oleh

Bupati Djobo minta masyarakat jangan kuatir berlebihan hadapi berbagai penyakit

-Alor, Daerah-845 views

RADARNTT, Kalabahi – Bupati Alor Amon Djobo meminta masyarakat Kabupaten Alor agar jangan terus menerus merasa takut, cemas dan gelisah atau hidup dalam suatu suasana kekuatiran, tetapi terus membangun sebuah keberanian menjadi pemenang dalam menghadapi berbagai mala petaka yang terjadi atau hidup dalam pengharapan, sehingga bisa mengatasi segala macam persoalan yang dihadapi.

“Masyarakat tidak usah terlalu risau, takut dan hidup dalam suatu kekuatiran, tapi dalam suatu pengharapan dengan tetap bekerja, yang tentu dengan kewaspaan yang tinggi, terhadap serangan berbagai jenis penyakit baik yang mengancam nyawa manusia, seperti Corona maupun ternak, Hoc Cholera dan tumbuh-tumbuhan,” pinta Bupati Djobo mengingatkan.

Virus Corona atau Covid-19, lanjut Djobo sangat berbahaya dan mengancam hingga merenggut nyawa manusia di beberapa daerah Provinsi di Indonesia dan berbagai negara. Peristiwa wabah dunia ini memang sangat memilukan dan mencemaskan bagi berbagai pihak. Namun, NTT maupun Alor mesti bersyukur sambil meningkatkan kewaspadaan dan kepasrahan pada Tuhan, bahwa inilah nasib atau jalan hidup yang Dia berikan dan selalu berupaya semampunya lewat berdoa sambil bekerja atau berusaha keras mengatasinya (Ora et Labora).

Untuk itu, selaku Pimpinan Daerah, dirinya terus mengimbau agar masyarakat mampu menerima diri, mendisiplinkan diri dan mewaspadai semua kejadian alam yang tidak menguntungkan kehidupan manusia tersebut serta pandai membaca tanda-tanda alam untuk mengantisipasi kejadian buruk yang akan terjadi di kemudian hari.

Terhadap Malapetaka 2020, Bupati Djobo telah prediksi sejak 2019, HIDUP ini butuh permenungan. “Mengapa cobaan ini datang silih menghampiri? Mengapa malapetaka ini datang silih berganti? Mengapa Tuhan memberikan masalah ini untuk dihadapi Buah permenungan ini menjadi sebuah refleksi bagi diri sendiri maupun seorang pemimpin untuk dicarikan solusi yang tepat bagi diri sendiri maupun orang banyak,” hal tersebut disampaikan Bupati Amon Djobo, kepada Pers di kediamannya, pekan lalu sebagai bagian dari tanggapannya terhadap badai-gelombang sakit-penyakit sejak memasuki 2020.

Dilitanikannya, bahwa pada awal-awal memasuki 2020, masyarakat petani Alor diperhadapkan dengan hama ulat grayak yang menyerang tanaman padi dan jagung di Bidang Pertanian, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Kurang Gizi (Stunting) di Bidang Kesehatan, Penyakit Babi (Hoc Cholera) di Bidang Peternakan dan kini di Bidang Kesehatan lagi, Virus Corona, yang sedang melanda dunia menyerang dan mengancam nyawa warga dunia.

Bala bencana tersebut mestinya menjadi buah permenungan semua orang untuk berpikir dan mencari pemecahannya agar kehidupan manusia bisa langgeng. Demikian juga, Bupati Dua Periode ini meminta agar setiap orang harus mampu membaca tanda-tanda zaman atau fenomena kekinian agar mengambil langkah-langkah antisipatif.

“Begini Om. Kita hidup ini meski otak kiri dan otak kanan bermain, agar gejala, tanda-tanda dan fenomena begini harus cepat ambil langkah, kalau tidak begitu, maka kita akan susah,” timpal Bupati Djobo.

Sebagai seorang pemimpin, dirinya mengakui, bahwa tanda-tanda zaman dan fenomena kekinian itu telah dibacanya sebelum memasuki 2020, di mana pada September hingga Desember 2019, dirinya sudah berulang kali mengingatkan dalam setiap rapat-rapat umum maupun terbatas bersama Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) maupun Staf Pelaksana dalam arahan setiap apel bulanan. Pula kepada masyarakat umum setiap kali kunjungan kerja.

Selain mengarahkan, Bupati Djobo juga sudah mengingatkan apa yang akan terjadi, bila sedang terjadi fenomena alam dan tanda-tanda kekinian tersebut untuk diantisipasi langkah-langkah selanjutnya oleh masyarakat umum terutama Penyelenggara Pemeritahan Daerah, termasuk para pimpinan OPD.

“Pada bulan September, Oktober dan November 2019. Dalam apel, pertemuan terbatas, maupun perteman resmi, yang menghadirkan Bupati dan dalam arahan-arahan, saya katakana, bila sudah ada kekeringan panjang, maka paling tidak ada wabah penyakit, atau efek-efek sampingan yang mengikuti setelah selesai kekeringan panjang. Apakah ketahanan pangan berkurang ataukah daya beli masyarakat menurun, ada penyakit-penyakit lain yang akan mnghantui hidup manusia sudah saya omong itu,” keluh Mantan Camat Alor Timur ini, sambil mengingatkan untuk terus mewaspadai.

”Nah, ternyata apa? Datang pada Januari hingga Februari serangan demam berdarah, yang bukan saja di Alor, tapi di seluruh NTT dalam Bidang Kesehatan. Dan, kita masih bersyukur, karena dari 600-an orang lebih kasus, meninggal dua orang. Itu juga karena terlalu lama di rumah dan Kabupaten Alor berada di urutan enam dari bawah 22 Kabupaten/ Kota,” sebut Bupati Djobo. Artinya apa?, lanjut Djobo kejadian alam tersebut bukan saja Kabupaten Alor yang rasakan tapi secara regional Provinsi NTT, bahkan nasional, khusus untuk masalah kesehatan DBD dan Kurang Gizi (Stunting). Tiba-tiba iklim dunia berubah dan seluruh dunia digemparkan dengan wabah penyakit Virus Corona, Corona Virus Disease, atau disingkat Covid-19.

Semua fenomena dan gejala itu, sudah dibaca dengan insting sebagai seorang pemimpin yang mengamati tanda-tanda alam dan perubahan iklim global dengan kemarau panjang, curah hujan bergeser, dan suhu panas bumi yang meningkat drastis.

“Itu tanda-tanda kekinian yang menibahkan kehidupan manusia. Ini sudah harus dibaca. Mulai dari kekeringan panjang tahun kemarin, hujan terlambat. Pada hal masyarakat sudah mempersiapkan lahan, tapi kekeringan air, termasuk ketersediaan bahan pangan lokal yang cukup parah. Saya sudah wanti-wanti dan bilang nanti ada beberapa kasus atau masalah terjadi. Ternyata betul dan meluas di seantero dunia,” urai Bupati Djobo, sekaligus meminta agar para Aparatur Sipil Negara (ASN) harus siap pada garda depan menangani persoalan yang sebenarnya sudah disiasati dengan berbagai intervensi program dan kegiatan teknis yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. (FB/Kasubag Komunikasi Pimpinan Setda Alor)

Komentar

Jangan Lewatkan