut dan pengertian. Tidak pernah membentak siswa. Jika ada persoalan, ia bicara dengan santun. Kebaikan ini dimanfaatkan oleh lima sekawan itu. Makanya absen terkadang hilang.

Pelajaran yang paling menegangkan adalah olah raga. Teori di kelas tidak jadi soal. Tapi praktek di lapangan selalu membuatnya cemas. Apalagi di lapangan voli. Sejak kelas satu ia tak menyukai pelajaran yang satu ini.

Suatu hari, saat praktik olah raga bola voli, semua telah siap. Teman-teman yang lain senang karena bisa keluar kelas. Olah raga sekalian rekreasi. Bisa tertawa gembira dan main gila dengan teman-teman di lapangan.

Walaupun harus siap kena hardikan atau tempeleng dari Pak Mias. Dengan lesu, Agnes mengikuti teman-teman ke lapangan voli. Belum sampai lapangan, seseorang entah siapa memukul bola voli sebegitu keras dan melenting mengarah ke Agnes. Seketika dia menjerit ketakutan. Mukanya pucat. Nyaris tak kuat berdiri.

Pak Mias datang padanya bersama beberapa teman perempuan. Sambil memegang lengannya, Pak Mias bertanya, “Bagaimana? Engkau baik-baik saja?” Agnes tak bisa menjawab. Masih mengatur nafas satu-satu. Temannya Nini dan Evi memeluk dan menopang dia.

“Pak, kami bawa dia ke kelas saja. Biar dia istirahat,” usul Nini.

“Baik. Kamu bawa dia dan rawat dia,” jawab pak Mias sambil melepas pegangannya di lengan Agnes. Matanya iba menatap Agnes. Ia berbalik dan memerintahkan yang lain untuk berbaris sebelum praktik bola voli. Bunyi lifrik menggema. Praktik olah raga berlanjut.

Nini dan Evi menopang Agnes menuju kelas. Ketiganya teman akrab. Bagi Nini dan Evi, ini kesempatan untuk tidak ikut olah raga yang juga tidak disukai keduanya. Tiba di kelas, Agnes langsung sembuh. Ketiganya ketawa kecicikan sambil mengeluarkan manisan dan ngobrol dengan suara lirih.

Bagi teman-teman yang lain, pelajaran yang agak membosankan adalah Prakarya atau Keterampilan. Tapi tidak bagi Agnes. Ia suka pelajaran ini. Tapi lebih tepat, suka akan pengasuh pelajaran ini. Namanya Pak Teguh. Orang Jawa. Ganteng, halus, sopan, pengertian, kreatif. Bicaranya lembut sekali. Tak pernah memarahi siswa, biar nakal sekalipun.

Agnes kecil ini diam-diam mengagumi gurunya. Ia suka memandang wajah Pak Teguh. Tipikal wajah orang Jawa. Logat jawanya sangat kental, biarpun bicara bahasa Indonesia. Kadang-kadang ketua kelas ini pura-pura menyapu halaman rumah, hanya untuk melihat Pak Teguh lewat sore-sore di depan rumahnya.

“Selamat sore, Pak. ”
“Selamat sore. Wah, rajin sekali ya. Bisa nyapu halaman.”

“Iya, Pak. Bantu orang tua di rumah.”
“Bagus sekali. Anak baik.”

“Terima kasih, Pak!” senyum manisnya merekah.

Pak Teguh pun tersenyum sekilas dan pamit melanjutkan perjalanannya ke Oenasi.

Agnes masih tersenyum sambil memandang Pak Teguh sampai hilang dari pandangan. Sesudah itu, ia menyimpan kembali sapu dan masuk ke kamarnya. Ada PR yang harus diselesaikan.

Bulan Mei 1986. Ujian Ebtanas. Agnes telah siap. Dengan tenang ia mengikuti ujian dan menyelesaikan semua mata ujian dengan baik. Hasilnya ia meraih urutan ketiga NEM tertinggi. Ia senang dan bangga.

Perjuangannya tidak sia-sia. Ternyata hasil tidak mengkhianati proses. Hal ini membuat ia semakin yakin tentangnya pentingnya disiplin belajar. Dengan modal keyakinan ini, ia siap menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Menuju cita-cita di masa depan.

Di teras rumahnya ia duduk sendirian. Sambil melipat-lipat seragam putih birunya. Seragam penuh kenangan. Tak ada corat-coret pada seragamnya. Ia akan menyimpannya sebagai kenangan. Putih biru si kepang dua. Bagian dari sejarah hidupnya. Sejarah adalah guru kehidupan. Ia merenung dan memandang sekolah yang telah membesarkannya.

“Terima kasih alma materku. Terima kasih guru-guruku. Terima kasih teman-teman angkatanku. Terima kasih semuanya. Tuhan memberkati kalian semua!” Matanya berkaca-kaca. Ia bangun, melambai ke arah sekolah, lalu masuk ke kamarnya. Ia siap menuju masa depan. Dengan keyakinan diri yang pasti.

Tamat

Persembahan buat sahabat hitam manis kepang dua, tetangga meja di kelas 2 SMP Negeri 1 Soe tahun 1984/1985.

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan