oleh

Memesan Bunga Kematian

-Cerpen-281 Dilihat

“Selain Pancasila, Soekarno, dan sederet peristiwa-peristiwa sejarah penting kebangsaan lainya, peristiwa atau momen bersejarah semacam apa yang paling membekas dalam ingatanmu dari Juni yang terus berulang; apakah umur yang baru atau patah hati yang didramatisir dengan hujan dan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono?” tanya Julio.

“Dasar lelaki! Tidak perlu berpura-pura dan berlagak bodoh begitu, Julio. Aku ingin di hari peristiwa perjalanan awal mula aku bertemu denganmu, engkau membawa bunga yang pernah engkau janjikan itu,” jawab Hana.

“Hhhhhhhhhh…… baiklah. Dari semua tanyaku, engkau memilih umur sebagai peristiwa yang membekas dalam ingatanmu. Lantas apa yang kamu, yang kebetulan dalam beberapa hari ini akan berulang tahun, pikirkan ketika umur berganti, Hana?” Julio kembali bertanya.

“Kematian, persis! Kematian adalah mutlak. Kematian melampaui segalanya; melampaui hitungan-hitungan  kuantitatif, pernak-pernik ucapan selamat, bahkan kelahiran. Kelahiran tidak pernah mutlak sebab orang bisa saja memilih untuk tidak dilahirkan atau memutuskan untuk tidak melahirkan, memilih untuk tidak menghitung umurnya, memutuskan untuk tidak menerima ucapan ‘selamat ulang tahun!’ dari siapa saja, tetapi tidak dengan kematian.”

“Orang bisa saja memutuskan ‘saya ingin mati hari ini melakukannya dengan cara-cara yang sederhana’. Orang tidak bisa memutuskan ‘saya ingin hidup lebih lama, seribu tahun lagi’. Sebab kamu bisa saja mati dengan ‘kematian yang tak bermakna’, kematian yang tanpa ada tanda-tanda akan kematian,” jawab Hana.

“Buku apa yang baru saja dia baca?” Julio bertanya membatin.

Jawaban-jawaban Hana itu membuat Julio mendadak diam, tidak bertanya apa-apa lagi ke kekasihnya itu, meski ada banyak hal yang hendak ia tanyakan, bahkan rencananya untuk mengajak Hana berkencan malam nanti ia lupa sampaikan sebab ia kebingungan dengan jawaban yang diberikan kekasihnya itu.

Tetapi Julio berusaha untuk tidak terlihat kebingungan di hadapan kekasihnya itu dengan berpura-pura  mengapresiasi pemikiran kekasihnya itu.

“Sungguh pikiran yang canggih! Sayang, bahkan jika engkau membaca Plato, engkau akan menjumpai dialog tentang kematian Socrates dengan para muridnya. Socrates meyakini murid-muridnya bahwa dengan meninggal dunia, nasib jiwa justru menjadi lebih baik.”

“Hana, maaf, aku harus segera pulang! Ada hal yang harus segera aku selesaikan di kampus hari ini!” tambah Julio.

Hana segera berbalik badan. Bola matanya menatap tajam ke arah Julio, bak anak panah dengan tarikan yang kencang dalam posisi siaga lepas dari busurnya

”Baiklah, hati-hati di jalan! Ingat, seperti kematian, tanpa engkau menyadarinya, cintaku memantau setiap gerak tubuhmu, sayang,” Hana bertutur kelakar.

Hana yang adalah seorang peminat behaviorisme itu tahu persis bahwa kekasihnya itu kebingungan, penuh tanya dengan jawaban yang diberikannya. Hana membaca gerak tubuh dan mimik muka Julio persis pada saat mereka saling tatap, saat Julio berpamit pergi.

Di kedai kopi yang tak jauh dari kampus, Julio memikirkan ucapan-ucapan kekasihnya itu. Tidak lupa pula ia memberitahu Hana perihal kencan yang hendak ia adakan. Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan HP.

“Hana, aku ingin mengajakmu berkencan nanti malam. Aku harap engkau mengiakannya,” tutur Julio via WA.

“Maaf, untuk sekarang aku sibuk, Julio! Bagaimana kalau nanti tepat pada malam aku merayakan ulang tahunku? Aku harap kau tidak keberatan dengan tawaranku ini, Julio,” Balas Hana, tak lama setelah Julio mengirimkan pesannya.

“Oke, Baiklah. Di tempat biasa, ya!” balas Julio, tanda ia mengiyakan tawaran kekasihnya itu.

Serumpun Bunga dan Malam Kematian

Kini hari ulang tahun Hana telah tiba. Pagi-pagi sekali Julio menghubungi Yana, meminta bantuannya untuk segera mencari dan memesan bunga-bunga yang indah untuk diberikan kepada Hana nanti malam.

Yana adalah perempuan seusia Hana, yang merupakan sahabat Julio. Mereka bersahabatan sudah sedari kecil, selalu ada bersama. Persahabatan itu setidaknya bermula ketika mereka bertetanggaan dulu, sebelum kemudian Yana dan keluarganya pindah ke salah satu kompleks perumahan mewah yang letaknya tak jauh dari tempat semula mereka tinggal.

“Halo, Julio. Bungamu telah kupesan, dan sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Apakah aku harus mengantarnya ke rumahmu segera selepas bunga itu kuterima, atau nanti malam saja kubawakannya ke tempat kalian berkencan, sekalian aku ingin berkenalan dengan kekasihmu itu?” seru Yana di telepon.

“Halo, Yan. Bawakan saja nanti malam, jika memang engkau merasa tak keberatan,” sahut Julio.

“Baiklah, Julio,” balas Yana, tanda ia menyetujui permintaan sahabat kecilnya itu.

Malam yang telah dijanjikan pun tiba. Di tempat yang telah dijanjikan, Julio tiba lebih awal, menyiapkan segala sesuatu untuk merayakan ulang tahun kekasihnya itu. Julio telah siap dengan sepotong tar yang dihiasi lilin berukuran kecil menyerupai petasan-petasan dengan daya ledak yang rendah menyambut kedatangan kekasihnya, Hana. Hanya tersisa bunga yang belum ada.

Yana yang dipercayakan untuk membawa bunga, hingga saat itu, tak memberi kabar. Kontak HP-nya tidak dapat dihubungi. Sementara di pintu masuk tempat itu, sesosok gadis berperawakan tinggi dengan rambut terurai, bergaun merah marun berlapis bolero, mengendap-mengendap masuk.

“Oh.. Tuhan, itu Hana,” gumam Julio.

Tak menunggu lama, Julio bergegas menghampiri Hana.

“Selamat malam, Kekasihku!” sapa Julio sembari tersenyum bahagia.

Julio tampak bahagia dan begitu terpukau dengan penampilan kekasihnya malam itu, sampai ia lupa akan apa yang ia janjikan untuk kekasihnya itu malam ini, bunga.

“Hai, selamat malam juga, Julio kekasihku!” balas Hana.

Tanpa menunggu lama, Julio menggenggam jemari Hana, mengaraknya masuk menuju meja tempat mereka duduk merayakan peristiwa penting itu, ulang tahun.

Perayaan peristiwa penting dimulai dengan Julio yang mengecup mesra kening Hana, sembari berucap, “Mengapa engkau memikirkan kematian, sesuatu yang tak terpikirkan bahkan oleh seorang yang renta dan senja?”

“Eh, aku tak melihat janjimu di sekitar sini. Bunga, Julio!” balas Hana.

“Sayang, bunga itu ada pada Yana. Tadi pagi aku meminta bantuannya untuk membelikan bunga itu, sebab aku tak tahu jenis bunga apa yang engkau suka. Dan Yana tak keberatan, bahkan untuk membawakan bunga itu, malam ini. Bersabarlah sebentar!” balas Julio dengan nada suara yang begitu lembut.

“Ah, dasar lelaki jalang, semua perempuan kau pacari!” cetus Hana marah.

Julio berpaling, cetus kasar Hana itu tak dibalasnya. Suasana mendadak hening.

Hana yang tak tahan dengan suasana sedih itu pun berlari pergi meninggalkan tempat itu. Namun di luar tak jauh dari pintu tempat mereka berkencan, tampak warga berkerumun memenuhi bahu jalan.

Seorang yang tua keluar dari kerumunan itu dan mendekati Hana lalu berkata, “Nona, ada mayat seorang gadis dengan serumpun bunga di parit itu.”

“Itu Yana!” seru Julio yang sudah sejak tadi berada di belakang Hana.

 

Oleh: Rino Sengu / Mahasiswa Pendidikan Sosiologi di Unimerz Makassar

Artikel ini sudah terbit di nalarpolitik.com

Komentar