oleh

Tangisan Alam

-Cerpen-178 views

Kini rindang menjadi naungan duka dengan rumput alas lara

Semilir membendung teriak tangisnya, sembari alkamar meredupkan lentera

Oh gadis,
Janganlah kembali menangis
Merpati tak sampai hati melihat linangmu,
Ancala riyuh dengan pijar saat setiap ujarmu mengiang dalam bumantara

Peluklah pekat ini, dengan hujan menjadi nyanyiannya

Ah gadis, sudahi gelabahmu itu
Simpan laifmu dalam sadrah yang utuh
Karena redum akan menjadi ranum
Dan engkau akan menjadi kirana yang abadi dalam seulas senyum

Kemarin Gerhana

Empat belas menit sekian detik

Kemarin gerhana,
Dan seharusnya sekarang purnama.
Chandra menari mencipta bayang dalam helai sunyi

Cahaya menerangi hati yang petang sebab penyakit hati,
Merutuk bodoh!
Berteriak tak tatu diri!
Munafik!

Bukankah purnama telah tak terbilang menertawakan, mengapa masih saja sibuk dengan segala semu angan?

Kemarin gerhana,
Lantas kamu masih saja lalai terhadap titahnya

Satu dari seribu kuasa
Dan hatimu tetap keras terhadap kasih tak tertanding dengan kelembutan sutra
Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu ragukan?

Sekarang purnama,
Dan semoga alam berbicara perihal diri yang sedang tidak pada jalannya

Penghambaan

Lantunan merdu mengusik mimpi
Semilir angin menyapu alam tak bertepi
Pekat tenang menimbun raga jiwa yang tak karuan

Sembari gemericik rindu berteriak tak mampu bungkam

Oh tuhan,,,
Seperti malammu sungguh menawan
Hingga celah tuk abai enggan menampakkan

Yaa arhamar rahimin, irhamna
Seakan tak berdaya di peluk lambai rengkuh purnama

Wa’afina wa’fuanna

Carut marut cinta hakiki tergenggam dalam hati

Hendak ke mana kujumpai tanpa luka ini?
Belaianmu sungguh indah tak terlukiskan,
Kumerindu dendam dalam setiap rimbun nadi tak terbilang

Melayang terbawa angin malam buih penghambaan

Haasibu anfusakum qobla antuhaasabuh
Tertunduk lemah kapar bak kapuk beterbangan

Hingga ku terlentang dalam singgasana pasrah kepada tuhan.

Telah Malam

Tidurlah,
Hari ini penat.
Pulanglah,
Lembayung telah tiada
Dan Alkamar sudah kentara

Nona, tidurlah
Rangkai mimpimu walau hanya selaras semu
Sudahi linangmu, biarkan hujan yang menggantinya

Hati terlalu remuk untuk berlama-lama dalam sepenggal lara

Kantuk sudah semalam menuntut
Telah larut,
Tidurlah

 

Oleh: Seroja Ainun Nadhifah

 

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan