oleh

Mereka Terjebak Dalam Rangkaian Waktu

-Cerpen-36 Dilihat

Berawal dari sebuah kebosanan yang melanda di tempat itu. Lalu ia pindah dari suatu tempat ke tempat yang lainnya untuk memenuhi kenyamanan dirinya sendiri dan mengusir suatu kesuntukan yang mengusik hatinya. Awalnya ia tidak tahu di tempat yang baru saja pindah dan ia singgahi sementara itu. Ia bertemu dengan wanita yang menurut dirinya cantik, walaupun pada kenyataannya kecantikan itu baginy barangkali bagi para kaum lelaki adalah relatif. Tapi pada tahap ini ia dapat mengukur suatu nikmat yang telah ia rasakan sebelumnya. Nikmat yang telah diberikan oleh suatu keadaan tertentu yang membuat dirinya menjadi lebih sejuk.

Pada hakikatnya ia tidak pernah mengetahui dengan pasti seluk-beluk suatu peristiwa yang tengah menimpanya, dan mengetahui ketika ia telah sesampainya di rumah, menganalisa suatu keadaan tertentu dan merenunginya, dan akhirnya ia memahaminya. Di tempat itu ia hanya mengamati suatu keadaan dan situasi yang bisa ia lakukan, memperbincangkan suatu hal yang menurutnya menarik untuk diobrolkan dengannya, hingga waktu berubah menjadi sebuah perpisahan semu. Ia tidak paham sama sekali kapan dan terakhir kalinya bisa bertemu dengannya membicarakan soal yang indah. Walaupun itu adalah kali pertamanya ia bertemu di suatu kedai di kota Malang.

“Ini seperti suatu cermin, bertolak-balik,” katanya sambil memandangi gadis itu dengan matanya yang berkaca-kaca.

Alunan nada indah keluar dari kotak yang menggantung di sudut ruang kedai itu. Indah dan menakjubkan, gumamnya. Sembari mengiringi suasana yang teduh kala itu dan melempar senyum pula pada gadis yang dirasa mempesona, menarik perhatiannya, menarik bagi perasaannya. Dan ia tahu, tak sadarkan betul peristiwa akan terjadi lamat-lamat dengan gadis itu. Ia pun merasa senang dalam situasi seperti ini. Merasakan kebahagian sedikit demi sedikit yang akan ditorehkannya, lalu berujar.

“Lagu ini mengingatkan aku pada sebuah kenangan, kali pertamanya aku bertemu pada seseorang seperti kamu juga. Tapi menurutku kamu lebih indah dari apapun,” kata pemuda dengan suara lemah lembut.

***

“Kalau tidak salah judulnya ‘Sesuatu di Malang’, aku lupa nama yang menciptakan lagu itu, tapi aku menganggap itu indah,” kata wanita yang menanggapi ucapan pemuda itu dengan perasaan malu.

“Oiya, siapa namamu?” tanyanya.

“Anya. Kamu?” ia menjawab dan kembali melemparkan tanya.

“Aldi. Senang berkenalan denganmu…” kata pemuda itu sambil memandang wajah indahnya Anya dengan penuh perasaan gembira.

Mereka berdua melanjutkan sebuah percakapan, dan mengisi dialog demi dialog agar tidak kosong dan tidak merasa bosan. Membahas apa saja, hingga lupa pada satu titik di mana waktu tetap berjalan maju. Detik perlahan menjadi menit, dan kemudian berjam-jam tanpa rasa jemu dan hampa, selalu mengisi satu sama lain dengan sebuah percakapan yang menyenangkan.

***

Waktu itu adalah sebuah malam di akhir pekan. Tanpa disadari mereka berdua terjebak di antara sebuah peristiwa yang membuat mereka bahagia. Dan tidak ada yang tahu pula kebahagiaan seperti apa yang mereka gariskan dalam perasaan hatinya. Saling melempar senyum dengan rasa tulus, dan melengkapi obrolan satu sama lain yang membuat mereka lupa waktu. Terjebak dalam pusara labirin waktu dan sulit terlepas dalam sebuah ingatan di masa depan.

Sementara, kedai di kota itu perlahan terisi oleh orang-orang yang berjejalan memesan sebuah minuman maupun makanan ringan. Ada sepasang kekasih yang sedang memadu cinta entah sudah berapa lama ia menjalinnya, terlihat saling bergandeng tangan dan mesra. Ada pula serombongan lelaki beserta kawan-kawannya yang sedang duduk di sisi pojok kedai. Dan para kaum hawa beberapa orang yang sedang menghabiskan waktu sambil bergunjing, yang entah sedang memperbincangkan tokoh siapa yang sedang hangat dan menarik untuk dibicarakan, atau sedang menggosipkan seleb yang tengah naik daun, atau seorang tokoh idolanya yang barang kali adalah oppa-oppa Korea dari selatan maupun utara. Entahlah ia tidak fokus menyimaknya….

Sebuah pertemuan menjalin rangkaian peristiwa, sebuah peristiwa merangkum jalannya waktu, dan sebuah waktu mengurutkan kisah dari awal hingga akhir. Pertemuan berujung perpisahan. Perkenalan yang berakhir dengan pertemanan, atau persahabatan, atau kekasih, atau bisa jadi permusuhan. Tidak ada yang tahu dan bisa menentukan.

***

“Bagaimana caranya mengabadikan waktu singkat ini dari sebuah peristiwa yang tak pernah kita rencanakan dari sebuah pertemuan, walau demikian halnya adalah ilusi waktu yang fana, yang kita tidak bisa menjaring lebih lama lagi waktunya dalam pertemuan. Tapi semua ini adalah proses menjadikannya abadi bila dituliskan, dan menjadi sebuah bingkai kenangan yang dapat dibaca di kemudian hari, lebih tepatnya di masa depan,” ujar seorang pemuda itu yang memikirkan kejadian yang serupa.

Wanita yang molek itu tidak pernah mengetahui keinginan sosok pemuda dalam hatinya. Ia ingin berlama-lama di dekatnya, merasa nyaman, merasa aman dan seperti tidak ada yang mengusik kebahagiaannya. Tapi yang pemuda tahu adalah wanita itu bermurah senyum, merasa tidak ada sedikit kegelisahan di wajahnya, dan yang lebih ia sukai adalah ekspresinya yang apa adanya tanpa dibuat-buat.

Ia ingat beberapa hari sebelum kejadian ini, di kamarnya, sedang mengenang sosok seseorang yang selalu singgah dimemori, kadang merasakan kehampaan dan kedukaan yang mendalam yang ia rasakan. Memandang berlama-lama cahaya rembulan di malam itu, sambil mengisi kekosongan hatinya selama ini. Berharap seseorang selalu datang menjemput penantiannya, dan menjalin sebuah ikatan kebersamaan. Melukiskan sebuah wajah wanita diingatannya, merasakan getaran simfoni nada indah ungkapan yang pernah ia rasakan, dan menuliskan kisah kasih yang ia rajut ketika sesorang datang dalam kehidupannya, mengubah hidupnya menjadi lebih hidup dan selaras seperti bunga yang tumbuh-menumbuh, dan mengisi kekosongan ruang hatinya.

Suatu hari nanti akan menjadi sebuah kerinduan di masa yang akan datang setelah kejadian ini, antara Anya dan Aldi, tanpa rasa malu menceritakan kisah yang pernah dialami ketika itu nantinya. Mengisi ruang kosong dengan sebuah cerita cinta dan pengalaman pribadinya masing-masing. Dengan keindahan romantis yang pernah ia gapai sebelumnya, “kamu pernah membayangkan, suatu hari nanti ketika kita tidak bertemu lagi, kamu akan mengingat-ingat hari ini, dan merindukannya,” kata Aldi

“Tentu, aku dapat membayangkannya bagaimana awalnya kita bertemu, bercerita dan berbagi kisah, dan aku akan melupakan sebuah perpisahan, karena menurutku perpisahan adalah sebuah malapetaka,” kata Anya dengan perasaan yang gamang karena suatu jawaban itu yang tidak dapat ia bayangkan lagi, dan hanya bayangan itu sendiri yang nantinya bisa membayangkan dirinya.

“Kamu tahu tidak, aku lebih suka memandang wanita yang berkacamata, berpakaian tertutup dan bernada lemah lembut sepertimu.”

“Mengapa?”

“Karena terlihat cerdas dan dewasa.”

“Ah, kamu bisa saja menggapai hatiku.”

“Tidak, aku hanya ingin mengenal dirimu lebih dekat dan dalam saja.”

Kemudian percakapan yang baru saja terjadi terhenti oleh rumusan waktu peristiwa yang konon tidak dapat diduga-duga, membuat mereka berdua terhempas dan keluar dari sebuah kapal yang mengarungi ombak dan lautan lepas.

***

Sementara di sisi lain waktu tetap bergulir maju ke depan, dan mereka berdua tidak bisa, dan tidak berdaya memutuskan ketetapan waktu. Dingin semakin menikam kulit, juga jaket-jaket terhempas bergoyang tertiup angin malam yang sepoi-sepoi. Dan kejadian peristiwa seperti itu akan menjadi sebuah masa lalu di masa depan.

Jika kita tarik mundur pada suatu rangkaian peristiwa waktu yang belum terjadi. Aldi, jika saja ia tidak pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tidak mengindahkan rasa kebosanannya, dan lebih memilih untuk mencoba mengusir rasa tersebut menjadi sebuah kebahagiaan yang dimilikinya, ia akan menjalin sebuah pertemuan. Yang pada dasarnya adalah berkenalan-tidak berkenalan. Maka peristiwa itu menjadi suatu simbol mengenal Anya.

Begitu juga sebaliknya jika Anya, tidak ke kedai kopi pada hari itu, atau Anya ke kedai kopi di tempat yang berbeda, maka semua itu tidak dapat saling bertemu antara keduanya, tidak saling mengenalnya satu sama lain, tidak adanya sebuah cerita yang mereka berdua gariskan. Begitu juga bila ia hanya di rumah saja pada malam itu, tidak mendapatkan sebuah pertukaran kisah ini, yang mereka miliki di dalam isi kepala, dan tidak saling berbagi.

Kejadian itu memang sudah biasa terjadi, namun kita tak pernah menyadarinya. Aldi lebih memilih untuk mendapatkan teman baru, suasana baru, dan hal-hal baru untuk suatu pengalaman yang belum pernah ia lakukan. Dan juga Anya, ia senang berbagi kisah-kasih pada seseorang, memberi perasaan dengan sebuah kedekatan satu sama lain, mendapatkan hal-hal baru juga dan pengalaman yang tak pernah bisa terlupakan.

***

Bagaimana jika waktu berhenti, kata Anya, dan mereka tidak akan saling pernah bisa memahami cara kerjanya waktu, urutan, dan rumusannya. Barangkali itu adalah sebuah bentuk kisah indah yang hanya waktu yang menerjemahkannya dalam bentuk sebuah kejadian ganjil selama itu. Sedangkan mereka berdua saling merasakan adanya getaran cinta di dalam hatinya, tapi mereka berdua tidak akan pernah saling memilikinya, bisa jadi untuk selamanya.

Pada akhirnya ia keluar dari kedai karena perkara waktu juga. Waktu yang menunjukan tengah malam dan berakhirnya kisah mereka berdua. Esok harinya ia tidak akan pernah mengingat kejadian itu, tidak pernah lagi mengingat namanya Anya, karena suatu penyakit alzheimer yang dideritanya membuat semua ini lupa, membuat kejadian tak akan pernah terjadi lagi dan lagi.

Namun kisah itu adalah kisah yang memilukan antara Anya dan Aldi yang pernah dibuatnya. Seperti kisah-kisah Romeo and Juliet, Layla Majnun dan kisah-kisah pertemuan dua insan yang bisa saling melengkapi satu sama lain yang akan berakhir dengan perpisahan ataupun sebaliknya. Kisah itu ditulis untuk dikirimkan kesebuah media agar seseorang dan seorang lainnya lagi dapat membaca kisah itu.

Sementara kejadian ganjil itu merubah seseorang menjadi lebih tegar dan lebih baik akan suatu keadaan. Dan pada akhirnya yang terpisah dari kedua tubuh yang tak saling memiliki akan bersatu dalam ikatan jiwa yang saling mengenal dan mengikat di kedalamannya, begitu juga cinta tak harus memiliki.***

 

Oleh: Lalik Kongkar

Komentar

Jangan Lewatkan