oleh

Tumbal Itu Bernama Perpisahan

-Cerpen-97 Dilihat

Bum….!!! Seketika suara ledakan pecah di keramaian. Para pejalan kaki dan pejoging berlarian di trotoar, di antaranya membentur tembok alun-alun kota. Ibu-ibu panik mencari anaknya, tangis dan teriakan saling menyahut.

Di samping kiri jalan, darah dan serpihan daging berceceran seperti sayatan ikan tuna hangus dengan taburan saos yang tertumpah. Laki-laki paru baya itu masih duduk menutup telinganya dengan wajah ketakutan. Para pedagang kaki lima masih bersembunyi di balik dagangannya.

Sedang jarum jam tak berhenti berdetak, hingga waktu telah menujukkan 17.50. Pada menit kesekian rombongan polisi lengkap dengan senjata gagah berani berlari menuju TKP. Seolah membuat ingatan terlempar pada polisi-polisi India dalam serial film bollywood.

“Itu teroris!” teriak punggawa komando polisi melalui corong pengeras suara.

“Semua diharap tenang, kami akan mengevakuasi seluruh pengguna jalan. Diharap agar semuanya duduk,” sambungnya dengan tegas.

Awak media berbondong-bondong menyerbu TKP. Malah ada media internasional ikut meliputnya.

“Berita terkini, telah terjadi peristiwa ledakan yang menewaskan satu orang. Menurut keterangan Polisi Kota Tuli, diduga bom bunuh diri ini dilakukan agen ISIS yang telah lama berkamuflase.”

Langit masih dibumbungi gumpalan tangisan dan ketakutan. Cahaya senja merambat pelan, seolah tak peduli urusan manusia. Ia selalu menawan dengan cahaya keemasan merambah dan memeluk awan. Satu pun tak ada yang meliriknya.

Walau senja tersenyum, suasana tetap mencekam, ditambah dengan iringan suara masjid dan sirenai ambulans berpadu menjadi suara bising yang membuat telinga pekak.

Serpihan ledakan dibersihkan oleh tim investigasi dan akan diolah, esoknya kita akan menanti kejelasan identitas pelaku.

Malam telah gelap, senja telah berpulang keperaduan. Ibu, bapak, nenek, kakek sampai kanak-kanak, bahkan balita yang sementara menikmati ASI di pangkuan ibunya berkerumun di depan televisi menyaksikan live berita salah satu media mainstream.

Dihadiri politisi, agamawan, polisi dan sebagainya dan seterusnya, pandangan dari ringan sampai yang mengerutkan dahi penonton telah mengemuka. Debat a lot pun tak terhindarkan antara perwakilan oposisi dan pendukung pemerintah.

melindungi rakyat, lantas untuk apa kita terus berhela-hela? Sudah tidak terhitung jumlahnya korban nyawa akibat bom bunuh diri,” tutup politisi kelas kakap fraksi Partai Garuda itu.

Tuk…tuk…tuk…! Spontan, seloroh tepuk tangan peserta menyambutnya, kendati belum ada satu pun penjelasan identitas pelaku.

“Bagaimana dengan hasil investigasi kepolisian? Apakah benar bahwa pelaku adalah agen ISIS, seperti dugaan bapak di TKP?” tanya presenter TV kepada perwakilan polisi, sebut saja namanya Pak Yanto.

Dengan mantap, ia menjawab, “Kami menduga bahwa pelaku adalah agen ISIS. Sementara ini, kami masih melakukan investigasi. Semoga minggu ini sudah ada titik terang.”

Menduga? Semoga? Sungguh Pernyataan yang mengandung ketidakpastian, ibarat pernyataan seorang lelaki untuk menghentikan pertanyaan pacarnya kapan akan menikah.

Beberapa hari setelah kejadian, terkuak berita bahwa pelaku adalah perantau asal kepulauan “duga-duga” bernama Sarmin. Ia adalah buruh yang bekerja di perusahaan sirup. Genap sudah empat tahun ia mengadu nasib di Kota Tuli. Informasi ini ditemukan pihak kepolisian setelah mendapat laporan dari ibu kos pelaku, namanya Mbak Iyem.

Sekitar tiga hari sebelum kejadian, aku memergoki Sarmin meracik sesuatu. Seperti bubuk pupuk yang dicampur dengan miyak di dalam botolan. “Mungkin itu solar,” ungkap Mbak Iyem kepada polisi.

“Memang akhir-akhir ini Sarmin terlihat murung setelah pulang kampung seminggu lalu. Anak ini murah senyum, ramah dan suka bercanda, namun aku tidak tahu mengapa gelagatnya berubah menjadi aneh,” tambahnya.

Setelah mengumpulkan beberapa informasi dari narasumber yang berbeda dan mengolah beberapa bukti, tim investigasi kemudian melakukan konferensi pers dan mengumumkan, ledakan yang terjadi di alun-alun kota tertanggal 09 Februari pukul 17.40 adalah perbuatan agen ISIS yang bernama Sarmin, umur 25 tahun, pekerjaan buruh, tempat tinggal Kota Ragu-Ragu Desa Tuna.

Mendengar berita itu, kedua pasangan nelayan, Pak Tejo dan Bu Minah (orang tua Sarmin), menangis tersedu-sedu. “Anakku mati bunuh diri, mengapa kalian dengan teganya menuduh Sarmin teroris?”

Sehari setelah kejadian, seorang kawan Sarmin sesama buruh telah mengirim surat (tulisan terakhir Sarmin) kepada ayahnya. Namanya Sutrisno, ia adalah teman baik yang sangat akrab dengan Sarmin. Melaluinya, sarmin selalu bercerita tentang kisah asmaranya dengan indah. Selama di perantauan, Sutrisno sendiri telah menganggap Sarmin sebagai saudara.

Di dalam suratnya Sarmin menuliskan bahwa ia bunuh diri lantaran cinta mereka tidak direstui orang tua Indah. Ia mengakhiri nyawanya dengan bom yang ia rakit dengan bahan pupuk amoniak (urea) yang dicampur dengan bahan peledak, solar, dan black powder.

Orang-orang Desa Tuna menamai bom itu dengan sebutan Patarong. Bom ini sering digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Sarmin pernah menggunakannya semasa di kampung. Sekalipun perbuatan krimanal, namun nelayan Desa Tuna menganggap pemboman adalah simbol pembangkangan terhadap pemerintah yang telah memberi izin tambang pasir di wilayah tangkap nelayan.

Berkali-kali mereka melakukan demonstrasi, bahkan mogok melaut dalam satu minggu, namun Pemerintah Kota Ragu-Ragu selalu bergeming atas nama hukum. Karena frustrasi, akhirnya mereka memilih jalan kriminal itu.

Sarmin adalah anak nelayan miskin yang mengadu nasib ke kota karena ongkos pendidikan adiknya. Ia menjalin hubungan selama empat tahun dengan anak juragan tanah bernama Indah.

 

Oleh: Syam / Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta

 

Arikel ini sudah terbit di nalarpolitik.com

Komentar

Jangan Lewatkan