oleh

Kawasan Industri Bolok Bakal Dibangun Layaknya Kota Mandiri

RADARNTT, Kupang – Desain pembangunan Kawasan Industri Bolok (KIB), akan dibangun layaknya Kota Mandiri, melalui penyediaan fasilitas seperti pasar, pertokoan, penginapan (apartemen), tempat ibadah, fasilitas kesehatan, olahraga, tempat rekreasi, pertemuan, sekolah dan fasilitas umum lainnya untuk memenuhi kebutuhan pekerja.

“Rancangan kedepan KIB bukan saja menjadi kawasan industri tapi semua fasilitas layaknya kota mandiri harus tersedia”, kata Kepala Badan Pengelola KIB Gabriel Kennenbudi, Selasa, (18/6/2019) via ponselnya.

Dikatakannya, upaya mewujudkan visi pengembangan KIB sudah dimulai sesuai harapan Pemerintah Provinsi NTT supaya pengelola KIB adalah berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT), agar memiliki peran dan fungsi yang lebih luas dan mandiri.

“Semua dokumen yang dibutuhkan untuk pembentukan BUMD sudah diserahkan kepada Kemendagri, dokumen tersebut sedang dievaluasi dan hasilnya akan dalam bentuk rekomendasi dari Kemendagri. Jika rekomendasi dan nomor register ini sudah diperoleh, maka proses selanjutnya adalah pembentukan badan usaha BUMD dalam bentuk PT”, terang Kennenbudi.

Ia menjelaskan untuk menjadi PT harus ada pihak penyerta modal usaha. Oleh karena itu, sambungnya dibutuhkan penyertaan modal dari Pemerintah.

“Jika hal ini terpenuhi, tahun 2020 KIB sudah bisa mulai membangun”, kata dia.

Menurut Kennenbudi, penyertaan modal awal yang dibutuhkan sebesar 100 miliar rupiah untuk pengembangan awal KIB.

Namum, lanjutnya untuk pengembangan kawasan lebih lanjut sampai selesai tentunya membutuhkan dana lebih besar.

” Tetapi dengan berbadan hukum PT, tentunya akan dikelola secara profesional dan bisa diperoleh dari banyak sumber lainnya”, tambah Kenenbudi.

Program kegiatan yang dikembangkan, pihaknya akan memulai dengan membangunan infrastruktur dan bangunan gudang untuk disewakan.

“Kami juga akan prioritaskan produksi dengan menggunakan bahan baku yang tersedia di NTT, seperti perikanan, peternakan dan perkebunan”, katanya.

Menurutnya KIB juga didesain dengan model terpadu dan terintegrasi, sebagai sentra industri dan bisnis di daerah.

Sehingga, baginya KIB menjadi pusat produksi dan distribusi produk unggulan lokal. Seperti hasil kelautan dan perikanan, pertanian dan perkebunan, peternakan, dan kerajinan rakyat.

“Nilai ekonomi hasil perikanan, pertanian dan peternakan tentunya akan bertambah. Jika bisa memproduksi bahan bahan tersebut menjadi bahan makanan siap saji”, sambung Kennenbudi.

Untuk itu, ia berharap semua Bupati dan Walikota turut mendukung proses pengembangan ini, “karena selain akan memacu hasil pertanian, perikanan dan peternakan mereka, juga bisa berdampak langsung pada peningkatan ekonomi rakyat di Kabupaten mereka, karena bahan baku akan diambil dari seluruh NTT”, tandasnya.

Mengenai tanah lokasi KIB, Kennenbudi menjelaskan sedang dilakukan pemetaan untuk memperjelas status kepemilikan tanah, selanjutnya akan melakukan negosiasi dan penyelesaian urusan tanah.

Untuk saat ini, kata dia pembangunan akan diprioritaskan pada lahan hamparan 1, yang statusnya sudah jelas. “Keseluruhan lokasi yang sesuai Perda pembentukan KIB awal berjumlah 900 Ha. Yang terbagi dalam 4 hamparan”, imbuhnya.

Gabriel Kennenbudi diangkat menjadi Kepala Badan Pengelola KIB oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dengan SK Nomor : 3/KEP/HK/2019 bersama tiga orang lainnya sebagai Kepala Divisi. (Tim/RN)

Komentar