oleh

Misa di Manasamang-Alor, Nusa Tenggara Timur

RADARNTT, Kalabahi – Menapaki kembali ‘Kampung Leluhur’, menjadi hal lumrah bagi setiap orang dalam ziarah hidup dengan tujuan ingin melihat dan mengenang kembali kisah perjalanan para pendahulu untuk menimba inspirasi dan pengalaman.

Situasi serupa namun unik, terjadi di tengah perkembangan pelayanan iman umat Katolik Paroki Santu Yakobus Rasul (Sayora) Sidongkomang-Bukapiting. Paroki tertua kedua di Kabupaten Alor-NTT, yang akan genap usia 9 tahun pada bulan desember mendatang, berada di Desa Nailang Kecamatan Alor Timur Laut.

Sejumlah umat bersama pastor paroki, melakukan misa hari minggu di Manasamang sebuah kampung leluhur atau oleh mereka sebut kampung lama. Kampung, tentunya, terpencil nun jauh dari pusat desa, sedikit pemukiman dan minim fasilitas. Tanpa akses infrastruktur jalan, listrik dan air bersih. Namun menyimpan sejuta potensi sumber daya alam pertanian dan perkebunan.

Misa berlangsung khidmat dalam suasana alami, di bawah tenda beratap terpal kecil dan fasilitas seadanya, menggunakan bangku darurat dari kayu dan bambu.

“Melalui Perayaan Ekaristi ini kita bersyukur atas rahmat iman akan Yesus Kristus dalam keyakinan Katolik yang telah dimulai di sini oleh para leluhur kita dan diwariskan kepada kita”, demikan disampaikan oleh Pastor St. Yakobus Rasul, Sidongkomang, RD. Alfons Nara Hokon dalam kotbahnya pada Misa di Manasamang, Minggu, (7/7/2019) dalam turney kampung lama.

“Karya keselamatan dilaksanakan oleh Allah juga melalui petunjuk mimpi yaitu mimpi Maria (kabar sukacita dari Malaikat Gabriel), mimpi Yosep dan mimpi para nabi. Dalam bentuk mimpi itu pula Allah memberi petunjuk kepada para leluhur dari kampung ini perihal jalan keselamatan yang harus diimani”, ungkap Rm. Alfons.

Lebih lanjut Imam asal Flores Timur ini menegaskan bahwa petunjuk mimpi leluhur itu menjadi nyata dan berkembang hingga kini dalam iman Katolik yang kita imani. Maka sudah pada tempatnya kita kembali ke sini, ke Manasamang ini untuk mensyukuri rahmat Allah ini sembari mendoakan keselamatan jiwa dari para peletak dasar kekatolikan kita ini.

“Kita yang ada sekarang ini, sebagaimana 70 murid yang diutus Yesus mewartakan kabar gembira keselamatan, juga diutus untuk menumbuhkembangkan iman Katolik itu,” tegas Pastor Paroki Sayora ketiga ini dan menekankan bahwa para leluhur dahulu melakukanya dengan segala pengorbanan dibawah ancaman yang tidak kecil maka kita yang sekarang tidak boleh membuat surut.

Misa dihardiri oleh umat dari berbagai kampung; dari Pilama, Sumang, Atoita, Puiyeng-Waimi hingga Maumang. Usai Misa Rm. Alfons memberkati sebuah sumber air tidak jauh dari kampung.

Dalam Misa ini pula Imam yang ditahbiskan 10 tahun lalu ini mengajak umat untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas hasil alam yang “melimpah” dan tidak boleh melupakan hari Minggu ketika sedang di kampung lama.

Salah satu orang tua dari Manasamang, Lamber Maitakai pada kesempatan lain menuturkan bahwa kampung Manasamang ini sendiri berdiri terpisah dari kampung induk Atoita karena pilihan keluarga besar Asalau (Asalang, Onlet, Lahon) serta beberapa keluarga terkait untuk beralih dari agama Protestan ke agama Katolik.

Atas izin dari Tamukung Atoita, Alexander Onlet (Maitakai/Maisak) bersama keluarga besarnya membuka kampung ini dan mengembangkan iman Katolik bukan untuk mengeklusif tetapi demi menjaga hasmonisasi hubungan kekeluargaan lantaran masuknya agama katolik tidak diterima bahkan ditentang.

Sementara Maisak sendiri menjadi inspirator bagi dibukanya agama Katolik di Atoita oleh petunjuk-petunjuk yang ia dapatkan dari mimpi melihat cahaya besar di arah barat kampung, seorang ibu dengan muti digantung benda palang dan pesan-pesab yang kemudian diketahuinya sebagai Bunda Maria dan kontas.

Dipilihnya kampung Manasamang ini karena letaknya yang berada di tengah sehingga memudahkan untuk dijangkau. Namun tidak sekedar kebetulan, Manasamang tempat di mana benih iman katolik mula-mula disemai dan menjadi cikal-bakal pertumbuhan dan perkembangannya.

Turney kampung lama berikutnya akan dilakukan di Maumang, Minggu, (14/7/2019), di kampung inilah misa perdana dilakukan oleh pastor asal Belanda pada masa awal itu. (Tim/RN)

(Sumber : Diary Sayora)

Komentar

Jangan Lewatkan