oleh

Pertahankan Budaya, Otodidak Hasilkan Lukisan Budaya Berdaya Saing

RADAR NTT, Rote Ndao– Mengoret cat minyak pada kanfas tidak hanya seker coret, paling tidak memiliki bekal pendidikan dengan kualifikasi khusus, seperti pendidikan seni rupa, tentunya tidak heran kalau hasilnya memuaskan. Namun sangatlah berbeda dengan Steven Robert Hilli(26) pemuda asal Dusun Mbaoen RT 01/RW 01 Desa Persiapan Nusalangga Barat,Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao,Nusa Tenggara Timur (NTT)

Tidak dibekali oleh pendidikan yang berkualifikasi, bahkan kursuspun dirinya tidak pernah, hanya bermodalkan Pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMA) dan memiliki bakat alam yang diasa secara otodidak, Robert Hilli mempu menghasilkan prodak lukisan budaya daerah yang tak kala saing dengan pelukis profesional lainya didaerah itu.

“Allah tidak akan mengubah kehidupan seorang kecuali orang itu ingin mengubah diri sendiri,hal ini nyata dan dijalani degan tekun dan berbesar hati.” demikian ungkapan  Steven Robert Hilli ketika di temui RadarNTT di kediamannya selasa(07/02/2017)

Ia menambahkan bakat melukis yang dijalaninya selama ini merupakan bakat alam  sebagai anugrah dan karunia dari Tuhan Yang Mahakuasa, dengan demikian menekuni  karir di dunia seni rupa khususnya melukis sejak tahun 2013 yang lalu, telah memberikan nuansa baru bagi seniman dan pencinta seni daerah yang ada di Rote Ndao, oleh karena itu dirinya bertekat untuk membudayakan seni daerah Rote Ndao dengan menampilkan budaya lewat  coretan pada kanfas dengan nuansa khas daerah.

Dirinya menceritakan awalnya melukis  menggunakan kanfas dan cat minyak dengan bahan dasar kain kanfas yang halus, itupun hanya sekedar melempiaskan nafsu dan bakat alam yang dimilikinya dengan  mengoret pada kanfas. Lantaran budaya merupakan warisan para terdahulu yang harus dipertahanka sampai turun temurun, maka ia pun terpanggil dan tertarik untuk menampilkan hasil imajinasi tentang budaya Rote Ndao lewat lukisan kanfas.

“ Saya anak daerah dan lahir ditanah Rote dan mencintai budaya Rote, maka saya coba mengarahkan pikiran untuk melukis kekhasan daerah, mungkin melalui cara ini saya bisa mempertahankan budaya daerah sehingga bisa dikenal oleh generasi yang akan datang.” Ujarnya.

Karena kemahiran dan hasil lukisannya masuk kategori seni budaya daerah, ia pernah di lirik oleh Radio Suara Malole (RSM) dan di wawancarai oleh salah satu penyiar Radio tersebut dan pada bulan Juli 2016 lalu ia pernah di undang untuk mengikuti pameran festifal budaya di Ibu kota kabupaten Rote Ndao, saat itu dirinya memamerkan banyak hasil lukisanya, salah satunya adalah lukisan budaya  meggambarkan seorang gadis Rote memakai pakaian adat sambil menari , dengan ukuran tinggi  180 cm, lebarnya  satu meter.

Menurut anak ke empat, lima bersaudara pasangan Yusuf Hilli dan Marta Hilli Tungga tesebut sejak dari tahun 2013 hingga sekarang Ia suda berhasil melukis sekitar puluhan gambar, dan dua lukisannya Ia berikan Kepada Ketua Sinode GMIT Pendeta Dr.Merry Kolimon Sth, saat momen Sidang Raya GMIT Oktober 2015 di kabupaten Rote Ndao.

Selain itu ia juga pernah diundang pada hari ulang tahun Pertamina untuk mengikuti lomba pameran melukis di Jakarta, sayangnya kesempatan emas tersebut terpaksa kandas lantaran keterbatasan biaya dan juga tidak ada sponsor yang mendukung dirinya.

Dengan bakat alam yang ada, ia ingin memiliki galery untuk memamerkan hasil lukisannya dengan tema Budaya Daerah, sehingga setiap generasi tetap ingat dan kenang akan budaya daerah, untuk meluluskan keinginan tersebut, dirinya berharap dukungan dari semua pihak yang memiliki rasa cinta terhadap bdaya daerah khusunya Budaya Rote Ndao. (Tony/RN)

 

Komentar