oleh

Sebutir Mutiara di Tenda Pramuka

-Cerpen-425 views

Dia komandan sejati. Tegas dalam prinsip. Halus dalam cara. Maka tidak sedikit gadis yang menaruh hati padanya. Ada yang seperti pungguk merindukan bulan. Merana dalam kesunyian perkemahan.

“Adik-adik sekalian! Mohon perhatian. Kita berkemah di sini bukan untuk bersenang-senang. Kita ditempa untuk disiplin. Menjadi anggota pramuka yang punya kepribadian baik. Integritas diri. Maka bersiaplah untuk melatih mental, ketangkasan, keterampilan dan pengetahuan praktis untuk kehidupan.”

Suara komandan Steven mengudara bersama kicau burung. Menembus telinga. Menghujam ke jiwa yang sedang bertumbuh dalam kegairahan idealisme hidup. Pesan itu masuk ke dalam sanubari. Ada tekad terbentuk. Siap untuk ditempa menjadi pribadi berjiwa ksatria.

“Seluruh rangkaian kegiatan kita dalam kemping ini sudah terprogram dengan baik. Setiap kita telah mengetahui apa saja kegiatan kita. Dimohon agar saat ini, semua perhatian diarahkan kepada pelaksanaan semua kegiatan dengan baik. Semua terlibat aktif. Karena dalam setiap kegiatan, ada tersembunyi mutiara berharga untuk kehidupan kalian.”

Suara itu kembali menginspirasi jiwa-jiwa muda ini. Kesempatan ini adalah saat untuk belajar hidup.

Setelah mendapat arahan, semua bergegas menuju bidang kerja masing-masing. Bekerja dengan gesit, cepat, rapi dan tuntas. Lalu melaporkan semua hasil pekerjaan. Dalam waktu yang telah terukur, semua kebutuhan perkemahan segera siap. Siap untuk kegiatan selanjutnya. Satu demi satu dengan target penemuan dan internalisasi nilai hidup. Itulah mutiara kehidupan.

Lima tenda telah terpasang. Segala keperluan untuk perkemahan selama dua hari telah tersedia.

“Malam ini ada giliran jaga malam sampai pagi. Dua dua orang. Api tak boleh padam. Kayu api sudah tersedia cukup. Besok baru satu regu bertugas cari kayu api. Siap?”

“Siap!”

“Sebelum tidur, kita berlatih mendengar suara alam. Siap?”

“Siap!”

“Semua duduk bersila mengelilingi api unggun. Atur formasi yang baik. Duduk santai dan pusatkan perhatian. Ikuti aba-aba. Siap?”

“Siap!”

“Sekarang konsentrasi dan pusatkan perhatian pada pendengaran. Dengar sebanyak mungkin suara yang terdengar. Dari yang terdengar jelas sampai yang halus dan nyaris tak terdengar. Mulai!”

Segera perkemahan itu sunyi. Tak ada suara manusia. Bunyi burung hantu. Suara nyamuk. Api yang membakar kayu. Derak suara kayu terbakar. Suara orang di kejauhan. Bunyi kendaraan di kejauhan. Bunyi jangkrik. Serangga malam. Desau angin. Suara nafas teman sebelah. Semua didengar dan dibedakan. Setiap suara memiliki kekhasan. Juga alasan bersuara. Semua didengarkan dan direnungkan. Lalu temukan nilai. Mutiara kehidupan.

“Silakan laporkan hasil pendengaran.”
“Saya mendengar suara tikus berdecit di balik semak.”

“Saya mendengar suara air mengalir di sungai.”

“Saya mendengar gesekan dahan diterpa angin.”

Satu per satu melaporkan hasil pendengaran. Telinga terlatih untuk tajam mendengarkan. Lalu Steven meramu laporan itu dalam refleksi hidup yang menarik. Tentang pentingnya mendengarkan suara alam, suara hati, suara sesama, terutama suara Tuhan. Ada banyak suara. Maka perlu dibedakan mana suara yang mengandung kebenaran, dan mana yang palsu.

Malam makin larut. Setelah arahan tugas malam dan berdoa, masing-masing menuju kemah. Dua orang berjaga-jaga. Bergiliran sampai pagi. Ipong dan Aga. Lalu Jo dan Lily, Toni dan Cici, dan akhirnya Teto dan Ita.

* * *

Pagi tiba. Mentari di ufuk timur kemerah-merahan. Kicau burung memecah keheningan pagi. Udara pagi sejuk segar. Perkemahan masih lengang. Namun beberapa pramuka sudah bangun dan melaksanakan tugas pagi. Regu masak segera bergegas.

Lifrik berbunyi. Sandi morse. Setiap telinga menyimak dari balik tenda. Komandan Steven memberi instruksi pagi. Yang masak melanjutkan tugas. Yang lain segera berkumpul di lapangan. Senam dan baris berbaris. Tak lama kemudian lingkungan perkemahan itu telah ramai oleh aktivitas pramuka.

“Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan… Dua dua tiga empat lima enam tujuh delapan…”

Lalu beralih ke komando lain. “Siap, grak! Lencang depan, grak! Hadap kiri, grak! Balik kanan, grak!” Dan seterusnya.

Tugas masak selesai. Sepuluh menit waktu bersih diri. Bergegas. Cepat, gesit, selesai. Inilah pramuka.

Sarapan. Menu sederhana. Nasi putih dan dadar telur. Minumnya kopi dan teh. Sesuai selera. Intinya masukkan energi untuk kegiatan hari ini. Semua makan dengan lahap. Lalu bergegas tegak lurus di lapangan menanti arahan. Sigap, cepat, gesit, tangkas, cekatan. Itulah pramuka.

“Program kita hari ini, jelajah alam, cari lokasi penghijauan, cari kayu bakar, tanam pohon. Yang giliran masak tetap di perkemahan dan mengatur semua yang perlu. Regu jelajah alam dan cari kayu bakar, bawa sekalian dengan anakan pohon. Setelah tiba di lokasi, langsung cari kayu api dan kembali ke perkemahan. Regu tanam pohon bawa anakan dan tanam pohon di lokasi yang harus ditanami. Jangan lupa bawa jergen untuk isi air. Siap?”

“Siap!”
“Laksanakan!”
“Laksanakan!”

Semua regu dengan sigap langsung melaksanakan tugas yang ditetapkan. Semangat memancar dari wajah mereka. Yel-yel penyemangat membahana. Menyatu dengan suara alam yang beragam bunyi.

Siang, semua kembali ke perkemahan. Makan siang bersama dengan kelakar ngalor ngidul. Siap tenaga baru untuk lanjutkan penanaman pohon yang masih tersisa. Regu pemasak berganti. Semua bekerja sampai magrib. Wajah-wajah letih itu tetap sumringah karena telah menunaikan semua tugas dengan baik.

Malam ini, di depan api unggun, akan ada refleksi atas kegiatan. Penemuan butir mutiara kehidupan dari semua aktivitas hari ini.

Sesudah makan malam, semua bersantai dengan acara menyanyi aneka lagu diiringi petikan gitar Ipong. Cici, si suara emas melantunkan lagu-lagu merdu dipadu suara teman-teman lainnya. Steven, sang komandan tersenyum. Memandang seluruh anggota yang dipandunya. Ada kebanggaan.

Matanya beradu pandang dengan Aga. Ada getaran aneh. Tapi ia pura-pura tak merasa apa-apa dan mengacungkan jempolnya. Aga menemani Cici berduet menyanyikan lagu-lagu cinta. Setelah puas bernyanyi, Steven berdiri dan memandu refleksi.

“Mari kita hening sejenak. Kita merenungkan kegiatan kita hari ini. Apa saja yang telah kita kerjakan dan bagaimana hasilnya? Lalu nilai apa yang kita temukan dari kegiatan ini?”

Satu persatu mulai berbagi pengalaman dan refleksi. Semua larut dalam kisah setiap orang. Giliran terakhir adala Aga. Steven hampir tak bisa menahan gejolak hatinya. Ia menundukkan kepala dan mendengarkan suara Aga memecah kesunyian malam, menceritakan semua pengalaman hari ini. Pengalaman ia menemukan sebutir mutiara kehidupan di tenda pramuka.

Makna hidup yang sejati. Ia merasa bahagia, karena pada kemping kali ini, ia menemukan apa artinya hidup sebagai seorang pramuka. Ia bersyukur pada Tuhan. Juga berterima kasih kepada kakak pemandu dan teman-teman.

Besok mereka kan kembali ke kota. Malam ini Aga bermimpi indah. Bahagia. Semua teman merasa tertarik dengan refleksinya dan ikut merasakan kebahagiaan. Tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada rahasia yang tak terungkap. Rahasia hati yang menjadi alasan kebahagiaannya. Yang tidak diceritakannya. Ia tertidur sambil tersenyum. Sampai tiba giliran jaganya menjelang pagi.

Di kemah lain, sang komandan pun dibuai mimpi indah tentang sebutir mutiara kehidupan di tenda pramuka. Bukan dalam bentuk nilai hidup hasil refleksi. Semua itu telah dimilikinya. Tapi mutiara yang baru ditemukannya kali ini adalah dia yang bercerita terakhir tadi. Ya, si dia. Dia yang entah kenapa telah merebut hatinya.

Di tepi sungai, saat mengambil air sore tadi. Ia menemukan mutiara itu, yang memang membiarkan dirinya ditemukan sang pujaan hati. Steven tersenyum dalam gelapnya malam.

Besok adalah cerita baru. Cerita tentang sebutir mutiara di tenda pramuka.

Tamat

Persembahan buat sahabat komandan pramuka SMPN 1 Soe 1986

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan