oleh

Amon, Ones, dan Dugong

-Alor, Daerah-648 views

RADARNTT, Kalabahi – Alor menyimpan sejuta pesona. Entah pesona wisata alam maupun budaya. Di bidang lain jangan tanya lagi. Olahraga atau seni, misalnya, Kabupaten Alor juga punya nama mentereng. Kabupaten yang behadapan muka dengan Pulau Lembata, Indonesia atau berjarak sepelemparan batu dari Atauro, pulau di Republik Demokratik Timor Leste atau Timor Leste, negara adalah wilayah terluar Indonesia yang terbilang unik dan mistis.

“Kalau anak panah sudah dilepaskan dari busur untuk melumpuhkan musuh ia akan mencari sendiri sasaran yang dituju. Panah Alor akan melumpuhkan Komodo, Paus atau Kuda Sandel. Tim Nusa Kenari akan menggunakan ilmu hitam paling sakti untuk melumatkan setiap pergerakan lawan di bawah mistar gawang. Tim-tim luar Timor akan pulang membawa duka dan Alor akan “terbang” ke markasnya bermodal selembar daun,” kata Justin, teman loper koran saya saat kami berada di Tribun bagian barat Stadion Oepoi Kupang menyaksikan laga El Tari Memorial Cup tahun 90-an, turnamen bola antartim memperebutkan Tropi dan hadiah turnamen yang digagas mantan Gubernur NTT El Tari.

Alor memang memiliki daya tarik luar biasa. Tak sebatas kisah-kisah mistik yang membalut kabupaten nan eksotik itu di bibir pantai Lembata bagian timur. Bahkan lebih dari itu. Alor memiliki daya tarik tersendiri. Al Quran dari kulit kayu pun ada di Alor. Anggota DPR Adji Massaid merasa terharu saat menyambangi Alor. Kata Adjie saat saya sambangi di ruang kerjanya, kompleks DPR RI, mengaku kabupaten itu menyimpan pesona luar biasa besar bagi pengunjung. Masyarakatnya sangat ramah; sesuatu yang juga menjadi kerinduan wisatawan saat menghabiskan waktu berhari-hari mengakrabi pesona bawah laut pulau-pulau di wilayah Kabupaten Alor. Mari menikmati pesona nan eksotik pulau-pulau mungil lainnya seperti Pulau Kepa, Pantar, Rusa, dan lain-lain.

Sumber daya manusia Alor pun meroket ke tingkat nasional. Syahrir Ika, dosen dan orang penting di Bagian Analisa Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia adalah putera Alor. Masih ingat Hasan Azhari Oramahi, penyiar TVRI era 1980-an segenerasi Luther Kalasuad, Dian Budiargo, Max Sopacua, Indirwan, Yan Partawijaya, Yasir Denhas, dll, adalah wartawan senior dari Alor.

Atau sekadar menyebut Irjen Pol Drs Johni Asadoma, SIK, M.Hum, Ketua Umum Pertina, mantan Wakil Kepala Polda NTT yang sejak 17 Juli 2020 mengemban amanat sebagai Kepala Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri. Pun Dr Imanuel Ekadianus Blegur, mantan Ketua Umum GMKI dan staf Gubernur Viktor Laiskodat adalah putra Alor yang mengabdi di tingkat nasional. Berikut Thobias Tubulau, Asisten Deputi Industri Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia adalah putra Alor yang mengabdi di tingkat nasional.

“Kita bekerja dengan hati agar berarti bagi bangsa dan negara. Kita bantu juga daerah kita sepanjang kita bisa,” kata Thobias kepada saya suatu waktu di sela-sela Raker dengan Menteri Pemuda dan Olahraga dan jajarannya dengan Komisi Olahraga DPR RI di Lt 1 Gedung Nusantara Senayan, Jakarta. Lalu balik ke kompleks Universitas Kristen Artha Wacana Kupang ada Dr Johni Lumba, Dekan Fakultas Ilmu Keguruan. Lalu bergeser ke Pulau Dewata ada Yabes Malaifani, pemain betkarakter yang tengah merumput di Bali United. Pun Andmesh Kamaleng, finalis Indonesia Idol 2018 adalah anak-anak Alor yang mengharumkan nama daerah dan tanah Flobamora.

Festival Dugong

Amon Djobo, Bupati Alor mengaku kabupaten yang ia pimpin menyimpan pesona wisata luar biasa besar. Festival Dugong di Pantai Mali adalah salah satu event pariwisata dari Alor bagi tak sekadar memanjakan mata warga Alor dan NTT namun persembahan terindah bagi para pelancong dalam dan luar negeri. Apa keunikan Festival Dugong? Ini pertanyaan menarik. Dugong atau ikan duyun bisa dipanggil masuk ke Pantai Mali dan mata wisatawan leluasa menyaksikan ikan itu pada saat pembukaan Festival Dugong di Mali.

“Tahun 2009 saya bersama isteri menanam anakan mangrove dan bibit kelapa di Mali. Isteri saya malah protes. Mau urus anak kuliah atau urus tanam mangrove? Saya bilang kalau kita tidak tanam, merawat yang ada saya sudah cukup membantu menjaga kelestarian ekosistem pantai untuk masa depan alam dan lingkungan kita,” kata Onesimus Laa.

Ones menjauh dari isteri, menyelam lebih dalam ke tengah arus Mali yang menantang. “Saat menyelam saya bertemu duyun. Saya mengakrabinya. Mengelus-elus badannya. Duyun itu akhirnya menjadi teman setia. Kapan saja saya bisa panggil ia akan datang seperti teman akrab. Dunia geger saat saya bersama tim WWF selam dan saya bisa akrab dengan duyun layaknya manusia. Sejak 2019, Pak Bupati Alor Amon Djobo menyelenggarakan Festival Dugong dihadiri langsung Pak Gubernur. Tahun 2020, Pak Gubernur datang lagi. Saya hadirkan dugong, duyun itu dan menjadi tontotan ribuan warga. Tahun 2021, Pak Gubernur berencana mengundang para duta besar negara-negara sahabat untuk datang menyaksikan langsung duyun dalam Festival Dugong di Mali,” ujar Ones.

Warga Alor I Gusti K Malua mengaku, Alor memiliki daya tarik luar biasa. Berbagai langkah yang diambil Bupati Amon Djobo dan jajaran Dinas Pariwisata Alor merupakan langkah cerdas mendukung program Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat yang menjadikan pariwisata sebagai prime mover, penggerak utama pembangunan NTT. Gusti, sarjana Bahasa Inggris lulusan Undana Kupang, mengaku di sela-sela menunaikan tugasnya sebagai guru ia juga diam-diam ikut membantu Dinas Pariwisata Alor mempromosikan potensi pariwisata akan makin dikenal dunia internasional.

“Langkah ini memang kecil. Namun, membantu Pemerintah Kabupaten Alor dan Dinas Pariwisata setempat mempromosikan berbagai destinasi wisata daerah adalah bagian tanggung jawab sebagai warga Alor. Cinta budaya dan pariwisata bisa kita wujudkan dalam bentuk promosi. Alor dan pulau-pulanya memiliki keunggulan di bawah laut seperti pulau-pulau kecil lainnya di NTT. Pesona sun set Alor tak jauh seperti memandang Pulau Semau dari Pelabuhan Tenau atau Bolok di Kupang,” kata Gusti Malua, Kepala SMP PGRI Alor. “Keunikan Festival Dugong ini adalah bagaimana pengunjung menyaksikan langsung om Ones berenang dan membawa langsung duyung ke bibir pantai kemudian dilihat langsung pengunjung,” kata Yanto Padabain, staf Dinas Pariwisata Alor.

Menarik wisatawan dunia

Tahun 2019, untuk pertama kalinya digelar Festival Dugong (Duyun) selama satu minggu yaitu mulai 19-25 Juli di Pantai Wisata Mali, Kecamatan Kabola, kurang lebih 12 kilo meter dari arah utara Kalabahi, kota Kabupaten Alor. Tujuan festival ini salah satunya mendorong semangat masyarakat setempat untuk mengembangkan pariwisata yang berbasis lingkungan dan alam (eco tourism). Juga bermaksud agar duyung atau dugong tetap dilindungi, tidak punah sehingga menjadi daya tarik turis dorang ke Alor. Termasuk turis lokal dari Lembata, pulau tetangga. Awal festival, diawali dengan prosesi kaka Ones berenang pigi panggil duyung, dugong di pesisir pantai Pulau Sika, kurang lebih 20 menit pelayaran dari bibir Mali. Di perairan Sika (bukan Kabupaten Sikka di Flores), ada “pasutri” duyung hidup bersama anak mereka selama bertahun-tahun.

Kaka Ones seperti manusia sakti yang “pake pake”? Bisa saja. Laki-laki Alor berkulit legam ini sudah lama bertemu dan bersahabat dengan duyun. Itu tadi, sejak 1999 dan dikisahkan kaka Ones kepada wartawan Media Indonesia, milik Surya Paloh. Suatu sore, ketika Onesimus selesai menanam bakau di pesisir pantai Pulau Sika, ia turun ke laut untuk mengambil perahu. Saat kembali itulah, Onesimus melihat dua ekor dugong berenang di samping perahu. Seekor dugong berenang di depan perahu dan satu lagi berenang di belakang perahu. Dua dugong ini mengantar Ones hingga pantai Mali.Keesokan harinya saat dia kembali dari Sika, dua dugong tersebut kembali mengantar Ones.

“Hari ketiga, saya lepas jangkar perahu dan tunggu. Dua ekor dugong itu muncul lalu saya mengulurkan tangan dan keduanya mencium tangan saya. Dari situ naluri dugong masuk dalam pribadi saya,” kata Ones.

Sejak itu, ia bersahabat dengan Dugong hingga saat ini, seperti terlihat saat dia memanggil dugong untuk bertemu pengunjung selama dua hari sejak Jumat (19/7) dan Sabtu. Begitu perahu tiba di lokasi kemunculan dugong, Ones kemudian memanggil nama mamalia tersebut mengunakan bahasa daerah Kabola beberapa kali. “Bu lamoli go, mao, hao,” ujarnya beberapa kali.Tidak kurang dari satu menit, seekor dugong jantan muncul dari arah depan perahu dan berenang mengelilingi perahu sekitar 10 menit sebelum diperintahkan pulang. Menurut Ones, dugong yang muncul tersebut memiliki panjang hampir tiga meter dan berat sekitar 300 kilogram. Dia menyebutkan, mamalia itu muncul sendirian karena sang betina tengah bersama anaknya. “Anak dugong belum bisa menyesuaikan diri dengan tamu sehingga tidak muncul,” kata Ones saat saya ngobrol dengan beliau (3/8) kemarin.

Prosesi tersebut bagian dari festival panggil dugong yang dibuka Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Saat membuka kegiatan, Viktor mengatakan festival tersebut akan dikembangkan agar berkualitas internasional, mulai dari fasilitas kapal, atraksi budaya, akomodasi, kuliner dan kerajinan rakyat sehingga menjadi daerah pertumbuhan ekonomi baru di Alor. “Persiapan festival dugong 40% bagus, tinggal dipoles lagi agar mendakati 100%,” ujar Viktor yang didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Jelamu, dan Kepala Dinas Periwisata NTT, Wayan Darmawan, dan sejumlah pejabat lainnya.

Menurut Viktor, pada festival panggil dugong ke-2 pada 2020, akan dihadiri Presiden RI, Joko Widodo. “Saya sudah lapor presiden dan akan hadir pada festival tahun depan,” kata Laiskodat kala itu.

Viktor, mantan Ketua Fraksi NasDem DPR RI mengatakan, setelah seluruh persiapan rampung, kegiatan menonton dugong hanya dibuka dua kali dalam setahun. Hal itu bertujuan menjaga dan melindungi dugong bersama makanan dugong, yakni padang lamun di perairan tersebut. Nah, akhir pekan lalu selepas menjauh dari bibir pantai selatan Lembata, Viktor dan rombongan menyapa Mali. Dari Mali ada secercah asa, menjadikan Festival Dugong magnet baru menjadikan pariwisata NTT prime mover pembangunan. Dimulai dari bibir Mali nan eksotik, kabupaten yang dikawal Bupati Amon Djobo dan.kaka Ones, “manusia sakti” yang bisa panggil duyung untuk memanjakan mata turis. (Ansel Deri)

Komentar

Jangan Lewatkan