oleh

Yayasan Obor Timur Gelar Shelter Guna Minimalisir Pekerja Anak

RADARNTT, Kupang — Maraknya pekerja anak di Kota Kupang, mendorong Yayasan Obor Timur yang bermitra dengan Dinas Sosial Provinsi NTT menggelar kegiatan Shelter guna meminimalisir pekerja anak.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 pekerja anak didampingi orang tua dan berlangsung di pelataran Kantor Yayasan Obor Timur yang terletak di Kelurahan Nunbaun Dela, Kota Kupang, Jumat, (22/11/2019).

Foni Mella, Direktur Yayasan Obor Timur kepada media ini mengatakan bahwa berdasarkan data, ada 200-an pekerja anak di Kota Kupang dan sekitarnya. Dari data tersebut, jelasnya, sementara hanya 30 anak yang menjadi prioritas serta diikutkan dalam Kegiatan Shelter ini.

“Mereka adalah anak-anak yang bekerja menjual koran, pemulung, kerja di pasar dan tempat-tempat lain. Intinya mereka adalah anak-anak yang bekerja dan hidup di jalanan lebih dari 4 jam,” ungkapnya

Kegiatan ini, lanjutnya, sebagai bentuk kepedulian dari Yayasan Obor Timur yang merupakan mitra Dinas Sosial Provinsi NTT, untuk bisa menolong anak dan orang tua agar waktu anak yang hidup di jalanan ini bisa dikurangi.

Selain itu, orang tua yang diikutkan dalam kegiatan ini dimaksudkan untuk bisa diberi pemahaman lebih tentang pengasuhan anak dari berbagai segi.

“Yang memberi materi dalam kegiatan ini dari berbagai segi dan berbeda-beda sehingga lebih memantapkan mereka untuk bisa mengurangi waktu kerja buat anak di jalanan,” jelasnya

Sementara itu, Aspenas Tomasui, Kepala Seksi Anak pada Dinas Sosial Provinsi NTT yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa di dinas sosial itu salah satu sub kegiatannya adalah perlindungan anak

“Dimana salah satu item permasalahan anak adalah pekerja anak di jalanan. Dari situ, dengan melihat tumbuh kembangnya anak dan partisipasi anak dalam bekerja membantu orang tua, maka kita coba kelola dengan baik dengan lakukan pembinaan,” ujarnya

Maka dari itu, lanjutnya, Dinas Sosial Provinsi NTT menggandeng Yayasan Obor Timur yang khusus bergerak dalam memperjuangkan hak-hak anak untuk bisa meminimalisir masalah sosial terkait anak ini.

Khusus Kota Kupang itu sendiri, fenomena anak jalanan makin tinggi dibarengi dengan tingkat pembangunan yang mana hak-hak anak kurang terpenuhi sehingga anak ikut membantu orang tua bekerja untuk pemenuhan ekonomi keluarga.

“Anak itu harusnya masih dalam taraf bermain dengan teman-temannya, bukan ikut bekerja menopang ekonomi keluarga, ini jadi masalah sosial,” ujarnya. (ND/RN)

Komentar