oleh

40 Petani Dilatih Produksi Pupuk Organik Hayati

-Daerah, Matim-1.062 views

RADARNTT, Borong – Sebanyak 40 orang wakil penyuluh pertanian dari sembilan kecamatan di Manggarai Timur, aparat desa dan petani serta pendamping petani dari Detusoko Ende, Golewa Ngada, Lembor dan Ruteng mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik hayati (POH) di kantor Badan Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (13/3/2020).

Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, LSM Gugah Nurani Indonesia (GNI), Yayasan KEHATI didukung Ford Foundation memperkenalkan pupuk organik hayati yang dikembangkan oleh Laboratorium Mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kepala Laboratorium Mikrobiologi LIPI, Sarjiya Antonius, narasumber pelatihan mengatakan, setidaknya sudah 114 daerah di Nusantara yang telah mengembangkan teknologi pupuk hayati berbasis mikroba yang telah diseleksi dan dikarakterisasi aktivitas enzimatiknya sebagai agen penyubur tanaman biokontrol dan bioremediasi lahan.

Dia menjelaskan, dengan bahan sederhana seperti gula, tauge, telur dan agar-agar serta air kelapa, pupuk hayati ini dibuat.

“Tauge mengandung asam amino yang mengandung protein yang merupakan zat pengatur secara biologi,” jelas Sarjiya Antonius.

Ia menegaskan bahwa POH telah menjadi salah satu solusi untuk memelihara kesuburan dan kesehatan tanah, peningkatan kualitas dan produksi hasil pangan sehat dan aman dikonsumsi.

Baginya, Kabupaten Manggarai Timur yang kaya dengan potensi pertanian, perkebunan dan kekayaan hayati yang melimpah sangat strategis untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, Yohanis Sentis menegaskan pentingnya berkolaborasi dengan pihak LSM dan LIPI untuk transfer pengetahuan demi mengembangkan pertanian berkelanjutan di daerah itu.

“Mengapa berkolaborasi dengan LIPI, karena teknologi pembuatan POH yang dimiliki LIPI diproduksi di Matim dengan bahan baku yang tersedia dan didampingi LIPI, sehingga terjadi transfer knowledge dan produksi pupuk dapat direncanakan secara berkelanjutan oleh dinas pertanian Matim,” papar Yohanis Sentis.

Terlebih saat ini, kata dia, Manggarai Timur sedang menggagas penerapan pertanian organik, sehingga upaya untuk meminimalisasi penggunaan pupuk kimia menjadi hal penting yang seharusnya didorong.

Di sisi lain, lanjutnya, POH dirancang sebagai teknologi sederhana yang bisa dilakukan oleh petani sehingga bisa dipraktekan oleh kelompok tani agar dikelola secara kelompok atau koperasi. Dengan demikian, teknologi POH sangat Pro Poor, Pro Growth, Pro Job dan Pro Green.

“Harapan ke depan sinergi PEMDA dengan KEHATI dan GNI terus berlanjut dan ditingkatkan baik dalam proses produksi POH secara berkelanjutan, penguatan kapasitas petani sorgum, pengolahan dan hilirisasi produk sorgum untuk ekonomi dan perbaikan gizi,” tegas Yohanis Sentis.

Bagi KEHATI, kegiatan ini merupakan bentuk dukungan dalam pemberdayaan kelompok tani, khususnya petani tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan di kawasan Manggarai,

“Sasaran kegiatan pelatihan pembuatan pupuk ini adalah meningkatnya pengetahuan para petani untuk membuat pupuk organik secara swasaya dan dimanfaatkan dilahan pertanian sehingga ke depannya dapat menghasilkan produk pertanian berkelajutan,” jelas Puji Sumedi, Manajer Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI.

“Sinergi para pihak menjadi kunci untuk keberhasilan dari kegiatan ini,”ujar Andre Winokan, Community Development Facilitator GNI.

Sinergi ini akan bermuara peningkatan produksi dan produktifitas pada bidang pangan, hortikultura dan perkebunan dan pada akhirnya meningkatkan perekonomian petani. (TIM/RN)

Komentar