oleh

Instruksi Walikota Sukseskan Gerakan Kupang Hijau

RADARNTT, Kupang – Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore mengeluarkan instruksi terkait Gerakan Kupang Hijau (GKH). Instruksi ditujukan kepada pimpinan perangkat daerah, direktur perusahaan daerah dan RSUD S.K. Lerik, Camat dan Lurah serta seluruh pegawai lingkup Pemerintah Kota Kupang.

Instruksi tersebut dikeluarkan Walikota tanggal 16 November 2019. Terdapat lima poin penting. Pertama; menginstruksikan setiap perangkat daerah, perusahaan daerah/RSUD S. K. Lerik, kecamatan, kelurahan dan Puskesmas lingkup Pemerintah Kota Kupang wajib menanam dan merawat satu pohon baru dengan tinggi 1 sampai 1,5 meter berdiameter 10-15 cm (bukan anakan) di halaman kantor dan/atau di areal penghijauan yang ditentukan serta tetap memelihara tanaman/pohon yang sudah ditanam.

Kedua; setiap pimpinan perangkat daerah, perusahaan daerah, RSUD S. K. Lerik, Camat dan Lurah menginstruksikan setiap ASN/Pegawai di unit masing-masing untuk menanam dan memelihara satu pohon baru dengan tinggi 1 sampai 1,5 meter dan diameter 10-15 cm (bukan anakan). Juga membuat lubang/sumur resapan/jebakan air di halaman rumah masing-masing.

“Ketiga, setiap dinas, badan, kantor, sekretariat, bagian, kecamatan dan kelurahan mulai mengampanyekan anti sampah plastik dengan mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan plastik dan sedotan plastik dalam kegiatan-kegiatan/acara-acara kantor di lingkup Pemerintah Kota Kupang,” tulis Walikota dalam surat instruksi tersebut.

Selanjutnya, keempat; Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu mulai mensosialisasikan serta mensyaratkan dalam penerbitan IMB agar masyarakat dan para pengembang (developer) pembangunan wajib membuat lubang/sumur resapan/jebakan air (sesuai spesifikasi teknis terlampir) serta menanam dua pohon dengan tinggi minimal 1 sampai 1,5 meter dan diameter 10-15 cm.

Kelima; para pimpinan dinas/badan/kantor/sekretariat/bagian wajib mendukung serta mengampanyekan Gerakan Kupang Hijau Pemerintah Kota Kupang melalui program tanam pohon, program tanam air dan program anti sampah plastik.

Gerakan Kupang Hijau memantik respons keras WALHI NTT, pada Kamis, (21/11/2019) pagi melalui Koordinator Devisi Media, Dominikus Karangora mengatakan, “tidak soal jika gerakan Kupang hijau ini berjalan, hanya saja perlu diingat bahwa program penghijauan di kota Kupang sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Pohon perindang hasil program penghijauan ini mulai ditebang di masa kepemimpinan pak Jefry, alasannya adalah pembangunan,” tegasnya mengingatkan.

Karangora menyesalkan kebijakan pemerintah menebang pohon perindang yang sudah berumur rata-rata 30-an tahun. “Itu tidak kita jaga, lalu ketika mulai terasa panas kita diajak lagi untuk melakukan penghijauan. Kalau modelnya seperti ini terus, sama saja kita hanya berjalan di tempat,” ungkapnya.

Karangora juga menegaskan bagaimana sikap pemerintah terhadap pelanggaran pemanfaat ruang yang masif terjadi di kota Kupang. “Ada kawasan yang peruntukannya untuk kawasan konservasi, tapi dimanfaatkan sebagai ladang bisnis perusahaan properti. Ini juga harus diperhatikan pemerintah,” pungkasnya. (TIM/RN)

Komentar