oleh

Sebatas Teman

-Cerpen-244 views

Dunia tak selamanya mengitari kita untuk menunjukkan eksistensinya, kita hanya perlu untuk mengikuti rencana yang sudah ditetapkan. Bukankah begitu?

Terkadang berjuang untuk mendapatkanmu juga memerlukan planning yang kuat serta usaha. Jadi tidak salah jika melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu juga.

Apalagi laki-laki sepertimu. Aku harus mengatur napasku pelan-pelan saat didekatmu.

“Sakit?”

Dia memegang dahiku dengan punggung tangannya sambil membungkukkan tubuhnya yang tinggi karena aku terlalu pendek saat berdiri bersamanya. Alisnya dinaikkan sebelah dan terlihat dari sudut mulutnya seperti tersenyum mengejek.

“Lo yang sakit. Sekali aja bisa gak sih suka sama gue?”

“Gak.” Jawaban singkatnya terasa menusuk hatiku. Sepertinya kepalaku sudah mulai berasap dan ekspresiku sangat masam seperti jeruk nipis yang baru diperas. kecut.

“Tiga tahun gue disini dan lo masih gak buka perasaan lo sama gue!” ungkapku jelas. Aku mengacak rambutku. Dia hanya menaikkan bahunya seolah tak peduli.

“Ra, gue gak bisa paksain perasaan gue ke lo, lagian kita kan sebatas teman. Lo tau itu!”

“Gak! Lo harus mau jadi cowok gue.”
Laki-laki itu mendengus panjang, dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

Menghadapi situasi bersama gadis gila yang memaksanya untuk berpacaran. Mengingat mereka merupakan teman lama yang tiba-tiba Lara mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan di depannya.

Bukannya apa-apa Brian dan Lara sudah berteman dekat sejak SMP, bahkan dimanapun Brian pergi pasti disitu ada Lara. Namun, entah ada angin apa tiba-tiba Lara mengungkapkan perasaanya terhadap Brian. Apa selama pertemanan Lara hanya terjebak dalam friendzone dan Brian tidak peka dengan hal itu.

Bagaimana-pun juga ini sangat sulit bagi keduanya. Di sisi lain di pihak manapun sebenarnya sama sekali tak pernah menjalin hubungan percintaan, baik itu Brian maupun Lara. Karena sesungguhnya tak ada pikiran jika pada akhirnya Lara menyukainya.

“Kita bisa pacaran sambil berteman, gimana?” Lara yang sedari tadi memohon permintaannya dapat terkabul.

“Gak bisa, Lo bukan tipe gue Ra.”

Lara kembali mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Saat ini perasaannya benar-benar kacau. Ia tak tau lagi harus berbuat apa untuk membuat Brian suka padanya. Dia menghela napas pendek dan menetralisir detak jantungnya agar lebih normal. Emosi akan mengacaukan segalanya. Pikirnya.

Mereka berada di kampus yang sama namun berbeda jurusan. Jika Brian lebih ke pemrograman sedangkan Lara memilih lebih ke pendidikan. Walaupun ruang mereka berbeda tetapi tetap mereka berdua akan selalu bertemu.

Setelah perdebatan panjang tadi yang tidak menemukan jalan keluar alias hanya jalan buntu yang ditemui. Mereka bertemu kembali di kantin kampus yang sangat ramai karena sedang jam istirahat makan siang.

Lara menunjukkan air muka yang begitu jutek bahkan dia sangat malas menatap Brian. Tapi, Brian tetap memperhatikan Lara yang dari tadi membuang mukanya, dia juga yang menata kursi plastik untuk Lara duduk dengan telaten.

“Masih marah?” tanya Brian. Dia mencoba membuka sepatah kata untuk memulai percakapan lagi.

“Enggak, kesel aja.”

“Kita cuman teman Ra, gue ga pernah anggep lo lebih dari sekedar teman.”

Lara mengarahkan pandangan tajam ke arah Brian. Dia menyeret sedikit kursi plastiknya dan menatap Brian lurus-lurus.

Saat ini perasaannya sudah tak terkendali, dia mudah emosi dan juga memiliki karakter yang bebas. Sehingga Brian sebagai temannya harus selalu memperhatikannya.

“Gini ya, Brian. Gue tau ini mengejutkan, tapi gue punya perasaan lain setiap lo perhatian ke gue.” Tungkasnya.

Brian mulai memegang pelipisnya yang mulai berdenyut dan menggosokan kedua tangannya ke wajahnya seraya berpikir keras.

Dia gak berharap kejadian seperti ini akan terjadi, bagaimana dia akan mengatasi masalah ini atau dia harus menerima Lara sebagai pacarnya dan bukan temannya lagi. Sungguh pikiran-pikiran itu terus berputar di otak Brian seperti lalu lintas yang ramai. Tidak ada lampu merah.

Bagaimana pun juga aku seorang perempuan, tetap saja aku tidak bisa terus memendam perasaan ini. sangat menggangguku. Perhatianmu terlampaui batas sebagai seorang teman, hingga aku menganggapnya sebagai kekasih yang peduli denganku.

Tapi status kita sebagai seorang teman mungkin akan canggung ketika kita berpacaran. Aku tahu ini nekat menembaknya secara tiba-tiba.

Aku kira Brian juga punya perasaan terhadapku. Mengingat tidak ada perempuan yang pernah mendekatinya selain aku. Meski begitu aku terima saja kita hanya ‘sebatas teman’ gak lebih.

 

Oleh: Eksan Syawaludin

 

Artikel ini telah terbit di cerpenmu.com

Komentar

Jangan Lewatkan