oleh

Pemuda Sumba Tengah Desak DPRD Terbitkan Perda Kawin Tangkap

RADARNTT, Kupang – Ketua Umum Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sumba Tengah (HIPPRMAST), Frengki Eka Putra Ratu Radja mendesak DPRD sebagai pembuat aturan agar segera membuat peraturan daerah (Perda) tentang Kawin Tangkap.

Pasalnya, Kawin Tangkap merupakan salah satu sikap yang amat merendahkan dan menjatuhkan martabat bagi kaum perempuan.

“Bahwa tindakan ini pernah ada dalam sejarah Sumba Tengah dan ini benar adanya. Namun, dalam perkembangan terkini dengam kesadaran yang tinggi akan hak-hak perempuan, hal-hal seperti ini tidak lagi bisa dibenarkan. Contohnya jika kalau adik atau saudari kita yang diperlakukan begitu saat ini? Rasanya kita sudah pasti tidak bisa terima,” tegas Ratu Radja, Minggu (15/12/2019) via seluler.

Menurutnya kesadaran terkini menghendaki kawin tangkap tidak lagi boleh terjadi, apalagi dengan alasan itu bagian dari budaya kita. “Budaya itu selalu menghidupkan, etis, dan manusiawi, jika tidak ia layak ditinggalkan dan dihilangkan,” tandas Ratu Radja.

Merespons pernyataan Ketua DPRD Kabupaten Sumba Tengah di salah satu media online yang menjelaskan bahwa tindakan itu tidak dibenarkan dan harus ditinggalkan,, Ratu Radja berharap ada tindak lanjut dari DPRD Sumba Tengah agar dibuatkan dalam bentuk Perda agar mempunyai kekuatan hukum, sehingga tindakan ini bisa dihentikan.

“Juga melihat solusi yang diberikan beliau dalam media tersebut, saya merasa masih belum bisa menanggulangi tindakan ini, karena rasanya pernyataan tersebut belum bisa menjaga harkat dan martabat kaum perempuan secara hukum,” ungkap Ratu Radja.

Ia berharap dari setiap pemangku kepentingan di Sumba Tengah, baik dari pemerintah, tokoh agama, bahkan tokoh adat untuk bisa duduk bersama supaya sepaham untuk menghentikan tindakan ini. Dan terutama semua kaum milenial yang merupakan agen of change, mari berjuang untuk keadilan bersama.

“Kita berbicara kesetaraan dan HAM, maka semua harus mendukung hal yang baik untuk martabat dan kemajuan perempuan Sumba., jangan sampai kita hanya bisa berteriak mengenai kesetaraan, tapi tidak ada tindakan perlindungan hak dari semua pihak,” tegas Ratu Radja.

Sambungnya, cukup sudah kita mendengar jeritan dan tangis kaum perempuan di Sumba Tengah, mereka juga layak merdeka, layak menentukan arah hidup mereka, layak menjadi seorang pemimpin, layak mengekspresikan kebebasan hidup mereka, dan layak menjadi pelaku perubahan.

“Sudah saatnya Sumba melakukan revolusi budaya, meninggalkan segala tindakan kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk apapun,” tegas Ratu Radja. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan