oleh

Uang Temuan

-Cerpen-272 views

Akhir-akhir ini, Masdar banyak pikiran. Ia telah maju sebagai calon kepala desa, tetapi ia ragu akan bisa mengalahkan seorang rivalnya. Padahal sebelumnya, ia yakin akan menjadi pemenang pemilihan berdasarkan taksirannya bahwa sebagian besar warga mendukungnya. Tetapi akhirnya, keyakinannya goyah juga setelah menyaksikan konstelasi politik yang berubah drastis.

Dalam soal politik, memang tak ada hitungan yang pasti. Angka-angka statistik akan selalu bergolak seiring peraduan taktik. Dan faktor yang paling berpengaruh tiada lain adalah uang. Karena itulah Masdar jadi sangat khawatir kalau-kalau ia akan kalah karena lawannya melancarkan politik uang, sebab ia sama sekali tak punya daya untuk bermain uang.

“Apa kau benar-benar akan maju sebagai calon kepala desa?” tanya Jumran, seorang petani kopi yang sukses, enam bulan yang lalu.

Masdar pun mengangguk tegas. “Tentu saja.”

“Memangnya, kau punya rencana apa sampai kau ingin menjadi kepala desa?” ulik Jumran, dengan nada tanya yang meremehkan.

“Aku punya tekad untuk memajukan desa,” tuturnya, tenang. “Sudah tiga periode Kepala Desa kita memerintah, tetapi kulihat, kemajuan desa kita hanya seadanya. Padahal, dengan potensi sumber daya alam di desa kita ini, semua masyarakat seharusnya hidup berkecukupan.”

Seketika, Jumran tertawa pendek. “Tetapi apa kau yakin akan menang?”

Masdar pun mengangguk. “Aku sudah memperkirakannya baik-baik. Dan kutaksir, banyak warga yang menyenangiku.”

Jumran lantas mendengkus. “Tetapi kau tahu sendiri kalau situasi politik tidak pernah stabil. Popularitas dan elektabilitas, pada akhirnya akan goyah juga menjelang pencoblosan karena perkara uang. Apa kau sudah menimbang-nimbang soal itu?”

Sontak, Masdar tergelak. “Aku sih tidak terlalu peduli soal itu. Apalagi, aku memang tidak punya modal jika harus bertarung uang,” katanya, lantas mendengkus. “Lagi pula, aku kira warga di sini masih banyak yang akan memilih karena pertimbangan nuraninya. Aku yakin akan menjadi pemenang atas dukungan mereka.”

“Kau yakin?” tanya Jumran, terkesan mengetes.

Masdar pun mengangguk tegas. “Ya. Asal kau turut mendukungku.”

Jumran hanya tertawa.

Pada awal-awal waktu setelah percakapannya dengan Jumran itu, prinsip dan keyakinan Masdar sama sekali tak goyah. Ia yakin akan memenangkan pemilihan melawan calon mana pun atas dukungan masyarakat secara murni. Tetapi kini, ia kembali menimbang-nimbang peluangnya. Ia khawatir kalau taksirannya melenceng karena permainan uang. Apalagi, di luar perkiraannya, yang akan menjadi lawannya dalam pemilihan adalah Jumran.

Tak pelak, Masdar terus menimbang-nimbang kansnya atas rencana dan taktik perpolitikannya yang lurus-lurus saja. Hari demi hari menuju pemilihan, ia makin deg-degan dan makin tidak percaya diri. Itu karena ia jadi begitu khawatir kalau-kalau dikalahkan oleh Jumran karena permainan uang. Kerena itu, ia pun mulai mempertanyakan idealisme politiknya sendiri.

Dan kini, Masdar kembali memulai hari dengan perasaan gamang. Ia membuka pintu dengan semangat yang layu, kemudian melangkah menuju ke depan rumahnya untuk membuang sampah di penampungan. Sampai akhirnya, selepas itu, matanya tertuju pada sekantong plastik berwarna merah di pinggir jalan, yang tampak seperti sampah yang tercecer. Ia lantas melangkah untuk mengambilnya, untuk ia tempatkan di penampungan juga, sebelum isinya berserakan dan mengotori lingkungannya.

Namun seketika pula, ia terkejut hebat. Ia jadi sangat bimbang atas kenyataan yang ia saksikan. Pasalnya, lewat celah-celah bukaan plastik tersebut, ia bisa melihat uang pecahan seratus ribu di sisi dalamnya, dengan jumlah yang tidak sedikit. Karena itu, ia pun lekas menimbang-nimbang kepentingan politiknya. Hingga akhirnya, setelah ia yakin bahwa tak ada orang yang memerhatikannya, ia pun membawa plastik beserta isinya itu ke dalam rumahnya.

Untungnya, ia bisa merahasiakan temuannya itu dari pengetahuan anggota keluarganya. Itu karena ia tengah sendiri di rumahnya sebagai seorang tukang bangunan yang sedang tidak punya proyek pekerjaan. Istrinya telah pergi mengajar sebagai guru SD berstatus honorer, dan anaknya telah berangkat ke sekolah sebagai siswa kelas II SMP. Karena itulah, ia punya keleluasaan untuk merancang rencana tindak lanjut terkait uang temuan tersebut.

Akhirnya, dengan perasaan yang begitu senang dan bersemangat, ia pun masuk ke dalam kamarnya, kemudian mengunci pintu rapat-rapat. Ia lantas menumpahkan uang temuannya di atas kasur, hingga ia melihat ikatan-ikatan uang pecahan seratus ribu rupiah dalam jumlah yang banyak. Ia lalu menghitung nominal pada satu ikatan, dan ternyata sejumlah satu juta rupiah, sedang secara keseluruhan ada tiga puluh ikatan uang serupa.

Untuk beberapa lama, ia pun merenung. Ia mikir-mikirkan perihal perlakuan yang tepat untuk uang sebanyak itu. Ia merasa ragu-ragu juga untuk menggelapkan dan menggunakannya, sebab ia khawatir pada ancaman hukum, karena sang pemilik pasti akan mencarinya dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, untuk sementara waktu, ia menyimpan uang itu di dalam lemari, kemudian memantau keberadaan orang yang akan berlalu-lalang mencari uangnya yang hilang.

Detik demi detik, ia pun duduk saja di balik jendela, sembari mengintip-intip keadaan pada jalan di depan rumahnya. Ia lantas menyelisik gelagat orang-orang yang melintas untuk membaca sosok merupakan pemilik dari uang temuannya. Hingga akhirnya, ia menyaksikan Jumran telah tiga kali berlalu-lalang di depan rumahnya dengan sepeda motor. Dengan begitu saja, ia menduga bahwa uang tersebut adalah milik sang calon kepala desa rivalnya. Ia pun menduga bahwa uang tersebut ada hubungannya dengan perkara pemilihan kepala desa.

Akhirnya, dengan begitu saja, ia terpikir pada sebuah rencana baru di tengah anggapannya bahwa Jumran telah gagal melancarkan taktik piciknya. Ia yakin bahwa Jumran hendak menumbangkannya dengan cara culas, dengan berbekal uang yang kini telah berada di dalam kekuasaannya. Karena itulah, tanpa pertimbangan lagi, ia pun memutuskan untuk melakukan serangan balik dengan memanfaatkan uang tersebut.

Dengan penuh kesenangan, ia akhirnya mengabaikan saja perihal perasaan Jumran yang ia yakin tengah kelimpungan mencari uangnya yang hilang. Dengan nafsu balas dendam yang menggebu-gebu, ia pun terus mematangkan rencananya untuk mencuri perhatian masyarakat dengan bermodalkan uang tersebut. Dengan sepenuh pikiran, ia menetapkan langkah-langkah pendekatan yang akan ia lakukan kepada masyarakat demi mendulang suara di hari pencoblosan.

Tak jauh-jauh dari taktik pencitraan politikus pada umumnya, dengan memanfaatkan uang temuannya itu, ia pun berencana untuk mencetak spanduk, pamflet, dan kalender yang berisi slogan dan janji politiknya. Dan sebagaimana lazimnya kontestasi politik di negeri ini, ia pun berencana untuk menyisihkan sebagian uang temuannya untuk melancarkan serangan fajar. Dan kesemua itu telah ia rancang di dalam buku catatan pribadinya, dan sisa ia tunaikan untuk menumbangkan Jumran pada hari pencoblosan dengan perolehan suara yang telak.

Tetapi untuk sementara, ia tak ingin buru-buru dalam mengambil langkah. Ia ingin melakukan pendekatan alamiah kepada masyarakat supaya ia tidak dicap sedang melakukan pencitraan. Karena itulah, untuk waktu-waktu dekat, ia berencana untuk menunjukkan kebaikannya secara personal kepada orang-orang dengan memberi hadiah, sedekah, atau sumbangan. Soal taktik sosialisasi dan kampanye yang konvensional, akan ia lakukan di kemudian hari.

Hingga akhirnya, setelah lewat tengah hari, ia pun mengambil langkah pertamanya. Ia menahan seorang pemuda yang melintas di depan rumahnya dengan sepeda motor, kemudian meminta agar diantarkan ke sebuah warung yang tidak jauh. Setelah sampai pada tujuan yang dimaksud, ia pun memberikan selembar uang seratus ribu rupiah, sehingga sang pemuda merasa sangat senang.

Sesaat kemudian, ia lantas bersantap di sebuah warung. Setelah makan dan mengambil pesanan untuk anak-istrinya, ia pun memberikan uang sebanyak dua ratus ribu rupiah, dan pemilik warung menerimanya dengan begitu senang. Setelah itu, ia lalu berbelanja makanan ringan di sebuah toko kelontong, dan ia kembali memberikan bayaran yang berlebih, yang membuat sang pemilik toko bergembira. Terakhir, di tengah langkah pulangnya, ia lantas singgah di rumah seorang bendahara pembangunan masjid, dan ia pun menyerahkan sumbangan yang terbilang banyak, hingga sang pengurus sangat berterima kasih.

Sampai akhirnya, saat waktu menjelang sore, ia pun sampai di rumahnya dengan perasaan senang sebab langkah awalnya berjalan mulus. Ia lalu masuk ke dalam rumahnya, kemudian menyerahkan makanan kotak dan makanan ringan untuk anak dan istrinya, hingga keduanya bergembira.

Seketika pula, ia merasa berarti telah berhasil menyenangkan sejumlah warga, juga anak dan istinya, sehingga ia mendapatkan pujian-pujian. Ia pun jadi terbuai oleh angan-angannya sendiri, kalau-kalau kelak, ia menjadi kepala desa yang dihormati oleh para warga, serta dibanggakan oleh anak dan istrinya. Jikalau demikian, ia tentu akan merasa sangat bahagia.

Tetapi sesaat kemudian, saat ia tengah meminum kopi dan menonton televisi, sedang anak-istrinya tengah bersantap lahap, tiba-tiba, ia mendengar ketukan dan seruan salam dari daun pintu. Ia pun menaksir bahwa sang tamu adalah kepala dusunnya berdasarkan warna suara yang tertangkap di telinganya. Ia pun merasa senang atas kebetulan itu, sebab ia memang telah berencana memberikan sumbangan kepada sang kepala dusun untuk perbaikan lapangan voli di dusunnya.

Namun seketika, setelah membuka pintu, ia pun terkejut setelah melihat bahwa sang kepala dusun datang bersama dua orang personel polisi.

“Ada apa, Pak?” tanya Masdar, penasaran

“Bapak ikut kami ke kantor,” tutur seorang polisi.

“Untuk apa?” sergah Masdar, bingung.

“Berdasarkan laporan warga, Bapak diduga telah menyebarkan uang palsu,” terang sang anggota polisi.

Seketika, Masdar kelimpungan. Kesadarannya meredup. Jiwanya seolah-olah setengah melayang keluar dari raganya. “Tetapi…” Ia tak kuasa menuntaskan penjelasannya.

“Bapak ikut saja. Nanti Bapak jelaskan di kantor,” sela sang anggota polisi.

Masdar pun pasrah.

 

Oleh: Ramli Lahaping / Alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar

 

Sumber: nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan