oleh

Tokoh Pariwisata Labuan Bajo Kecam Pelaku Penjual Komodo

Foto : Matheus S. N. Siagian (Mhen/RN)

RADARNTT, Labuan Bajo – Matheus S. N Siagian seorang tokoh pariwisata Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores-NTT mengecam keras terhadap pelaku yang menjual satwa langkah Komodo yang ditangkap Polda Jawa Timur, Rabu 27 Maret 2019 kemarin.

“Sungguh terkejut saat mendengar bahwa ada 41 Komodo diselundupkan, bahkan ada yang ke luar negeri. Saya mengutuk perhadap para pelaku yang memperdagang satwa langkah komodo itu”, kata Matheus Siagian kepada RadarNTT, Kamis, 28 Maret 2019.

Matheus bahkan mempertanyakan asal usul binatang komodo sebanyak 41 ekor tersebut. Pasalnya komodo tak hanya di Manggarai Barat namun di Manggarai Timut pun ada.

“Sekarang pertanyaan yang pertama muncul di kepala saya adalah 41 komodo ini dari mana asalnya? Seperti di ketahui komodo tidak hanya ada di Taman Nasional Komodo, komodo juga bisa di temui di Bari, Longos, Wae Wuul dan Riung Manggarai Timur”, turur Matheus.

Bahkan tahun lalu ada komodo yang menetaskan telur ratusan di kebun binatang Surabaya.

“Saya rasa hal yang segera bisa di lakukan adalah menelusuri asal usul komodo selundupan ini, mungkin melalui DNA atau melalui jalur logistik penyelundupannya. Jika kita tau asal usul komodo ini penyelidikan selanjutnya akan semakin mengerucut”, kata Matheus.

Matheus mengaku heran ada pihak yang memperdagangkan satwa yang harus dilindungi. Padahal hukumannya sangat berat bagi pelaku yang mengancam kepunahan satwa langkah tersebut.

“Apakah saya terkejut Komodo bisa di selundupkan keluar negeri ? Ya dan tidak , Ya karena satwa ini di lindungi dan hukumannya berat sekali apa lagi kalau ini dari kawasan yang di lindungi. Jadi tentunya Ya saya kaget, kok ada yah orang yang senekat ini”, aku Matheus.

Matheus juga mengatakan sebelum kasus ini, publik juga pernah dikejutkan dengan berita rusa yang mati satu kapal, lalu baru baru ini ada penangkapan rusa dan kerbau liar di pulau Komodo.

“Artinya, jika komodo ini terbukti diselundupkan dari jalur TNK, apa pengawasan TNK masih butuh banyak bantuan, mereka sendiri masih serba kekurangan dari jumlah patroli hingga dana buat beli bensin patroli. Untuk wilayah Taman Nasional yang begitu luas jumlah patroli yang ada masih jauh dari cukup”, tutur Matheus.

Matheus berharap pemerintah, secepatnya harus bantu efektivitas patroli dan kelengkapan mereka (TNK), Perketat pengawasan di laut dan di darat.

“Penyelundupan binatang langka adalah kejahatan besar. Semoga pemerintah segera mengatasi persoalan ini demi patiwisata Labuan Bajo”, katanya.

Matheus juga meminta aparat hukum segera menyelidiki kasus tersebut hingga ke akar-akarnya. Hal itu dilakukan agar hal serupa tidak terjadi lagi.

“Jika pihak yang berwajib dapat menuntaskan kasus ini, NTT dapat menjadi contoh baik bagi taman-taman nasional dan usaha pengamanan satwa langka di Indonesia”, tutur Matheus. (Mhen/RN)

Komentar