oleh

Segelas Cendol di Jam Istirahat

-Cerpen-304 views

1986. SMP Negeri 1 Soe masih berpagar batu karang yang disusun seperti pagar. Pagar batu ini seperti benteng rapuh yang mengelilingi komplek sekolah. Halaman tanah merah ditumbuhi rumput yang jarang.

Di bagian selatan, belakang ruang kelas tiga dan kelas dua, ada halaman kecil di antara pagar batu dan gedung. Di situlah setiap jam istirahat para siswa yang ingin jajan cendol berkumpul.

Di luar pagar batu, di bawah pohon akasia, tersusun dua meja yang penuh dengan cendol buatan Mama Lena. Dengan cekatan Mama Lena melayani para siswa yang berebut membeli cendol. Semua dapat giliran. Koin-koin bertukar tempat. Dari kantong siswa ke kantong Mama Lena.

Dari dalam kelas, beberapa pasang mata yang tidak memiliki uang jajan memandang keramaian itu sambil ngobrol dan saling olok ketawa-ketiwi. Tapi sesekali mereka jeda dan terdiam. Masing-masing dengan imajinasi sendiri. Ada yang membayangkan nikmatnya segelas cendol. Ada yang memikirkan cendol buatan mamanya di rumah.

Ada yang membayangkan seandainya dia ditraktir seseorang. Ada yang mencari si dia di tengah kerumunan itu, dia yang dirindukan seperti pungguk merindukan bulan. Cukup sekedar melihat wajah atau rambutnya, ia merasa bahagia. Bahagia yang aneh.

Suatu ketika, saat istirahat, ritual sama, baik di halaman belakang maupun di ruang kelas. Tiba-tiba, tak sengaja, sepasang mata si pungguk beradu pandang dengan si bulan di halaman. Beberapa detik itu mengirimkan kejutan listrik di jantung. Ada rasa yang aneh. Keduanya tersenyum lalu beralih pandang ke yang lain. Masing-masing sibuk kembali dengan teman-teman di dekat, sambil meneruskan rasa yang membekas.

Sebulan berlalu, si pungguk tak lagi berdiri di kelas. Setiap kali jam istirahat dia berkumpul bersama beberapa teman di bawah pohon kersen dekat laboratorium IPA. Tetapi di rumah, sepulang sekolah, ia berkeliling mencari botol. Paman pencari botol biasanya menukar dengan balon atau permainan. Bisa juga dengan uang koin. Dia memilih uang koin untuk bisa jajan cendol di sekolah.

Satu hari, jam istirahat, dia terselip di antara kerumunan depan meja cendol Mama Lena. Tak disadarinya si bulan pun berdesakan di sampingnya. Fokusnya ke segelas cendol. Uang koin berganti segelas cendol. Ia bergerak ke samping dan menikmati cendolnya.

“Bagi dulu, kawan.”

Suara itu dikenalnya. Ia tersedak. Di depannya telah berdiri si bulan dengan segelas cendol pula. Tersenyum. Ia membalas senyum itu dan menikmati cendolnya.

“Baru bisa membeli segelas. Belum bisa mentraktir. Tunggu besok-besok kalau ada uang baru saya traktir, e?”

Lalu beberapa kawan bergabung dan mereka larut dalam cerita aneka hal sambil menikmati cendol masing-masing. Sampai lonceng berbunyi. Semua bubar menuju kelas. Meninggalkan Mama Lena yang sibuk mengurus gelas kotor dan menghitung koin.

Dua minggu kemudian, si pungguk dan si bulan mematahkan peribahasa. Pada jam istirahat kedua, ketika kerumunan berkurang. Keduanya bersisian dengan segelas cendol di tangan masing-masing.

“Hari ini akhirnya bisa traktir. Hanya segelas.”

“Terima kasih, sudah traktir. Walau segelas, tapi senang bisa ditraktir olehmu.”

Lalu banyak cerita mengalir dalam percakapan. Cerita tentang pengalaman belajar, minat ilmu, cita-cita, rencana sekolah lanjutan, kecemasan tidak lulus ujian nanti, persiapan ujian, belajar kelompok, dll.

Lonceng berbunyi. Percakapan selesai. Cendol habis. Dengan kekuatan baru, keduanya lanjutkan pelajaran di kelas.
Dalam kelas, Ibu Wenyi mengajar dengan serius. Tapi matanya menangkap dua pasang mata yang tatapannya kosong.

Seperti melamun jauh entah kemana. Ibu tersenyum maklum. Ia memahami anak-anak didiknya yang memasuki masa remaja.

Sementara dua pasang mata itu sibuk dengan dunia masing-masing. Dunia tempat keduanya berkelana dalam imajinasi. Dimulai dari traktir segelas cendol di jam istirahat.

Tamat

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan