oleh

Sanubari Asmaraloka

-Cerpen-121 views

Alangkah baik kita ceritakan sedari awal mula sepasang insan dalam buana romansa memasang pandangan kepada satu sama lain. Begitulah asmara membuka kisahnya dengan tilikan membara. Seolah kedua bola mata itu menemukan santapan berpindah ke memori kan membuat bumerang untuk sang tercinta. Indah bukan? Tentu iya, jika saja kehidupan dama berpihak pada perasa kesunyian anantara lautan dua fana penuh oleh harsa. Rasa muak menghantamnya seiring waktu berlalu.

Wanita karir itu telah melajang selama 23 tahun dan kesibukan terus terisikan bola-bola ilmu hingga sekarang mendapat gelar spesialis bedah mulut. Menjadi makhluk hidup tak berpasangan bukan berarti tak ada yang mau dengannya, hanya saja ia menolak tuk seorang pemuda masuk ke inti sanubari miliknya.

Arunika Eunoia Baswara, dinamakan oleh Papanya yang merupakan seorang penulis terkenal dikalangan bidang sastra. disisi lain mama yang mendatangkannya ke alam kehidupan adalah seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit terbesar di kota Padang. Iyan juga memiliki abang bernama Padika Meraki Baswara dengan selisih usia 7 tahun. Raki notabenenya merupakan anak tertua mengikuti jejak papa mereka pada bidang sastra dan menjadi salah seorang dosen di Universitas Negeri Padang.

Terlahir dalam keluarga pintar sangat mempengaruhi Iyan. Eunoia berarti pemikiran yang indah sangat sesuai dengan sifat Iyan. Ia berbakat hampir di semua bidang. Wanita jenius itu selalu menjadi juara pertama semenjak memasuki gedung pendidikan. Iyan memiliki akal yang cerdik dan mempunyai kelakuan dewasa sejak berusia 6 tahun. Karena orangtuanya membekalkan secarik pesan bestari tuk menjalani roda hidup. Itu menjadi salah satu alasan mengapa Iyan masih awam dalam cinta.

Usianya yang kini sudah terbilang dewasa kerap ditanya oleh mamanya, “Anakku, kamu kan sekarang sudah mempunyai pekerjaan bahkan memiliki gelar dan mama bangga akan itu. Kamu sekarang sudah memiliki pasangan belum?”

“Belum ada yang bikin Iyan tertarik ma”, itulah alasan yang Ia pakai untuk menghindari pertanyaan tersebut. Sebenarnya yang mendekati dokter gigi tersebut tak terbilang sedikit.

Kemampuannya untuk berbicara dengan pasien sehingga membuat para lelaki terpikat. Hingga kini tidak ada kata selain tolakan jika salah seorang pasiennya mengajak berpacaran ataupun menikah. Pernah salah satu pengusaha terbesar se-Sumatera Barat melamarnya di depan klinik yang saat itu sedang dipenuhi banyak pasien. Tetap saja dokter itu menolak. Entah pria seperti apa yang bisa mencuri hati sang bedah mulut berkacamata tersebut.

Hari minggu yang diawali dengan pagi yang cerah, wanita karir itu menyibukkan diri dengan menyerap kata demi kata dari novel di tangannya. Meski ia tidak ingin memiliki hubungan, tetapi jika membahas tema romansa pasti tidak ada satu lembar pun dilewati. Anggap saja pengaruh fiksi mengubah standar pasangannya jauh diatas realita. Itulah mengapa julukan lainnya adalah “dokter pematah hati”. Iyan, seorang bedah mulut jenius yang memiliki hobi sampingan membaca hal-hal yang berkaitan dengan roman tetapi justru tidak ingin memiliki di dunia nyata. Kaum hawa seperti biasa memang sulit untuk dimengerti apa maunya.

Ketika ada waktu luang dan bahan bacaan sudah habis terbaca, Iyan akan menggunakan waktu itu untuk pergi ke toko buku dan mencari novel menarik. Kebetulan sekali lanjutan serial roman yang ia miliki di rumah sudah terbit dan sisa satu di rak. Dalam hal bersamaan seorang pemuda berambut acak juga mengincar novel tersebut.

“Maaf ya tapi ini saya duluan yang mengambilnya”, ucap Iyan kepada pemuda yang berada didepannya.

“Enak saja, saya juga mau membeli novel ini”, kesal pria yang memiliki tinggi jauh di atas Iyan.

“Pilihan novel-novel roman lain kan masih ada pak, saya perlu tau gimana kelanjutan kisah dari pasangan KALA ini”, sembari protes Iyan menarik novel dari genggaman pria itu.

“Saya pun juga penasaran dengan dua sejoli yang memiliki permasalahan rumit namun lucu akan cara mereka berbaikan”, tampak jelas bahwa mereka berdua sama-sama fanatik akan dunia fiksi dan ceritanya.

“iyaaaa, apalagi saat keduanya sudah putus tapi semesta tetap saja mempunyai cara untuk mempertemukan mereka kembali”, tanpa disadari percakapan penuh amarah itu reda dan berlangsung lama hingga mereka berakhir berpindah lokasi ke cafe yang tak terlalu jauh dari toko buku tadi. Tentang masalah siapa yang memiliki novel berjudul “KALA” tersebut, kedua insan itu memutuskan untuk patungan berdua membayar dan bergiliran membaca lanjutannya.

Pria berkacamata bulat itu bernama Fahriz Rukhzan Kurniawan, biasa dipanggil Fahri. Seorang psikiater di rumah sakit yang sama dengan Iyan. Alasan mengapa mereka baru saling mengenal mereka berdua sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada-ada saja rencana yang dimiliki tuhan, kerja di rumah sakit yang sama juga seumuran lagi.

Tidak terasa karena sibuk saling membalas kalimat masing-masing, langit yang tadinya berwarna oranye berganti menjadi malam. Berawal dari rebutan novel menjadi kawan berbagi hobi. “Tadi kamu ke toko buku naik apa?”, tanya Fahri kepada perempuan yang berada di depannya. “Naik angkot, lumayan juga kan hemat bensin mobil haha”, balas Iyan. “barengan aku aja, bahaya kalau perempuan pulang malam sendirian”, ucap Fahri menawarkan untuk mengantarkannya. Suasana kota Padang saat malam memang rawan dengan preman. “Boleh deh, makasih ya Fahri”, ucap Iyan diiringi dengan senyum menawannya.

“Maaf kalau boleh saya nanya, kamu sudah punya pacar?”, tanya Fahri kepada Iyan. Dalam benak Fahri ia berkata, “aku bodoh sekali, tentu saja perempuan secantiknya sudah memiliki pasangan namun belum tau jika belum bertanya kan”. “Belum ada, meskipun saya suka dengan tema tentang cinta tetapi saya tidak berniat untuk mempunyai satu di dunia nyata. Mungkin faktor sibuk bekerja juga sih, kalau kamu?”, giliran Iyan bertanya kepada lelaki di sampingnya itu. “Perasaan dari tadi kita sepemikiran terus ya hahaha”, ucap Fahri. “Iya hahaha sehati mulu nih kita”, balas Iyan.

Setelah perbincangan itu, seketika suasana di dalam mobil kembali hening. Mobil telah berhenti tepat di depan rumah Iyan dan disinilah mereka berpisah. “Sekali lagi makasih ya Ri atas tumpangannya, sebagai gantinya kamu duluan deh yang baca lanjutannya tapi nanti kalau sudah selesai jangan lupa kasih ke aku ya, aku juga penasaran”, ucap Iyan penuh berterima kasih atas pertemuan tadi.

“Gak masalah, kalau buat kamu mah tiap hari juga aku rela jadi supir pribadimu”, canda sang pemuda menawan itu. “Bisa aja si uda ini hahah, ya sudah aku masuk dulu ya. Selamat malam, Dokter Fahri”, pamit Iyan seraya melangkah kaki ke pintu rumah. “Sampai jumpa besok, Dokter Iyan”, balas sang psikiater.

“Siapa itu nak?”, tanya sang Ibunda yang sedari tadi menatap putri kesayangannya diantar oleh pemuda tampan dibalik jendela. “Astaghfirullah kaget Iyan, sejak kapan mama disini?”, ucap Iyan terkejut sebab mamanya tiba-tiba saja muncul dari belakang.

“Terserah mama dong mau berdiri dimana, yang tinggal disini juga bukan cuma kamu aja kan”, Balas Tessa, Mama dari kedua anak Baswara. Memang benar bahwa Iyan masih tinggal di bawah atap rumah orangtuanya. Sementara abangnya, Raki memiliki keluarga kecilnya sendiri. Iyan dibolehkan untuk tinggal di luar rumah rumah dengan syarat sesudah ia mendapatkan suami atau menikah.

“Kamu belum jawab pertanyaan Mama, siapa tadi pemuda yang mengantarmu pulang? Sepertinya orang yang spesial sampai kamu senyum-senyum gak jelas di depan pintu”, tanya Tessa. “Bukan siapa-siapa Ma, kebetulan dia psikiater di rumah sakit yang sama dengan Iyan”, ucap Iyan menjelaskan siapa pemuda tadi kepada Mamanya.

“Calon suami kamu kan?”, goda Tessa kepada anaknya. “Yaallah Ma, Iyan saja baru hari ini mengenalnya”, balas Iyan. “Nah kamu juga tidak mengelak perkataan Mama, percaya saja pria itu seminggu kemudian pasti datang lagi ke rumah dengan kedua orangtuanya untuk menikahimu”, ucap Tessa dengan sangat yakin.

“Memang Mama peramal baru sekali ngelihat udah langsung tau, lagian juga belum tentu Papa setuju sama dr. Fahri”, balas Iyan. “Kalau Papa sih setuju saja dengan keputusan mamamu, asalkan si psikiater itu baik ke kamu ya Papa restuin”, timbul suara bapak kepala keluarga dari balik sofa yang rupanya sedari awal mendengarkan percakapan antar ibu dan anak itu. “Penghuni rumah ini hobinya pada jadi hantu ya suka tiba-tiba muncul”, heran sang anak kepada kedua orangtuanya.

“Udah ya, Iyan ke kamar mau tidur dulu. Mama sama Papa lanjutin aja ngobrolin siapa calon suami Iyan, selamat malam”, segera ia ke kamar karena besok wanita itu mendapat shift pagi di rumah sakit. Iyan saja sebenarnya tidak yakin ia menyukai pria tadi atau tidak. “Masa iya baru sekali ketemu bisa langsung suka, tidak mungkin”, dalam batin Iyan tengah beradu pendapat apa yang sebenarnya ia rasakan hari ini.

Esoknya, saat Iyan menuruni anak tangga untuk sarapan, ia dikagetkan dengan laki-laki yang sedang berbincang dengan Papanya. Laki-laki itu adalah Fahri. “Iyan cepetan sana kamu makan, hari ini kamu gak usah bawa mobil. Biar kamu bareng calon suamimu aja, kan tempat kerja kalian juga sama”, ucap Tessa menyuruh anak perempuannya untuk makan.

“Mama kalau ngomong jangan sembarangan deh, malu itu depan orangnya langsung”, balas Iyan. “Yang Mamamu katakan itu benar kok Yan, aku saja heran mengapa Tante bisa tahu kalau aku berniat melamarmu minggu depan”, ucap Fahri kepada Iyan. “Jangan tante Ri, panggil Mama saja. Kan kamu juga bakal jadi menantuku”, ujar Tessa kepada Fahri.

“Sebentar Fahri, kita bicarakan di luar saja”, Iyan menarik lengan pemuda bertubuh tinggi itu ke teras rumah.

“Maksud dari perkataanmu tadi itu apa?”, ucap Iyan berterus terang.

“Kita berdua tau bahwa kita sama-sama tidak mempunyai waktu untuk hubungan seperti pacaran dan semenjak aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya aku juga merasakan cinta untuk pertama kalinya. Meskipun kita baru mengenal tetapi aku ingin kamu tahu bahwa aku serius dengan apa yang aku ucap dan tidak pernah main-main. Untuk membuktikannya, aku akan datang ke rumahmu dengan kedua orangtuaku untuk menikahimu dan orangtuamu juga menyetujuinya. Jadi Drg. Arunika Eunoia Baswara, maukah engkau menerimaku sebagai teman sehidup dan sematimu?”, ucap psikiater itu seraya menggenggam kedua tangan pujaan hatinya.

“Kamu pasti mengambil kalimat itu dari perkataan Saka kepada Lara dari buku lanjutan kan?”, tebak Iyan yang sebenarnya berusaha menutup malu karena lamaran Fahri.

“Iya deh aku jujur mengutip salah satu kata dari serial itu, tetapi seluruhnya benar-benar sesuai dengan apa yang aku rasa”, balas Fahri mengaku kepada dokter gigi itu.

“Jadi gimana, apa kamu mau menikah denganku?”, tanya Fahri sekali lagi.
“Enggak”, balas Iyan. Semula wajah Fahri yang sangat bahagia berubah murung.
“Enggak nolak maksudnya hahahaha, muka kamu lucu juga pas sedih. Selama ini aku selalu berkata tidak kepada semua kaum adam, tetapi entah mengapa aku tidak bisa ketika bersamamu. ternyata memang benar apa kata Mama, aku jatuh cinta dan kepada kamulah aku mengalaminya”, ucap Iyan sembari menatap cinta pertama dan terakhirnya itu.

“Alhamudulillah, aku janji tidak akan membuatmu menyesal menikah denganku. I love you too much, Eunoia”

Tak terasa waktu pun cepat berlalu, hari yang ditunggu semua orang telah tiba. Hari dimana kedua insan berawalkan hanya saling lewat di koridor rumah sakit, berakhir dipertemukan sebagai pasangan suami istri. Takdir yang maha esa tidak ada yang tau.

Dengan satu kata “sah”, kedua sejoli kini resmi sebagai teman hidup. Jodoh itu bisa ditemukan dimana saja, bahkan tempat yang tidak terduga. Begitu pula dengan Cinta. Tidak memandang berapa lama engkau mengenalnya dan juga kapan bertemunya. Seperti apa yang pernah penulis TERE LIYE katakan,

“Siapa yang meletakkan cintanya hanya di mata, maka hanya sampai disanalah awal dan akhir semua kisah.

Siapa yang meletakkan cintanya hanya di kaki dan tangan, maka juga hanya disanalah tempat terjauh yang bisa digapai. Tapi barangsiapa yang meletakkan cintanya di hati, mematuhi aturan main dan senantiasa bersabar, maka dari sanalah semua kisah akan mekar bercahaya, wangi memesona”.

 

Oleh: Rhaissya Putri Vanssy

 

 

Sumber: cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan