oleh

Budaya Lamaholot Jadi Modal Bangun Kawasan Ekonomi Khusus

RADARNTT, Kalabahi – Nilai budaya Lamaholot yang dikenal “Bela” sebagai modal sosial, membangun kerjasama kawasan ekonomi khusus berbasis kelautan di daerah Flotim, Alor dan Lembata, dan sebagai orang bersaudara, harus bekerjasama dan saling mendukung, sehingga apa yang menjadi harapan dari tiga daerah tersebut bisa terealisasi sesuai harapan masyarakat, hal ini disampaikan oleh Bupati Alor Drs. Amon Djobo via ponselnya pada Senin, 5/6/2017.

Djobo mengaku bahwa sudah ada kesepahaman bersama melalui MoU antara tiga kepala daerah, yakni Flotim, Alor dan Lembata tentang pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Berbasis Kelautan di perairan ketiga daerah ini dan sudah berjalan tiga tahun terakhir.

Djobo menjelaskan, bentuk kerjasama yang terjalin selama ini yakni penangkapan ikan oleh para nelayan di perairan tiga daerah ini tidak dibatasi, menjadi zona bebas tangkapan bersama, tidak ada saling melarang atau menangkap antar nelayan. Namun, cara penangkapan ikan harus memperhatikan aspek ramah lingkungan, kelestarian sumber daya laut dan hasil tangkapan ikan diutamakan untuk memenuhi kebutuhan domestik ketiga daerah ini dan mendukung industri di kawasan ini seperti pabrik tepung ikan dan pabrik ikan kaleng di Lembata.

“ Salah satu bentuk kerjasama yang kita lakukan adalah melaksanakan vestifal budaya Lamaholot, sudah dilakukan tahun pertama di Lembata, tahun kedua di Alor dan tahun ketiga akan dilakukan di Flotim. Kita berharap, agar melalui event ini semakin memperkokoh tali persaudaraan sesuai nilai-nilai warisan leluhur, menjadi ajang menggali dan memperkenalkan nilai-nilai budaya lamaholot kepada generasi saat ini, hal ini menjadi penting sebagai titik masuk membangun kerjasama, “tandas Djobo.

Selain potensi perikanan dan nilai budaya, ketiga daerah tersebut juga memiliki obyek wisata bahari yang sangat besar, Alor dan sekitarnya ditetapkan sebagai salah satu dari lima Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di NTT, khusus Alor telah mendapat pengakuan sebagai tempat diving terbaik nasional, melalui potensi tersut, dirinya berkomitmen bahwa penting membangun industri pariwisata bahari di kawasan terseut,sebagai opsen untuk  menarik minat wisatawan yang datang berkunjung di daerah itu.

Djobo mengakui bahwa membangun industri pariwisata bahari tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi yang menjadi terpenting adalah dibutuhkan partisipasi masyarakat, keterlibatan aktif dunia usaha, dukungan insan pers dan adanya political will para pemerintah daerah dan pemerintah pusat, niscaya agenda mulia ini dapat direalisasikan demi kesejahteraan bersama. “Karena orang mati saja butuh dana apalagi orang hidup,” demikian pungkas Djobo bernada guyon. (*Yolf/RN)

Komentar