oleh

Urgensi Dunia Media Massa yang Sehat

RADARNTT, Labuan Bajo – Wakil Bupati Manggarai Barat, drh. Maria Geong, Ph.D., tampil sebagai salah satu Narasumber dalam Seminar Literasi Media yang diselenggarakan Lembaga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bidang Kelembagaan, di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat, Kamis (14/11/2019). Tampil sebagai pembicara kedua, Wabup perempuan pertama di NTT ini menyampaikan materi dengan Urgensi Dunia Media Massa yang Sehat.

Mengawali penyampaian materi, Wabup Maria Geong mengangkat salah satu program yang ditayangkan dalam televisi pada awal tahun 2000-an yakni Program Acara Smackdown. “Mungkin masih lekat dalam memori kita peristiwa seorang anak yang meninggal akibat di’smackdown’ oleh teman-temannya. Kepada polisi anak-anak ini menceritakan bahwa perbuatan itu mereka lakukan karena terinspirasi tayangan olahraga smack down di televisi,” paparnya.

Di waktu yang lain, negara kita ini pernah dihebohkan dengan terbongkarnya singkat penyebar infomasi bohong (hoax) bernama CMA dan Saraccen. Kedua sindikat ini menyebarkan sejumlah berita bohong yang berbau Suku, Agama, Ras (Sara) di berbagai media social, seperti facebook, instagram, dan twitter yang membuat banyak anggota masyarakat kita terprovokasi dan menimbulkan terjadinya aksi-aksi criminal seperti persekusi, ujaran kebencian, fitnah, serta aksi main hakim sendiri di tengah masyarakat.

Menurut Wabup, peristiwa- peristiwa ini sedikitnya menggambarkan kepada kita betapa dahsyatnya pengaruh media massa baik televisi, surat kabar maupun media social dalam mempengaruhi perilaku manusia. “Sadar atau tidak, media massa telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. PBB misalnya pernah mengungkapkan bahwa sejak ditemukan pada tahun 1925 media televisi telah menjadi alat utama yang mempengaruhi perkembangan peradaban manusia,” jelasnya.

Teknologi dalam komunikasi ini telah menjadi kekuatan yang menginfomasikan, menyalurkan dan mempengaruhi opini bahkan kebudayaan masyarakat dunia. Betapa tidak, sebuah survey yang dilakukan Nielsen pada tahun 2014 menyebutkan bahwa rata- rata masyarakat kita menghabiskan waktu 3 sampai 5 jam per hari untuk mengkonsumsi informasi dan hiburan dari berbagai media massa. 95% masyarakat kita mengkonsumsinya dari media televisi, 33% dari internet, 20% dari radio, 12% dari koran, dan 5% dari majalah .

Dan diprediksi akan ada lebih dari 1,68 miliar televisi yang akan mengisi ruang-ruang keluarga di seluruh dunia. Dengan tingkat konsumsi yang demikian besar, tidak heran jika media masa akhirnya menjadi kebutuhan keseharian manusia yang sangat mempengaruhi kehidupannya.

Namun sayangnya demikian Wabup Maria, tidak semua konten infomasi dan hiburan yang disediakan media massa ini layak untuk dikonsunsi oleh masyarakat. Peristiwa terbongkarnya sindikat penyebar hoax dan perilaku smackdown anak–anak di atas menyadarkan kita bahwa tidak semua tayangan dan konten informasi dalam media memiliki nilai positif bagi masyarakat.

Selanjutnya Wabup mengutip data yang pernah dikeluarkan KPI. Dikatakannya, KPI misalnya dalam sebuah laporannya berjudul “Survei Indeks Kualitas Program Siaran televisi Periode satu 2017” mengungkapkan bahwa meski televisi merupakan medium yang paling luas jangkauannya, terutama di Indonesia, mutu acara yang ditayangkan masih medioker.

Dengan menggunakan indeks standar berada di angka 3.00 dari skala 4, KPI menemukan terdapat program tayangan televisi yang kualitasnya masih jauh berada di bawah ambang batas standar yang ditetapkan KPI Dari 8 program televiai yang dinilai, tak satupun program televisi di Indonesia yang memperoleh nilai sempurna skala 4. Bahkan empat di antaranya memiliki standar di bawah harapan, yakni Varietas Show ( 2,43), Sinetron (2,45), Infotainment (2,36) dan Berita (2,93).

Berangkat dari hasil penelitian ini dapat kita pahami kenapa masyarakat kita misalnya mudah teprovokası, mempercayai hoax lału melakukan aksi-aksi yang tidak terpuji seperti digambarkan di muka. Bisa jadi masyarakat kita telah kehilangan daya kritisnya akibat mengkonsumsi konten media yang kurang bermutu. Akibatnya, kemampuan masyarakat untuk memfilter setiap konten yang dikonsumsinya pun menjadi rendah. Masyarakat dengnn mudahnya mengimitasi perilaku yang dilihatnya dari media tanpa menimbang baik buruknya. Masyarakat dengan mudahnya mempercayai informasi yang diterimanya dari media tanpa mengecek kebenarannya. (PJ/TIM/RN)

 

(Sumber: humas dan protokol Mabar)

Komentar