oleh

Gunung Api Ile Lewo Tolok Berada di Level Waspada

-Daerah, Lembata-1.211 views

RADARNTT, Lewoleba – Gunung Api Ile Lewo Tolok yang tidur ratusan tahun, kini kembali menunjukan aktifitas vulkanik pada empat hari terakhir. Sejak, sabtu (7/10/2017) dini hari, wilayah Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), diguncang gempa bumi sebanyak dua kali, masing-masing terjadi pada pukul 02.42 WITA dan 06.30 WITA pagi. Informasi ini disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi NTT.

Menurut Kepala BMKG Kupang sekaligus Koordinator BMKG NTT, Hasanudin, gempa pertama yang melanda Lembata berkekuatan 3.6 Skala Richter (SR). Diperkirakan, gempa ini berpusat di 08.30 Lintang Selatan (LS) dan 123.31 Bujur Timur (BT) atau sejauh 27 kilometer barat Laut Lembata dengan kedalaman 10 kilometer.

Sedangkan laporan gempa yang kedua diperoleh BMKG dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lembata. Hasanudin mengatakan, gempa kedua pada pukul 06.30 WITA kemungkinan terjadi disebabkan oleh aktivitas gunung api dan gerakan tanah yang sangat lokal.

Hasanudin menambahkan, magnitude hampir setiap saat terjadi di Lembata dan paling dirasakan oleh masyarakat di Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur. Dua kecamatan itu memang berada tidak jauh dari Gunung Batutara yang masih aktif.

Sementara itu, seperti dikutip dari Antara, Kepala Pelaksana BPBD Lembata, Adris Solangdemo, menjelaskan bahwa sejak dini hari tadi sudah beberapa kali dirasakan gempa dengan getaran cukup kuat di wilayahnya.

“Memang akhir-akhir ini sering terjadi gempa dengan skala SIG I dan II di Lembata yang lebih dirasakan di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Mungkin karena ada gunung api aktif,” sebut Adris Solangdemo.

Menurut petugas pemantau gunung Ile Lewotolok dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Paji Roma seperti dilansir VicktoryNews, Senin (9/10/2017). Ile Lewotolok yang dinyatakan naik ke status waspada oleh BMKG telah mengalami penurunan gempa vulkanik. Selain itu mulai berkurang dan lemah atau kecil dengan jarak kegempaan sekitar satu jam dan berjarak jauh.

Ia menjelaskan kendati tingkat kegempaan mengalami penurunan, pengamatan dan peringatan dini terus dilakukan terutama terhadap warga yang saat ini sedang menggelar aktivitas ritual makan kacang di lereng gunung Ile Lewotolok yang baru akan berakhir Kamis mendatang.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Pak Bupati, Pa Sekda, dan BPBD,” kata Roma.

Sekretaris Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur Hermanus Tobi Matarau mengatakan, pada hari ini, Senin, 10 Oktober 2017 sekitar pukul 10.00 Wita sempat terjadi gempa bumi. Namun, gempa yang terjadi tidak menimbulkan kepanikan dan kekhawatiran di kalangan warga yang saat ini sedang menggelar pesta kacang di lereng gunung Ile Lewotolok.

“Walau sempat gempa tapi masyarakat tidak terlalu khawatir. Tetap aktivitas seperti biasa di kampung Lewohala,” kata Matarau.

Ia mengakui, walaupun jarak kampung lama tempat digelarnya ritual makan kacang sangat dekat dengan puncak gunung dan merupakan radius yang dilarang, namun aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasa.

“Hari ini (Senin, 9/10/2017) tambah banyak yang datang ikut acara makan kacang. Gabung delapan desa di Ile Ape Timur, Nubatukan, dan Lebatukan jadi sekitar lima ribu orang lebih,” jelasnya.

Pihak kecamatan, lanjutnya, juga telah mengeluarkan larangan kepada warga untuk tak boleh mendekati kawah gunung menyikapi peningkatan status waspada yang ditetapkan BMKG. Warga juga diminta selalu waspada di tengah pelaksanaan pesta kacang.

“Tadi malam pak camat sudah jeluarkan peringatan keras untuk tidak boleh ke puncak gunung,” tandas Matarau.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata Rolky Betekeneng mengatakan, dari hasil koordinasi dengan tim pemantau gunung api Ile Lewotolok di Desa Lewohala, sejauh ini tingkat aktivitas kegempaannya mengalami penurunan. Walau aktivitas kegempaan menurun, namun masih berada di level II atau waspada.

Warga masih tetap diimbau untuk tidak mendekati puncak dan kawah gunung pada radius 2 kilometer karena masih berbahaya.

Pihaknya juga sudah ke Desa Lewohala dan bertemu kepala desa setempat yang saat ini sedang menggelar pesta kacang untuk mengimbau warganya tetap waspada mengingat desa tersebut masuk dalam peta kawasan rawan bencana.

Posko kewaspadaan dini di lokasi tersebut juga sudah dibentuk untuk melaporkan setiap perkembangan dari lokasi pemantauan gunung api Ile Lewotolok.

“Saya juga sudah lapor situasi terakhir ini kepada Pak Bupati dan Pak Sekda,” kata Betekeneng.

Ia juga mengakui, karena belum ada peningkatan status, maka langkah-langkah lanjutan lainnya, seperti penyiapan lokasi pengungsian dan evakuasi para korban belum ada. (TIM/RN)

Komentar