oleh

Bupati Sumba Tengah Tanam Perdana di Lokasi ‘Food Estate’

RADARNTT, Waibakul – Bupati Sumba Tengah, Paulus S K Limu melakukan penanaman perdana di lokasi food estate zona V di Desa Tana Modu Kecamatan Katikutana Selatan, Selasa (17/11/2020).

Bupati Paul Limu, pada kesempatan itu mengatakan, program food estate dan Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang diinisiasi Gubernur NTT, akan mampu meningkatkan ekonomi dan pendapatan masyarakat khususnya di Sumba Tengah.

Bupati mengharapkan agar kawasan food estate tidak hanya ditanami jagung dan padi saja, tetapi ada juga tanaman lain seperti buah dan sayur serta perkebunan, sehingga akan menjadi kawasan agrowisata.

“Pada setiap kesempatan saya selalu bilang, saya bukan bupatinya Sumba Tengah, tetapi bupatinya food estate. Hal tersebut karena saya mau Sumba Tengah keluar dari kemiskinan yang 36 persen. Dan untuk mengurangi kemiskinan tersebut, harus kembali kepada pertanian, perkebunan dan perikanan, tanpa itu semua tidak bisa,” ujar Bupati Paulus.

Kunjungan Bupati Sumba Tengah dalam rangka meninjau lokasi penanaman jagung perdana di zona V dan beberapa komoditi pertanian lainnya yang akan dikembangkan di lokasi tersebut.

Terkait rencana pengembangan food estate tahap pertama di tahun 2020, salah satu provinsi yang menjadi lokasi pengembangan food estate adalah provinsi Nusa Tenggara Timur yang dipusatkan di Kabupaten Sumba Tengah dengan luasan lahan jagung seluas 2.000 hektar dan Padi seluas 3.000 hektar.

Musim tanam jagung pertama diperkirakan terjadi pada bulan Desember 2020, hal ini diperkirakan sesuai curah hujan yang semakin intens di wilayah tertentu namun ada beberapa wilayah yang curah hujannya belum terjadi secara intens dan bahkan belum terjadi sama skali seperti pada wilayah bagian utara Kabupaten Sumba Tengah.

Bupati menekankan bahwa adanya program pengembangan food estate di Kabupaten Sumba Tengah, diharapkan mendapat dukungan penuh dari semua pihak, termasuk masyarakat sehingga bisa dimanfaatkan secara optimal untuk peningkatan pembangunan pada berbagai sektor, maupun perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mempercepat pembangunan pertanian harus dimulai dari desa dan untuk mempercepat komunikasi antara Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) kecamatan, Kementan sudah membentuk Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) yang merupakan transformasi dari BPP. Dengan Kostratani, fungsi BPP lebih ditingkatkan berbasis IT dan single data.

Saat penanaman juga dilakukan dengan brigade, yaitu melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, SMK, serta babinsa, karena luasnya areal tanam tidak bisa dilakukan sendiri tetapi butuh melibatkan semua komponen yang ada di masyarakat. (Humas/Kominfo/TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan