oleh

Masyarakat Desa Nemberala Desak Pihak Nemberala Beach Hotel Buka Akses Jalan ke Pantai Wisata

RADARNTT, Ba’a – Masyarakat Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak pemilik Nemberala Beach Hotel agar segera membuka akses jalan menuju ke Pantai Wisata yang diblokir pada beberapa waktu lalu.

Pada Kamis, (5/4/2018) masyarakat kembali mendesak Kepala Desa Nemberala untuk segera menyikapi harapan mereka terhadap terhambatnya aktvitas mereka sehari-hari karena diblokirnya akses jalan menuju pantai Nemberala oleh pihak Hotel Nemberala Beach. Karena, jalan itu merupakan satu-satunya jalan utama menuju pantai wisata Nemberala.

Jalan setapak itu merupakan satu satunya jalan yang menyusuri sepanjang pantai wisata nemberala, jalan sudah ditutupi pagar yang melintasinya sehingga masyarat tidak bisa melewatinya ke seblah kalau air laut pasang.

Kepala Desa Nemberala Bernad Lenggu dijumpai awak media dikediamannya Jumat, (6/4/2018) mengatakan, bangunan pagar yang melintasi jalan setapak masyarakat tersebut sudah berlangsung sejak lama oleh pihak Hotel, sebelum dirinya menjabat kepala Desa Nemberala.

Awalnya sebagai pemerintah Desa dirinya menyampaikan kepada asisten manager Hotel tersebut menyangkut dengan tembok yang mereka bangun di bibir pantai yang sudah hancur diterjang ombak sehingga mengakibatkan kerusakan pantai.

Pada kesempatan tersebut, Manager Hotel Yanto Koremega mengatakan bahwa akan dibangun kembali. “Namun, saya katakan sebelum dibangun harus koordinasi dengan saya sebagai Kades Nemberala, tapi permintaannya tidak diindahkan oleh pihak Hotel”, ungkap Lenggu.

Bernad Lenggu mengatakan, pemerintahan yang terdahulu sebelum dirinya melihat hal tersebut seperti apa. Namun, dirinya melihat hal tersebut sebagai sesuatu hal yang sangat mengganggu aktivitas masyarakat umum, terutama masyarakat Desa Nemberala.

Sebagai Kepala Desa Nemberala, dirinya telah mendesak pihak Hotel untuk dapat menunjukan bukti legalitasnya seperti apa kepemilikan, namun sampai sekarang ini pihak hotel belum bisa menunjukan bukti-bukti tersebut,

Menurut Lenggu, obyek wisata di suatu daerah harus mempunyai dampak positif kepada masyarakat setempat, memberi nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. Hampir semua Hotel yang berada di Desa Nemberala, semua tenaga kerja yang ada didalamnya didatangkan dari luar wilayah Desa Nemberala.

“Bayangkan pak, kami pemerintah Desa yang ada dikampung halaman kami sendiri, kami tidak tahu dalam satu Tahun itu jumlah wisatawan asing yang masuk kedaerah kami berapa banyak, minta data pengunjung tidak ada yang mau kasih bayangkan itu, rawan kan? Kita hidup berkecimpung sama-sama dengan manusia dari luar ini kalau terjadi apa-apa bagaimana?”, tegas Bernad Lenggu.

Selama ini, kata Lenggu, dari pihak BNN sudah datang melakukan sosialisasi tentang Narkoba, “tapi saya tidak jamin kalau Nemberala Beach bebas dari narkoba, karena dipagari keliling dan akses masuk pun juga susah, makanya saya bilang di BNN saya tidak jamin karena lokasi hotel-hotel terisolasi”, tandas Lenggu.

Bernad Lenggu menambahkan, pihak hotel Nemberala Beach hanya pernah menyodorkan surat ijin mendirikan bangunan dari Dinas Pekerjaan Umum Nomor : 02/IMB/KAB-RN.2005 atas nama GARY BURNS, sedangkan orang yang bernama Gary Burns tersebut suda lama tidak ada.

Dan tahun 2005 Rote Barat masih masuk wilayah Kecamatan Rote Barat Daya, lanjut Lenggu, paling tidak sekarang sudah ada dokumen-domumen yang baru yang menjelaskan duduk berdirinya Hotel tersebut, tentang kepemilikannya berawal dari siapa dan ke siapa.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas permukiman dan lingkungan Hidup ketika dihubungi lewat telepon selulernya dengan nomor 085253442xxx… terdengar bunyi masuk sebanyak 3 kali namun yang bersangkutan tidak merespon. (CTA/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan