oleh

Sahabat Jadi Cinta

-Cerpen-104 views

Tidak, semua orang merasakan apa yang dirasakan Sinta dan Gilang.

Sebut saja namaku Sinta, aku sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA. aku dengannya (sebut saja namanya Gilang) nggak kenal sama sekali!!, tapi ternyata kami sekelas, saat aku pertama kali pindah sekolah. Awalnya sih.. pertemanan biasa.. bahkan sampai berantem-berantem kecil.

Tapi lama kelamaan kita berdua tambah deket dan sering menghabiskan waktu bersama, seperti belajar bareng, ke kantin bareng, pokoknya aku dan dia tuh lalui suka duka bareng, ketawa ketiwi, sampe nangis bareng dengan alasan yang sama. Contohnya seperti dimarahin guru dan dihukum bareng.. Hehe.

Dia menganggapku sahabatnya dan aku juga menganggap dia sahabatku. Awalnya sih… sahabatan.. tapi, lama kelamaan perasaanku ini ke dia kok beda ya? Sekarang dia lebih suka merhatiin aku… Segala gerak gerikku pasti selalu dia perhatikan juga.

Dia selalu tanya setiap pagi “udah sarapan belum?” Kalo aku belum sarapan pasti dia langsung ngajak ke kantin dan makan bareng, saat aku tanya alasan kenapa dia selalu tanya aku udah sarapan atau belum jawabannya “Aku khawatir, takut kamu sakit..”

Seketika aku mendengar kalimat itu langsung jlebbbb… nusuk ke hatiku, ambyaarrr perasaanku. Sumpah aku pengen jingkrak-jingkrak, ngefly.. Haha.. untung aku masih punya malu dan gak sampe ngelakuin itu. Sebenernya kalo aku denger kata itu dari dia aku Cuma pura-pura senyum biasa aja gitu. Semunafik itu aku pada diriku sendiri.

Bagiku Gilang itu pria idaman bangettt.. ngettt… ngettt, Hehe… gimana nggak coba, udah sholeh, ganteng, baik, famous, segalanya dia punya, tapi dia selalu tampil apa adanya, idaman jadi mantu banget buat para mertua.. Haha lebay banget aku.

Walaupun aku sama dia sangat dekat, rasanya tiada hari tanpa pertengkaran, selalu aja ada yang harus diributin, Padahal hal yang sering diributin tuh sepele-sepele, Kayak pulpen pinjem aja harus diributin, Hmm… Tapi dari hal yang seperti inilah aku semakin dekat dengan dia.

Sehari aja dia ataupun aku tanpa dia, euhh.. bisa gila kali.. Haha.. Macam dimabuk asmara, nggak mau jauh-jauh, baru gak ketemu sedetik juga langsung kangen, langsung pengen ketemu, Yaa.. Padahal kan aku dan Gilang bukan siapa-siapa, Cuma sebatas sahabat.

Sepulang dari sekolah aku dan gilang langsung teleponan, sms-an, aku tanpa gilang bagaikan malam tanpa bulan, siang tanpa mentari. Hehe. aku ingat betul, saat malam minggu gilang mengajakku untuk makan malam bersama di sebuah Restauran dekat rumahku, aku sama sekali nggak nyangka apa yang terjadi pada malam itu, aku merasa seperti mimpi indah, dan gak mau bangun-bangun,

Aku mencubit tanganku sampai aku tersadar bahwa ini bukan mimpi. Tapi ini nyata, benar-benar nyata. Gilang nembak akuuuuu…. Huffttt… jantungku terasa copot, berdegup amat kencang, aku mencoba mengatur hela nafasku, aku sangat kaget mendengarnya. Gilang meminta jawabanku… aku bingung jawab apa, Karena aku sangat gugup mengatakan jawabanku pada Gilang, dan akhirnya aku jawab “ya, aku mau jadi pacar kamu”.

5 bulan kemudian

Surat kelulusan sekolah dibagikan, Alhamdulillah aku dan Gilang Lulus. dan ternyata kuliahku berbeda universitas dengan Gilang, aku di daerah Bandung, dan dia ke luar negeri. Ini pilihan kedua orangtua kami, kami tidak bisa mengelaknya, akhirnya aku dan gilang berpisah selama 4 tahun untuk melanjutkan studi, Aku dan Gilang sudah jarang bahkan sudah tidak pernah mengirim kabar, kami sama-sama sibuk dengan tugas kuliah.

Aku sering kali menangis merindukannya, Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Karena ketenarannya banyak wanita yang mencoba mendekatinya, walau tanpa pernah berkirim kabar denganku lagi, Gilang masih ingat, “Aku adalah kekasihnya”.

 

Oleh: Alfeni Wulansari

 

Tulisan ini sudah dipublikasi di cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan