oleh

Tentang Kasus Tanah Gereja Bolan, Rm.Hiro Masu, Pr : ‘Perjuangan Kita Belum Berakhir’

RADARNTT, Atambua – “Perjuangan kita belum berakhir”. Demikian kalimat pertama yang diucapkan oleh Rm. Hironimus Masu, sebagai penggugat satu terkait putusan hakim pada sidang terakhir kasus tanah paroki Bolan di Kantor Pengadilan Negeri Atambua, Senin (12/3/2018).

Putusan sidang kasus tanah gereja St. Fransiskus Xaverius, Fahiluka (Bolan), Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka yang telah diambil oleh Yosep Ama (Ko Ama), salah satu anggota DPRD Malaka dari Partai Nasdem ini menurut Rm. Hiro sangat di luar dugaan.

“Putusan hari ini di luar dugaan. Tidak masuk di saya punya kepala termasuk Rm. Paulus (Kuasa Hukum Pihak Gereja, Red). Tapi karena hakim sudah ketuk palu, kita tetap akan ajukan banding.”

“Mendengar putusan hakim, kita semua tentu sakit hati. Sakit hati karena kita tahu persis duduk berdirinya tanah itu, baik saksinya, bukti-buktinya maupun proses sidangnya.” ungkap Pastor Hiro.

Lanjutnya, bagaimanapun juga tetap diterima kenyataan ini. Namun bukan berarti kemudian diam. Dalam tiga hari ke depan, tandas Hiro, salinan sidang hari ini akan diambil di Pengadilan untuk menyusun materi naik bandingnya.

Sementara itu, Rm. Paulus Nahak, Pr sebagai kuasa hukum pihak gereja Bolan, mengatakan bahwa sejak dirinya mengikuti sidang kasus ini dari bulan Januari sampai Maret 2018, semua yang dibicarakan saksi sangat kuat dasar argumen dan hukumnya. Namun hari ini, putusan hakim sangat berbeda.

“Mendengar putusan hakim hari ini, saya kehilangan akal karena sejak dari saya tamat kuliah hukum tahun 1995 sampai sekarang, menangani kasus-kasus tanah (Perdata) sudah hampir ratusan, tapi putusan model hari ini baru saya temui dalam sejarah hidup saya. Semua ada fakta sejarah dan hukum. Anak kecil pun ketika melihat dan ditanya tentu tahu bahwa itu adalah tanah gereja Bolan.” ujar Pastor Paulus.

Selebihnya, ia katakan bahwa proses hukum di pengadilan negeri, selesai hari ini. Seraya memohon dukungan doa dari segenap umat, agar tim kuasa hukum gereja diterangi hati dan akal untuk bisa melihat keadilan dalam putusan hakim.

“Karena apa yang hakim bacakan dalam sidang tadi, ucapannya kabur. Sampai pada point-point  yang harusnya gereja merasa itu bukti kuat, hakim membacanya cepat-cepat. Kita didengar tidak jelas.”

“Nanti di Pengadilan Tinggi, kita tidak bertemu lagi termasuk di KASASI. Kita hanya kirim surat. Banding di Kupang dan Kasasi di Jakarta. Dan kita berdoa, agar dalam proses pertama di Pengadilan Tinggi untuk banding. kedua, kasasi di Mahkama Agung hingga bisa sampai pada Peninjauan Kembali (PK).” pungkasnya.

Untuk diketahui, bahwa dalam sidang tadi, bukti-bukti fisik tertulis dari gereja, semua di tolak hakim. Termasuk apa yang disampaikan saksi dari pihak gereja dikatakan tidak sesuai. Mengapa? Surat penyerahan tanah dan kuitansi mereka tidak dimunculkan. Ada apa? (Baurae/RN)

Komentar