oleh

Sepucuk Surat Rindu untuk Marta

-Cerpen-248 views

Marta saat ku tahu kau telah mendua dengan berbagi cinta, hatiku seolah-olah remuk tak berkeping. Kau seperti merobek tulang dadaku, kemudian kau tusuk ulu hatiku dengan pedang, kemudian kau putar-putar dengan pelan. Rasanya teramat perih, meski menimbulkan luka yang tak berdarah. Aku benar-benar tak pernah menyangka ini semua terjadi kepadaku.

Terima kasih untuk puluhan hari yang pernah kita lalui bersama. Setidaknya, penghianatan ini mengajarkanku untuk lebih baik lagi dalam menjaga hati. Kamu orang baik Marta, dan dia juga orang baik. Maka kalian pantas untuk bersatu tanpa kau harus bersembunyi di belakangku. Aku mundur, sebagai pria yang tak berdaya menahan luka. Biarkan aku pergi dengan membawa air mataku sendiri dengan cara diam-diam.

Dulu kau masuk ke dalam relung hatiku dengan cara ketukan yang sangat pelan, hingga aku benar-benar menikmati keindahan semesta. Kau kejar aku di saat aku sedang trauma menjalin cinta. Kau membuatku sembuh dari luka batin yang tak berkesudahan. Namun, setelah penghianatan itu muncul, kau seolah-olah mendobrak pintu hatiku hingga hancur tak bersisa. Aku hancur.

Marta, yang aku khawatirkan akan terjadi ternyata sudah terjadi. Kamu yang ternyata berusaha untuk ku genggam ternyata sudah digenggam oleh orang lain. Ternyata hatiku telah masuk di tempat yang salah. Jujur saja, aku masih benar-benar tak percaya jika engkau yang kemarin ku peluk erat kini harus ku lepas tanpa isyarat.

Ketika rasa setia sudah kau nodai dengan mencintai yang lain, disanalah aku benar-benar telah merasa gagal. Engkau yang sudah enam bulan ini ku cintai, ternyata berpaling dengan yang lain. Tidak ada yang paling kejam di dunia ini selain penghianatan. Aku menangis, untuk kesekian kalinya. Menangis sejadi-jadinya. Berpura-pura terlihat baik-baik saja di saat hati sedang memar dan lebam itu sakit. Namun aku berusaha tetap berdiri.

Hatiku memang pernah sakit, namun tak pernah sesakit ini. Saat orang yang ku anggap akan menjadi yang terakhir, ternyata memilih untuk berakhir. Pernah cinta, namun tak pernah sedalam rasa cintaku saat ini kepadamu. Janji yang pernah terucap harus, berahir saat kau memilih untuk membagi cinta.

Aku juga pernah putus, namun tak pernah separah dan sehancur ini. Saat ku tahu orang yang ku titipi cincin cintaku, malah memilih mendua. Kau membuat ku menangis tanpa air mata, hingga teriak pun aku sudah tak mampu. Terlalu sakit.

Marta, aku memilih untuk mundur. Karena aku bukan dewa yang sanggup berbagi cinta dengan yang lain. Lantas biarkan saja aku yang pergi. Setidaknya, kehadiranmu telah membuatku menjadi pria yang lebih kuat. Biarkan aku mundur, menutup lubang lukaku sendiri. Biarkan trauma ini membuatku jera untuk membuka hati lagi.

Aku tak pernah menyesal telah mengenalmu. Karena pada hakekatnya, orang-orang yang datang ke hati kita memang tak selamanya untuk menetap. Akan ada kalanya seseorang hanya datang untuk bersinggah dan menginap, lantas pergi karena memang ia hanya ditakdirkan untuk memberikan pelajaran saja, bukan cinta. Dan ternyata kamu adalah seseorang yang datang untuk memberikan pelajaran.

Terima kasih telah membuatku bangkit wanita masa laluku, sehingga aku bisa kembali berdiri dengan dirimu sebagai pondasinya. Meski kini kamu harus pergi lagi, meninggalkanku seperti saat rapuhnya aku sebelum mengenalmu.  Biarkan saja aku menjadi tanah yang tandus dan mengering di sini. Aku ikhlas, barang kali ini adalah balasan Tuhan kepadaku atas semua dosa yang telah ku perbuat selama ini.

Mungkin rasa sakit ini adalah penawar dan penggugur dari seluruh dosa yang telah ku perbuat selama ini. Tolong maafkan semua marah dan kesal yang pernah terlontar dari tangan dan lisanku. Semua perhatian berlebih yang mungkin justru membuatmu menjadi tersiksa. Terima kasih untuk semua ini, karena setidaknya aku jadi ingat dan tahu diri jika aku memang tak boleh bertinggi hati.

Aku saja yang dulu terlalu percaya diri jika kau memang benar-benar sayang dan tak mungkin bisa menduakanku. Kini aku salah, rasa percaya diri dan sombong telah dibalas oleh Tuhan secara tunai kepadaku. Aku pun tergolek lemas dengan skenario yang tak pernah sama sekali aku tebak sebelumnya.

Semoga dirinya yang terlebih dahulu bersamamu, bisa membuatmu bahagia dan tersenyum sepanjang hari. Maaf jika ada beberapa bagian cerita hidup kita yang tak mampu aku warnai dengan senyum dan bahagia. Aku memang mungkin yang terbaik. Selamat tinggal Marta. Terima kasih telah memberikanku izin untuk memanggilmu sayang.

Benar kata Dortea, “Jika mencintai manusia melebihi rasa cintamu terhadap Tuhan, maka hidupmu hanya akan berakhir dengan rasa kecewa. Jika doa telah tersisihkan dengan memuja ciptaannya yang fana, maka semua harapan ittu akan hancur seketika”

Tak perlu ku sesali. Setidaknya Tuhan telah membuka mata hatiku lebih cepat, sehingga tak begitu terlalu lama menjalin cinta dengan wanita yang mencintaiku. Setidaknya, aku akan terbebas dari rasa sakit hati yang jauh lebih dalam lagi. Berpisah lebih cepat adalah cara terbaik agar diriku terbebas dari bencana hati yang jauh kebih besar lagi. Walau hati masih meronta untuk tetap mencintai, namun apa guna ada cinta, jika ada rasa yang telah mendua.

Marta, fakta pahit yang kau sodorkan kepadaku telah merusak rencana masa depan kita berdua, yang telah ku susun begitu rapi, agar di masa depan kita tetap hidup bahagia dengan engkau sebagai bagian terakhir dari puzzle dalam hidupku. Namun kini semua puzzle itu telah hancur, dan hanya menyisakan lubang luka yang sangat besar.

Maafkan aku yang terpaksa pergi, karena tak bisa diduakan. Karena aku juga tak bisa mengampuni penghianatan, khususnya dari setengah hidupku. Seandainya kau tak mendua, mungkin hidup tujuh puluh tahun lagi bersamamu aku bersedia dan bisa, bersama hingga menua berdua hingga salah satu diantara kita dipanggil ke pangkuan yang kuasa.

Terima kasih untuk kenangan indah yang selama ini telah engkau berikan. Ciuman manis yang melapangkan dada, pelukan hangat yang membuat hari merasa aman, senyuman manis yang membuat gugusan bima sakti seolah milik berdua, dan genggaman mesra kita berdua saat menyusuri pantai di bawah senja yang begitu indah. Setidaknya, kita pernah bahagia bersama.

Dulu kau ku pegang dengan erat di bawah senja, kini saatnya kau ku lepas dengan ikhlas di bawah cinta yang tak terbalas. Semoga Tuhan akan tetap menjagamu, melalui tangan pria yang saat ini telah singgah di hatimu. Setidaknya kita berjumpa dengan cara yang indah, dan berpisah dalam keadaan yang indah pula.

Walau harus terluka, setidaknya aku pernah berjuang. Untuk wanita yang sangat aku sayang. Terima kasih untuk hukuman batin yang telah kau berikan. Aku pulang, selamat berjuang.

 

Oleh: Lalik Kongkar

Komentar

Jangan Lewatkan