oleh

Perawan Amnesia di Pinggir Kota

-Cerpen-449 Dilihat

“Nak, kalau engkau nanti jadi perawat, kita akan jadi pelupa yang menawar luka.”

Riana masih mengiang rumput di petak-petak sawah yang sebentar lagi usai. Ia bekerja sejak lama sebelum bunga korma bermekaran di bibir sandaran bukit Busian. Riana sejenak duduk di pematang sawah sembari menegukkan secangkir kopi sore yang menjadi kebiasaan di kampung Kiloria. Ia memantapkan pandangan kepada warna senja yang memukau hatinya. Tapi itu tak memudarkan khayalannya yang asyik menghitung recehan-recehan uang logam di kaleng untuk anaknya yang akan sekolah jadi perawat desa.

“Bu, aku ingin sekolah di kota,” Amelia gadis yang menyodorkan secangkir beraroma kopi pada ibunya memantapkan nadanya yang polos.

Ia tersenyum melebarkan kedua bibirnya, menampilkan gigi ginsul dan lengkungan alis matanya yang akhirnya menjatuhkan parasnya yang elok. Ia sudah lama bermimpi menjadi perawat di desa. Tidak jarang ia bermain di rumah seorang perawat dari kota yang sering berlibur di kampungnya, sembari menanyakan secara lepas bebas tentang keasyikam perawat di kota.

“Aku ingin menjadi perawat yang nantinya akan mengeliling seluruh kampungku untuk menawar luka,” Amelia mengencangkan suaranya hingga senja menjemput ajal tanda berpulang dan tidak lagi memikirkan kakinya yang kesekian kali terantuk pada batu dan tanah ketika menuju rumah bersama ibunya.

Amelia kemudian mendaftarkan diri ke Fakultas keperawatan di pulau Jawa secara online dan dinyatakan lulus karena otaknya yang cemerlang. Benar saja bahwa Amelia sewaktu di SMK di desanya dikenal sebagai gadis bunga yang menjebak semua orang padanya dan pantaslah kalau Amelia bisa lulus dalam seleksi itu karena kepintarannya. Amelia kemudian menjadi mantap untuk melanjutkan impiannya menjadi perawat desa dengan dukungan Riana ibunya.

“Nak, kalau kau libur, sesekali bawalah roti dan kopi untukku,” Riana berusaha mencari kata yang cocok untuk seorang ibu yang akan merindukan anaknya yang berpamit dan kemudian berpisah.

Riana sudah hidup janda sekitar belasan tahun dan hidup berdua bersama Amelia. Riana bahkan bekerja di sawah sendiri untuk menghidupi anaknya yang tercinta Amelia. Amelia mengelengkan kepala, tidak mengungkapkan bahwa ia berjanji. Tepatnya, entahlah!

Ingatan Riana tiba-tiba tertuju pada tahun-tahun silam. Saat Amelia berkisah tentang mimpinya di depan makam ayahanda, Amelia cerita mengenai sekelumit situasi kampung yang tak memberi kesan yang menarik. Hanya ada luka dan amnesia, air keruh, dan kering lusuh.

“Aku menyukai kampung ini karena menyimpan banyak aset-aset kehidupan,” ujar Riana yang menyandarkan bahunya pada tiang utama di pondok yang reot.

Amelia paham betul ungkapan ibunya. Riana adalah ibu sekaligus kepala keluarga bagi Amelia. Riana bekerja di sawah tanpa menghitung jumlah waktu. Riana bahkan sering mengeluh dengan waktu yang membuatnya lelah.

“Nak, kalau kau di kota nanti, ingat kisah kita,” ujar Riana dengan nada sendu.

Amelia memilih kuliah di kota untuk memperoleh banyak pengalaman tentang menawar luka di kampungnya, yang ia janjikan pada ibunya. Amelia bahkan pernah mendengar kabar buruk dari keluarganya yang juga mengadu nasib di kota. Namun alhasil mereka menjadi gadis malam yang malang di pinggir kota. Ia tidak menghiraukan itu demi mimpinya menjadi seorang perawat.

“Amelia, apa benar kau mau kuliah di kota dan mengujungiku?” Riana mengulangi pertanyaannya.

Amelia tahu kesedihan ibunya. Sejenak ia menatap wajah ibunya, yang dijumpainya adalah rasa rindu dan ketidakrelaan untuk ditinggalkan.

“Ibu, apa ibu lupa kita akan menjadi penawar luka?”

“Aku tidak tahu cara menawar luka, aku lupa,” nada Riana mengabaikan bisikan Amelia yang membuatnya makin sendu.

“Tenang, bu, sesekali dalam liburan aku kembali mengunjungimu dan membawa roti dan kopi kesukaan ibu di pematang sawah,” kali ini Riana benar-benar dibanjiri air mata. Terharu. Amelia dan Riana kemudian harus ditelan waktu yang memisahkan dalam bersama.

Amelia dan Riana ibunya yang kini sudah 4 tahun berpisah tanpa ada kabar sama sekali. Riana selalu menunggu di pematang sawah berharap Amelia akan memanggil namanya, kemudian membawa janjinya. Riana menunggu janji Amelia, Riana capek dan duduk di teras pondoknya dan berujar, “Apakah Amelia amnesia? Mengapa Amelia lupa bahwa kita akan menawar luka bersama?”

Sudah beberapa kali Riana menulis sepucuk surat untuk anaknya Amelia dan mengirimnya di kantor pos. “Amelia, mana roti dan kopi yang kau janjikan kepadaku? Apa kau lupa, nak?” adalah kata-kata terakhir di setiap surat yang Riana tulis untuk Amelia.

Selama berbulan-bulan Riana menunggu surat balasan, namun belum juga ada kabar baik. Riana jatuh sakit dan kini umur makin renta. Riana benar-benar kesepian, hanya kesedihan yang menemaninya dan juga ditambah Amelia yang kini lupa menghiburnya dalam kabar.

Hingga di suatu musim gugur Riana didatangi petugas dari kantor pos pada pondoknya yang reot. Riana berpikir Amelia telah kembali menawar lukanya. Ia secara ajaib sembuh dari sakitnya.

“Akhirnya Tuhan berpihak padaku, anakku, Amelia perawatku telah kembali,” ujarnya dalam hati.

Namun ketika Riana mempersilakan mereka masuk, Riana tidak melihatnya dan kemudian Riana menengok keluar pondok yang didapatinya hanya daun-daun jati yang sedang lomba-lomba berjatuhan. Petugas kantor pos menyodorkan sebuah amplop surat yang ternyata adalah dari Amelia.

Dalam perasaan sendu dan hati yang berdebar-debar, Riana dengan cepat membukanya dan dengan gembira hati membaca;

Salam untukmu, ibu.

Aku Amelia anakmu yang pelupa.

Aku lupa di pinggir kota mana aku mengaso nasib. Aku lupa kalau aku kedinginan atau kepanasan.

Ibu, apakah kita pernah bermimpi tentang perawat penawar luka?

Maaf, ibu, aku lupa.

Aku lupa membawa roti dan kopi kesukaanmu di pematang sawah. Janjiku itu. Di sini ternyata berbeda, bu, aku lupa. Aku sudah dinodai buaya biadab. Aku sudah punya anak, lupa siapa ayahnya. Aku bahkan lupa jalan pulang.

 Aku benar-benar lupa dan menjadi pelupa seperti yang ibu katakan menjadi pelupa penawar luka…

Aku menyesal, bu, kenapa aku menjadi pelupa yang lupa menjadi perawat menawar luka? Kalau saja aku denger kata-kata ibu tentang pelupa, aku tidak mau jadi pelupa seperti ini.

Aku lupa kalau aku menjadi perawan pelupa penawar luka.

Sarung Riana kini telah basah kuyup karena air matanya mengalir deras bercampur kesedihan, kemarahan, dan putus asa. Riana memakan surat itu dan menelannya. Itulah hadiah roti dan kopi dari Amelia untuknya yang terakhir.

Amelia tidak menjadi perawat yang menawar luka denganya. Amelia kini bukan lagi anaknya yang perawan di kota. Ia benar-benar amnesia dan lupa bahwa ia perawan dari desa.

 

Oleh: Yakobus Jehaman / Lulusan Fakultas Filsafat STFK Ledalero 2021. Menetap di kampung halaman di Wae Bangka persawahan Lembor. Penikmat tulisan sastra.

(Artikel ini sudah terbit di nalarpolitik.com)

Komentar