oleh

Teman Sebangku

-Cerpen-461 views

Ruang kelas 2C menjadi ajang lomba cerdas cermat antar kelas 2 paralel Spensa 1985. Pak Lakapu yang memandu lomba tampil dengan senyuman khasnya. Guru bahasa Inggris itu membacakan soal babak rebutan. Soal terakhir. Dan sedikit mengecoh.

Tentang siapakah yang bertugas mengajar di kelas. Dirumuskan dalam bahasa Inggris. Makanya setelah dibaca, ia tersenyum beberapa detik karena tak ada kelompok yang merebut. Tiba-tiba kelompok utusan kelas 2B mengangkat tangan dan berseru dengan sumringah.

“Teacher!”
“Seratus!”

Suara ketawa gembira pak Lakapu tertutup oleh tepuk tangan dan riuh teriakan pendukung dari kelas 2B. Babak rebutan berakhir. Utusan kelas 2B merebut juara dengan nilai tertinggi.

Si juru bicara yang berteriak “teacher” itu namanya Jane. Jane adalah teman sebangku Prim, si anak Molo yang pendiam. Entah kenapa, wali kelas menempatkan mereka berdua sebangku. Jane yang tomboy, cerewet, supel, cerdas, juara kelas, disuruh duduk sebangku dengan Prim yang pendiam, pemalu, peminat sastra, rengking kesekian di belakang sang juara kelas.
Dalam pelajaran Matematika yang mematikan, Prim tak berdaya. Sebaliknya Jane digdaya. Tak ada lawan. Semua soal disapu bersih.

Dalam pelajaran bahasa Inggris, keduanya bersaing. Pak Tanelap yang selalu menyapa siswa di awal pelajaran “Good morning, boys and girls”, biasanya menyuruh para siswa menghafal kata kerja tak beraturan. Irreguler verbs. Go went gone. Eat ate eaten. Dan seterusnya. Saat membentuk kalimat dengan kata kerja tidak beraturan untuk waktu lampau, Prim dan Jane bergantian menjawab semua pertanyaan pak Tanelap. Sampai pada titik tertentu hanya Prim saja yang bisa menjawab.

“Gone.” Suara Jane.
“Eaten.” Suara Prim.
“Risen.”
“Made.”
“Drunk.”

Di bidang sastra Indonesia, Prim yang dasarnya minat sastra melahap semua soal dengan mudah. Ibu Yuli, guru sastra, memberi kesempatan kepada para siswa untuk menulis puisi. Prim menulis dengan penuh semangat. Judulnya Desaku. Lukisan tentang Kapan, lembah subur di Molo Utara, penghasil jeruk Soe. Namanya jeruk Soe, tapi asalnya dari Kapan. Persis seperti ayam punya telur, tetapi sapi punya nama; telur mata sapi. Bukan telur mata ayam.

Di bidang studi yang lain, Prim hanya rata net. Sedangkan Jane di atas net. Itu ko tidak. Tapi keduanya bersahabat rasa saudara. Kalau siswa yang lain yang sebangku kerap berantem, keduanya adem ayem. Maklum ada yang lebih banyak diam dan mengalah. Ini yang bikin heran teman sekelas. Kok bisa ya, si cerewet tukang ribut ini bisa jadi lumayan kalem ketika duduk sebangku dengan Prim. Entahlah, yang jelas keduanya akur dan saling mendukung dalam pelajaran. Prim juga biasanya bertanya mengenai matematika kalau tidak dimengerti. Sebaliknya Jane kadang-kadang bertanya tentang bahasa Inggris kalau ada yang belum diyakininya benar.

Di sebelah kanan keduanya ada teman sebangku yang lain. Tabita dan Atang. Tabita diam-diam menaruh hati pada Atang. Tetapi Atang tidak menyadarinya. Cinta bertepuk sebelah tangan. Sebelah kiri ada Agnes dan Udin. Udin si kidal menulis dengan bagus sekali. Hurufnya seperti huruf cetak. Kalau ada kesulitan catatan, biasanya Prim meminjam catatan Udin sebagai pembanding.

Sedangkan Agnes si hitam manis kepang dua termasuk jajaran lima besar kelas. Ia selalu tekun belajar. Terkadang, saat ulangan dan tukar pemeriksa, Prim mendapat tugas memeriksa pekerjaan Agnes. Pekerjaan Prim diperiksa Jane. Kalau itu pelajaran bahasa Inggris, Prim tersenyum sambil memeriksa. Tapi kalau Matematika, kepalanya langsung pening. Sebaliknya Jane juga pening karena harus memeriksa pekerjaan Matematika teman sebangkunya yang amburadul. Pusing ko tidak. Maka dalam hal kerja soal Matematika, keduanya sama-sama pening. Yang satu pening karena tidak tahu Matematika. Yang lain pening karena bingung mau bilang apa.

Suatu hari, guru bahasa Indonesia tidak masuk karena sakit. Seisi kelas ribut. Prim mengambil buku cerita dari dalam tas dan mulai membaca. Jane yang cepat bosan jika tidak ada pelajaran mulai usil. “Hei, kawan. Buku apa itu? Coba lihat?” Lalu tanpa permisi langsung merebut buku itu dari tangan Prim.

“Ah, ini buku tidak menarik. Ada buku lain? Cerita detektif?”

“Tidak ada. Hanya yang ini saja.”

“Hiiii, bosan, e. Sonde ada yang menarik. Beta lupa bawa beta punya.”

Jane menuju Kety. Prim kembali tenggelam dalam bukunya. Keasyikan sendiri. Seakan-akan ia adalah tokoh cerita itu. Imajinasinya mengembara ke mana-mana mengikuti alur cerita. Suara hingar bingar kelas tak didengarnya. Jane telah asyik juga dengan Kety dan kawan-kawan.

Tiba-tiba kelas seketika sunyi. Jane berlari buru-buru ke samping Prim dan duduk dengan sopan. Kety yang duduk di depan dekat pintu melongo memandang siapa yang berdiri di depan pintu kelas. Pak Ar Tlonaen. Pak guru yang paling ditakuti seluruh siswa. Dalam waktu singkat kelas yang tadi gaduh kini sunyi dan tertib. Tanpa kata Pak Ar kembali ke kelasnya dan mengajar.

Jane mengambil buku pelajaran Matematika dan mulai mencakar soal. Karena pelajaran berikut adalah Matematika. Diapun akhirnya keasyikan sendiri. Teman sebangku. Yang satu sibuk membaca buku sastra. Yang lain sibuk mencakar soal matematika. Yang satu senang berimajinasi. Yang lain senang dengan ilmu pasti. Bagi yang satu, matematika itu mematikan. Bagi yang lain, matematika itu menyenangkan. Yang satu mati-matian mendekati juara kelas. Yang lain langganan juara kelas.

Setiap kali ada lomba cerdas cermat antar kelas atau sekolah, nama Jane selalu disebut. Nama Prim tidak disebut. Hanya disebut oleh Jane kalau ada hal tertentu dalam hal bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang mau didiskusikan. Prim menjadi pendukung utama teman sebangkunya untuk ikut lomba. Umumnya juara disabet oleh Jane dan kawan-kawan setim. Banyak trofi di sekolah adalah sumbangan Jane dan kawan-kawan seperti Tino atau Owil atau Rara.

Prim berhenti membaca. Ia melihat Jane masih tekun mengerjakan soal Matematika. Terpengaruh oleh buku yang dibacanya, ia pun berbisik pada Jane.

“Ssstt…”
“Hmm…?”

“Engkau punya cita-cita apa?” tanya Prim lirih.

“Saya mau jadi dokter. Engkau punya?”
“Saya mau jadi pilot. Biar bisa terbang.”

Setamat SMPN 1 Soe, Jane dan Prim berpisah. Yang satu ke SPG, yang lain ke seminari di Atambua. Jane kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Teologia dan menjadi pendeta. Prim kemudian belajar di Fakultas Filsafat dan menjadi pastor. Jalan hidup setiap orang unik. Tak ada yang dulu membayangkan bahwa kedua remaja teman sebangku ini kelak akan menjadi pendeta dan pastor. Tuhan menyelenggarakan semuanya indah pada waktunya.

Suatu hari, bertahun-tahun kemudian, Jane dan Prim duduk sebangku lagi dalam pertemuan kitab suci.

“Kawan, kenapa dulu pintar sekali bahasa Inggris?” tanya Jane.

“Karena bahasa Inggris itu aneh,” jawab Prim.

“Apa? Aneh? Yang betul saja, kawan.”
“Iya, betul. Bahasa Inggris itu aneh. Ini anehnya. Tulis lain, baca lain.”
“Hahahahaa… Betul juga, e?”

“Itu ko tidak. Makanya kita punya nasib seperti bahasa Inggris.”
“Maksudnya?”

“Tulis lain baca lain. Cita-cita lain, jadinya lain. Hahahahaaa….”

Keduanya ketawa gembira sambil mengenang masa-masa belajar dalam balutan seragam putih biru. SMP Negeri 1 Soe.

Tamat

Persembahan untuk teman sebangku Pdt. Dr. Adriana J.M. Tunliu

 

Oleh: Prim Nakfatu

Komentar

Jangan Lewatkan