oleh

Sulap Kakak Kelas

-Cerpen-333 views

Hari itu hari Sabtu. Ada tamu entah dari mana. Kepala sekolah memerintahkan semua untuk apel pagi. Padahal jam pelajaran pertama baru saja dimulai sekitar satu jam. Bagi para siswa, ini kesempatan baik untuk bersenang-senang di luar kelas.
“Seluruhnya, siaaaaap, grak!”

“Istirahat di tempaaaat, grak!” Terdengar komando dari ketua OSIS. Seluruh siswa berdiri tegap mengikuti aba-aba.
“Selamat pagi, Anak-anak!”
“Selamat pagi, Pak!”

“Hari ini kita kedatangan tamu. Namanya pak Jayadi. Dia datang dari Jawa. Berkeliling ke seluruh Indonesia. Dia telah melewati Bali, NTB dan akhirnya sampai ke NTT, melalui Flores. Dia sekarang berada di Timor. Dari Kupang, dia akan ke Timor Timur, melewati beberapa kota. Kemarin dia tiba di kota Soe. Hari ini berkunjung ke sekolah kita. Keahliannya bermain sulap. Dan hari ini dia mau menunjukkan beberapa permainan sulap kepada kita.”

Kepala sekolah memberi pengantar singkat lalu mempersilakan pak Jayadi bermain sulap. Dia minta sebuah meja ditempatkan di halaman. Lalu dia berdiri di atas meja dan menunjukkan beberapa atraksi sulap yang memukau. Beberapa saat semua mata terpusat kepada pemain sulap ini. Kemahirannya menimbulkan decak kagum. Tepuk tangan dan suit-suitan menggelombang setiap kali satu atraksi selesai dipertontonkan.

Sementara atrakasi berlangsung, perhatian Ruth terbagi dua. Sebentar-sebentar ia beralih pandang barisan kakak kelas. Di barisan itu seorang kakak kelasnya sedang bermain sulap pula dengan gerakan tangan dan isyarat. Tentu saja dengan sembunyi-sembunyi, takut ketahuan kepala sekolah dan lain-lain. Ruth memahami isyarat itu. Sulap kakak kelas yang unik.

Pertunjukan selesai. Pak Jayadi mengucapkan terima kasih. Kepala sekolah memberi perintah kepada ketua OSIS untuk berkeliling membawa kantong sumbangan ke setiap siswa. Dalam waktu tidak lama, sebagian uang jajan berpindah ke kantong sumbangan. Ada gerutu dan kasak kusuk. Tapi suara kepala sekolah memberi penjelasan tentang kebutuhan si pengelana Indonesia membuat para siswa tetap memberi sesuai kemampuan. Yang tidak punya uang jajan hanya senyum saat kantong sumbangan lewat di depannya.

Setelah selesai, semua dibubarkan dan kembali ke kelas masing-masing, menunggu jam istirahat. Hari itu praktis tak ada pelajaran. Kesempatan bagi para siswa untuk bercerita bebas di kelas, bermain gila dan saling mengolok.

Ruth memandang keluar kelas. Di gedung seberang, depan kelas 3, si kakak kelas tadi sedang berdiri menghadap ke arahnya. Beberapa temannya juga berdiri di dekatnya. Ia pura-pura bermain sulap untuk teman-temannya. Mereka tertawa gembira dan mengoloknya. Dengan gerakan aneh ia meniru pesulap tadi. Tapi matanya sesekali mengarah salah satu penonton di ruang kelas 2. Ruth tersenyum melihat tingkah kakak kelasnya. Pasti ada maunya. Ia membatin.

Pesulap amatiran itu mengakhiri atraksi tiruannya dengan gerakan pesan jarak jauh. Teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal tanpa menyadari apa yang terjadi. Hanya Ruth yang memahami isyarat itu. Hatinya berbunga-bunga. Tetapi juga berdebar. Ada rasa takut.

* * *

Lonceng bubar sekolah berdentang panjang. Ruth bergegas mengusup di tengah rombongan teman-teman yang searah ke rumahnya. Si kakak kelas mengejar tapi tertinggal. Isyarat tadi tak ditanggapi. Ia kecewa. Lalu berbalik menuju rumahnya.
Ruth berhasil menghindar. Ia tidak mau terjebak dalam sulap kakak kelas. Dengan ceria ia membaur dengan teman-teman dan mengobrol tentang sulap tadi pagi. Mereka tertawa kala ada hal yang lucu. Yang lucu itu dikemas lagi menjadi lebih lucu. Tertawa sepanjang jalan hingga tiba di rumah masing-masing.

Malam itu, si kakak kelas menyusun strategi baru. Sebuah sulap yang menyihir. Rancangan diatur cermat. Hari Senin, dia akan menunjukkan atraksi sulap terbarunya. Sulap yang diyakininya akan membuat adik kelasnya bertekuk lutut.

Senin pagi. Saat apel pagi, Ruth melirik ke barisan kakak kelas. Ada tangan yang bergerak. Suara amanat kepala sekolah tak didengarnya lagi. Pikirannya terbawa ke sulap kakak kelas. Ada pesan. Rahasia.
Saat bubar sekolah, kakak kelas telah menunggu di pintu gerbang. Ruth tak bisa berkelit. Dia maju bersisian dengan seorang teman yang rumahnya searah.

“Mau nonton sulap?” tanya si kakak kelas ketika keduanya tiba di gerbang.
Ruth menggeleng. “Saya tidak suka sulap. Hanya omong kosong.”

Si kakak kelas menyerah. Sulap yang disiapkannya tak jadi ditunjukkan. Ruth berlalu dengan temannya sambil tertawa kecicikan. Meninggalkan si kakak kelas dengan sulapnya yang belum ditunjukkan.

Ternyata hidup ini bukan sulap. Si kakak kelas bergumam sendiri. Lalu pergi dan melupakan sulapnya. Tak ada kisah sulap lagi sampai tamat. Yang ada cumalah kisah penantian kucing bertanduk. Entah sampai kapan.

Tamat

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar