oleh

Ini Sekilas Sejarah Masuknya Agama Katolik di Alor

-Alor, Daerah, WisBud-3.703 views

RADARNTT, Kupang – Masyarakat Alor mengenal Agama Katolik, berawal dari empat pemuda yang berpetualangan ke Kota Makassar. Keempat pemuda itu adalah Leimai Langwo (anak kelahiran kampung Manegeng Alor Timur/Alor Timur Laut sekarang), Salomon Malley (berasal dari Woibila Alor Selatan), Simon Moy (berasal dari kampung Watakika Alor Barat Daya) dan Yoseph Abel Kudja (berasal dari Tongbang Alor Barat Laut).

Leimai Langwo diperantuannya berkenalan dengan seorang penganut Agama Katolik, ia pun menyatakan diri untuk menganut agama tersebut dengan bukti pembaptisan pada tahun 1928 dengan nama Laurensius, namun ia baru mulai bersaksi sebagai orang Katolik (aktif dalam kegiatan peribadatan keagamaan) pada tahun 1946. Laurensius Leimai Langwo kembali ke Alor pada tahun 1928.

Pada tahun yang sama Salomon Malley pun kembali dari Makassar membawa muatan iman Katolik pula. Ia juga enggan untuk aktif dalam kegiatan keagaman. Namun keengganan tersebut tidak berlarut, pada tahun 1946 ia mulai bergiat menjadi saksi hidup ajaran Katolik.

Demikian halnya dengan Simon Moy yang kembali dari Makassar pada tahun 1940. Ia merupakan penganut Katolik pertama yang kehadirannya diragukan, bahkan tidak diijinkan untuk bersaksi sebagai orang Katolik. Kepala Kampung Watakika, Lambertus Alkalea melarang keras kehadiran dan kesaksian Simon Moy. Namun pada tahun 1946 Simon Moy berhasil mengajak seseorang untuk ikut menganut agama Katolik, sebagai bukti kesaksian dan kerasulannya.

Yoseph Abel Kudja kembali dari Makassar pada tahun 1931. Ia menyatakan dirinya menganut agama Katolik di hadapan Pastor De Bruin di tanah kelahirannya sendiri. Ia telah berhasil mengajak 7 orang untuk menganut Agama Katolik.

Tercatat, bahwa pada 24 Desember 1931 merupakan awal perkenalan Agama Katolik kepada orang banyak di Alor, yaitu 7 orang. Perkenalan menumental tersebut berlangsung saat mengenang Hari Natal di rumah bapak Theofilus Tapaha Duka.

Saat itu merupakan awal penting bagi Gereja Katolik Alor dalam melaksaksanakan peribadatan karena telah mendapat isin dari Raja Alor Pantar Bapak Umar Balanai Watang Nampira. Saat itu, penganut agama Katolik bertambah 7 orang. Tiga bulan berikutnya penganut agama katolik telah mencapai 77 orang. Sehingga pada tanggal 25 Maret 1932 bapak Theofilus Tapaha Duka mengumumkan hari resmi berdirinya Agama Katolik di Tongbang dan Dopbina.

Kegiatan kerasulan (pribadatan) pun mulai digalakkan. Pembagian tugas mulai dijabarkan. Yoseph Abel Kudja menjadi guru agama di Tongbang, dibantu Ayub Tapaha Duka, dan Wilhemus Maulaka. Sedangkan penanggung jawab umat wilayah Tongbang adalah Bapak Theofilus Tapaha Duka. Hingga pada tahun 1941 jumlah penganut agama katolik telah mencapai 194 orang.

Di Dopbina, Yonhanes Tang Lobang dan Zakarias Laa Maro menjadi guru agama, sedangkan bapak Petrus Duka menjadi penanggung jawab umat. Namun Yohanes Tang Lobang meninggal dunia pada tahun 1942, iapun digantikan oleh Martinus Mauduka.

Semua kegiatan kerasulan (peribadaan) mulai berjalan dengan baik. Beberapa surat catatan penting dikirim ke Makassar. Terutama surat pernyataan umat Katolik yang telah menyatakan diri untuk memeluk agama Katolik. Surat pernyataan tersebut disampaikan kepada pastor De Bruin di Makassar.

Pastor De Bruin akhirnya meminta palayanan kegembalaan dari Larantuka untuk umat Katolik di Alor. Akan tetapi dua tahun lamanya menunggu orang yang dimaksud tidak kunjung tiba. Hal ini, rupanya membuat Yoseph Abel Kudja pun jadi kesal. Yoseph akhirnya terpengaruh menjadi umat jemaat Protestan. Ia beralih menganut agama Protestan. Bahkan ia menjadi penginjil di Gereja Protestan Tabolang tahun 1933-1934.

Pada tanggal 30 Juni 1934 seorang Misionaris pertama, Pastor Priesler dari Larantuka tiba di Alor. Pastor Priesler saat itu menghadap Raja Nampira dan memohon izin untuk bertemu dengan umat Katolik Alor. Raja memanggil Yoseph Abel Kudja untuk menjemput Pastor Priesler. Pastor Priesler lalu dibawa ke Tongbang dan Dopbina (saat itu Yoseph Abel Kudja beralih kembali menjadi penganut Katolik). Pada saat ini pulalah umat Katolik perdana mulai dibaptis oleh Pastor Priesler.

Selesai kunjungan dan kegiatan ini, pastor kembali ke Larantuka. Ia bersama Yoseph Abel Kudja dan Wilem Maulaka. Yoseph Abel Kudja mengikuti kursus guru agama di Larantuka selama satu bulan, Sedangkan Wilem Maulaka mengikuti kegiatan yang sama di Lawoleba, Hadakewa selama beberapa bulan. Selesai kegiatan tersebut merekapun kembali ke Tongbang.

Bulan September 1941, Uskup Atambua, saat itu Mgr. Jacobus Passer SVD, berkunjung ke Alor. Seminggu pastor tersebut berada di Alor dengan beberapa kegiatan. Kegiatan utamanya adalah melakukan pelayanan Sakramen Permandian dan Komuni kepada sembilan orang. Kegiatan yang lain adalah mengupayakan pengadaan sebidang tanah di Mata Air Tingkat Satu dengan sebuah rumah untuk ditempati para penganut Katolik.

Umat Katolik pun berkembang, kian hari semakin banyak umat Katolik. Pimpinan gereja lokal mulai aktif untuk membimbing dan melayani umat secara rutin. Lalu berdasarkan surat penunjukan Uskup Atambua (vikariat Apostolik) tahun 1950, Poster Konijn, SVD mulai menetap di tengah umat Katolik Alor. (***)

 Editor : Stery Kahan & Yoseph Letfa

 

Komentar