oleh

Rindu yang Terluka

-Cerpen-275 Dilihat

Rindu yang bertakhta dalam hati dan jiwa
Kian merajam nan membuncah
Nirwana pun makin berjelaga
Hingga kasturi tak lagi terasa

Ketika kau goreskan aksara yang menyayat sukma

Tanpa sadar bulir bening mengalir di ujung netra

Kau yang selalu diam dalam kebisuan kata
Menyiratkan duka hingga mengulum nestapa

Entah apa yang menjadi rahasia?
Kau asingkan aku dalam lara
Berteman sunyi ketika alam meraba
Desir sang bayu pun tak mampu aku rasa

Kini kau makin jauh tak terjamah
Bayangan dirimu perlahan sirna
Terkikis waktu yang terus berjalan tanpa jeda

Dan hanya mampu mengenang semua bayangan semu

Untukmu Nona yang Belum Bernama

“Jika kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak ketemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain.” – Fiersa Besari

Tahukah kamu, kalimat itu baru kubaca di halaman tiga belas dan seketika tanganku meranggas?

Jemari memberontak untuk memuntahkan apa yang menggedor di dalam otak
Ya, kali ini otakku mengambi alih

Dia memiliki tenggang rasa untuk hati yang belum sembuh seutuhnya

Untuk hati yang mungkin masih sedikit basah lukanya

Hati yang pernah babak belur menelan kenyataan

Kenyataan yang tak berpihak pada keinginan
Kenyataan bahwa masa depan pernah menjadi semacam bualan

Menulis ini aku mengabaikn kewarasan
Berharap di suatu titik masa depan kau kan menemukan

Menemukanku yang mencoba bangkit untuk kembali bersimpuh

Menenggelamkan hati pada Dia yang menguasai perkra hidup, jodoh dan mati
Apa yang mereka bilang tentan meluruskan niat, aku sedang mencobanya dengan sangat

Perihal takdirku denganmu, ini serupa jernih disel semu, nyata di antara maya
Aku pun tak tahu apakah kita kelak bersanding di pelaminan, atau hanya sekadar mengubur dalam ingatan
Namun, kali ini izinkan aku mencoba sebuah jalan sesuai tuntunan

Izinkan aku menjadi lelaki keras kepala yang berbeda

Lelaki yang dulunya percaya bahwa cinta baru datang karena terbiasa

Menjadi lelaki yang meyakini cinta yang dibangun bernaungkan kecintaan pada-Nya
Izinkan aku kali ini untuk tidak memikat sebelum mengikat

Karena aku akan melakukan sebaliknya
Mengikatmu untuk kemudian menghabiskan sisa umurku tuk memikatmu

Izinkan aku mendiamkan tanganku terlebih dahulu pada walimu, sebelum menjadikanmu satu-satunya wanita yang kuidamkan di sisa hidupku
Izinkan aku mencintaimu setelah menghalalkanmu

Menempatkannya dalam niat memenuhi perintah-Nya

Bukan cinta yang tumbuh karena temu yang tak pada tempatnya

Untukmu yang masih bertanya, kisah ini adalah kisah yang tak masuk logika
Kisah yang hanya hidup di bentangan imaji para hamba

Kisah yang jauh muda diteorikan namun berbeda cerita ketika diperjuangkan
Percayalah, aku pun setengah mati melogikannya sampai tak terhitung, berapa kali hati ini memaki

Aku pun masih tertatih meluruskan hati
Ilmu agamaku belum seberapa, namun aku punya tekad untuk mendalaminya

Aku pun tak pandai merangkai aksara, namun kamu tak pernah luput kumasukkan dalam doa

Aku juga masih mencoba membasuh luka, namun jika nanti kita bersama kau takkan kubiarkan terluka

Aku mungkin tak bisa tiap hari membuat harimu penuh tawa, namun izinkan aku tuk menghadirkanmu bahagia

Aku belum sanggup menjanjikanmu surga
Namun izinkan tanganku menggandengmu berikhtiar menujunya

Untukmu, nona yang belum bernama
Yang parasnya masih dirahasiakannya

Untukmu, nona yang belum bernama
Yang asmanya belum dibisikkan olehnya
Untukmu, nona yang belum bernama
Semoga saat ini cinta di hatimu hanya untuk Tuhan

Jarum Jam

Jarum jam masih berdenting
Aku terdiam tak sanggup bergeming
Berdiri ataukah kembali terbaring
Bagaikan kayu yang sudah kering

Jarum jam masih berdenting
Aku masih terdiam berbaring
Meratapi nasib yang demikian menggiring
Menggiringku ke pusatnya, hingga kepala ini pusing

Jarum jam masih berdenting
Aku memberanikan diri untuk berontak
Aku tak mau lagi terdiam berbaring
Karena aku makhluk berotak

 

Oleh: Lalik Kongkar

Artikel ini sudah terbit di nalarpolitik.com

Komentar