oleh

DPRD NTT Desak Gubernur Cabut Rekomendasi PT. Asiabeef Biofarma Indonesia

RADARNTT, Kupang – Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Umbu Hiya Hamataki mendesak Gubernur NTT, Frans Lebu Raya segera mencabut Rekomendasi kepada PT. Asiabeef Biofarma Indonesia. Rekomendasi tentang pengelolaan hutan lindung yang dipergunakan oleh PT. Asiabeef untuk investasi peternakan seluas 10.000 hektar.

Umbu Hiya mengatakan, kehadiran PT. Asiabeef telah menyusahkan masyarakat di empat Desa, yakni; Lailanjang, Tamma, Hanggaroru dan Tamburi, Kecamatan Rindi Kabupaten Sumba Timur.

”Masyarakat sudah menolak dari awal terkait kehadiran PT. Asiabeef. Karena hutan lindung itu merupakan sisa lahan, yang bisa dipakai oleh masyarakat sebagai lahan peternakan. Karena, sebelumnya lahan di luar hutan lindung sudah dikuasai oleh PT. Bina Mulia Ternak, yang sudah beroperasi sekitar 60 tahun lebih”, kata Umbu Hiya kepada awak media, Selasa, (10/4/2018) di ruangan Fraksi Partai Demokrat DPRD NTT.

Umbu Hiya menduga kehadiran investasi di kecamatan Rindi itu, tidak melalui prosedur yang benar. Karena, menurutnya tidak mempertimbangkan suasana kebatinan masyarakat setempat dan melihat aspek dampak lingkungan.

”Kehadiran PT ini tidak melalui survey atau monitoring apakah punya dampak atau tidak, sudah keluar AMDAL untuk pengurusan Hak Guna Usaha atau tidak. Saya belum paham sampai kesana”, tegasnya.

Umbu Hiya mengaku sudah melakukan uji petik di lapangan. Dan menurutnya, wilayah dusun 1 (satu) desa Ĺailanjang yang sangat terkena dampak buruk dari kehadiran PT. Asiabeef.

Dusun itu, kata dia, tepat berada di tengah-tengah lokasi yang dikuasai oleh PT. Asiabeef. Sehingga dusun tersebut terisolasi terhadap akses keluar, karena berada di lembah dan sudah dipagari keliling.

”Satu dusun ini tidak mendapat akses ke pemerintah, akses kesehatan, akses pendidikan dan pasar. Karena, dusun itu tepat berada di bawah lembah. Bagaimana mungkin investasi kemudian menyusahkan masyarakat”, ujarnya.

Dia sangat kesal dan prihatin dengan kondisi tersebut. Umbu Hiya berjanji, akan memperjuangkan hal itu melalui lembaga DPRD NTT.

Sejak tahun 2014, PT. Asiabeef Biofarma Indonesia telah melakukan investasi sesuai ijin prinsip dalam kegiatan pembibitan sapi di Sumba Timur dengan nilai investasi Rp 27,8 miliar. Sebelumnya juga PT. Asiabeef pernah melakukan kegiatan usahanya di Kabupaten Sumba Barat tahun 2012.

Saat ini PT. Asiabeef Biofarma Indonesia telah menetap di Sumba Timur dan memiliki 701 ekor sapi lokal yang disebarkan dengan pola reins, di Desa Lailanjang, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan tenaga kerja yang diserap sebanyak 100 orang diatas lahan seluas 986 hektar.

Pada awal tahun 2018, kepada Gubernur Lebu Raya, Direktur PT. Asiabeef Biofarma Indonesia, James Jerry Huang menyampaikan rencana untuk memperluas usaha pembibitan sapi menggunakan teknologi modern di kawasan hutan lindung seluas 10.000 hektar. Mengingat, lahan usaha yang ada sekarang sangat terbatas untuk populasi ternak sapi.

Karena menurut pihaknya, kajian lahan hutan lindung telah dilaksanakan dan mendapat persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Hanya saja terkendala soal rekomendasi yang harus dikeluarkan oleh Gubernur NTT.

Untuk itu, mereka meminta bantuan dan dukungan Gubernur mengeluarkan rekomendasi persetujuan ijin pinjam pakai kawasan hutan lindung seluas 10.000 hektar, di Sumba Timur untuk disampaikan ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI.

James juga memaparkan di hadapan Gubernur saat itu, Perusahan asing dari Brasil dalam usaha populasi ternak sapi berteknologi modern itu, memiliki prospek baik dalam jangka waktu 10 tahun. Dia, yakin melalui teknologi dan manajemen yang ditransfer ke Indonesia lewat kegiatan investasi jangka panjang 35 tahun ini, bisa menciptakan peluang bisnis yang menjanjikan.

Gubernur Lebu Raya pun menyetujui langkah dan upaya PT. Asiabeef Biofarma Indonesia, untuk melakukan ekspansi kegiatan pembibitan dan penggemukan sapi di Sumba Timur.

Saat itu, Gubernur didampingi Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP (DPMPTSP) NTT, Semuel Rebo, meminta PT. Asiabeef untuk memerluas jaringannya hingga ke Pulau Timor dan Flores.

PT. Asiabeef Biofarma Indonesia memiliki target dalam pembibitan dan penggemukan ternak sapi di atas lahan 10.000 hektar dengan pola 2,5 ekor per hektar. Artinya perencanaan di atas lahan 10.000 hektar itu nantinya terdapat 25.000 ekor sapi. Dengan memperbanyak sapi betina dan penggemukan sapi jantan.

Pada kesempatan itu, Kepala Dinas DPMPTSP NTT, Semuel Rebo mengatakan, PT. Asiabeef Biofarma Indonesia menjadi satu-satunya perusahan asing yang serius berinvestasi di NTT. Lahan peternakan seluas 986 hektar di Sumba Timur telah dibangun pagar seluruhnya. Sekitar 300 hektar lahan ditanam rumput yang didatangkan dari Brasil untuk pakan ternak. Juga mimiliki dua mesin kebiri sapi jantan untuk penggemukan.

PT. Asiabeef juga mempunyai satu program, yaitu Corporate Social Rensposibility (CSR) dengan membangun gedung balai diklat di atas lahan seluas 25 hektar. Balai diklat ini untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat menjadi petani dan peternak yang handal.

Program CSR ini akan bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana Kupang memberikan pelatihan tentang bagaimana pola pemanfaatan lahan kering. (Yolf/SP/MN/RN)

Komentar