oleh

Butuh dukungan masyarakat agar bebas Korona dan DBD di kabupaten Alor

-Alor, Daerah-697 views

RADARNTT, Kalabahi – Dalam segala keterbatasan, berbagai upaya telah dilaksanakan pemerintah kabupaten Alor dalam menangani virus korona maupun Demam Berdarah Dengue (DBD) dan diharapkan dukungan masyarakat agar bisa bebas dari kedua jenis penyakit mematikan itu.

Dalam hal pencegahan virus korona masuk Alor, Bupati Alor Amon Djobo mengisahkan, bahwa walaupun kebijakan menolak Kapal Pesiar masuk ke perairan Alor ditantang banyak kalangan pariwisata, namun ketika eskalasi penyebaran wabah virus korona meningkat, kebijakan yang diambil tersebut mendapatkan sambutan hangat dari publik.

Demikian juga event pariwisata Festival Dugong dan kegiatan religius Mushabakha Tilawatil Quran (MTQ) yang sore harinya mau dibuka, terpaksa ditunda.

Begitu pun hari raya umat kristiani pada hari minggu diminta untuk sementara berdoa dari rumah dalam upaya mengurangi kumpulan orang banyak.

“Pada awal-awal, malahan sebelum Pemerintah Pusat mengambil tindakan, dengan insting dan membaca tanda-tanda kekinian berdasarkan pengalaman mengurus daerah pulau dan perbatasan negara sahabat, saya tidak mau mengambil resiko masuknya kapal asing di Pelabuhan Alor. Coba bayangkan dulu masuk dan dihubung-hubungkan dengan eskalasi virus korona yang naik, maka orang mulai menyalahkan Pemda,” jelas Bupati Djobo, berhitung, dalam keterangan pers di Kalabahi, Jumat (3/4/2020) siang.

Selain tindakan tetap yang dilaksanakannya tersebut, selaku Pimpinan Daerah telah melaksanakan Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Plus dengan menghadirkan instansi terkait, baik vertikal maupun horisontal dan juga para tokoh agama, masyarakat dan tokoh tertentu guna berdiskusi mengambil keputusan untuk ditindaklanjuti bersama, maka salah satu keputusan penting adalah Pembentukan Satuan Gugus Tugas (Satgas) Percepatan Penanggulangan Covid-19 Tingkat Kabupaten Alor Tahun 2020.

Satgas yang merupakan kolaborasi dan kerja Tim Kesehatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Satpol PP berkoordinasi dengan TNI/ Polri serta Pemda Alor berjaringan kerja tersebut melaksanakan hal-hal teknis pencegahan dan penanggulangan Covid-19.

Upaya-upaya tersebut, menurut Bupati harus mendapat dukungan dari masyarakat karena penyakit korona sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian tragis.
Untuk itu, masih Djobo tidak ada jalan lain selain kehati-hatian atau kewaspadaan yang harus ditingkatkan.

Apa yang dianjurkan Pihak Pemerinta harus dituruti, karena pemerinta berpikir dan bekerja melayani yang terbaik bagi rakyatnya.

“Jangan masyarakat mulai lengah, ketika menangani DBD dulu. Anak sudah dua tiga hari di rumah panas tinggi baru antar ke rumah sakit. Ya, dokter mana yang bisa tolong. Tidak bisa tow,” keluh Bupati Djobo.

Untuk itu, Bupati Djobo menasehati agar jaga kebersihan diri, cuci tangan dengan sabun atau anti septik, bersin dengan menutup hidung, pakai masker, jaga jarak (social distancing) dan tinggal di rumah (stay at home).

Isolasi Diri Bukan Berarti Penjarakan Orang

Bupati Amon Djobo menyatakan rasa kesesalannya dengan sejumlah Orang Dalam Pengawasan (OPD), yang adalah orang-orang Alor Para Pelaku Perjalanan yang baru datang dari luar Nusa Tenggara Timur (NTT) atau daerah terjangkit.

Menurut Bupati Djobo sebagaimana secara teknis dijelaskan Instansi Terkait, bahwa tetap dilakukan isolasi diri selam 14 hari dan dirinya berharap aturan tersebut dipatuhi sehingga tidak berdampak bila sesuatu kejadian terjadi.

“Jadi kita harus taat apa yang disampaikan petugas kesehatan yang merupakan pedoman umum (protokol kesehatan), karena kalau diri sendiri terjangkit dan mati tidak masalah. Jangan tularkan ke orang lain lagi,” harap Djobo, sekaligus menegaskan bahwa jangan menganggap seperti penjara yang membatasi kebebasan seseorang tapi untuk kebaikan bersama harus mendisiplinkan diri.

Dokter Diminta Mendiagnosa dengan Tepat

Bupati Amon Djobo dalam wawancara meminta agar semua petugas kesehatan bekerja dengan penuh tanggungjawab atau all out menangani pasien 1×24 jam dan diharapkan sungguh-sungguh mendiagnosa pasien dengan tepat sehingga tidak menimbulkan persepsi yang buruk di tengah masyarakat yang sedikit galau ini.

“Para dokter dan petugas medis, saya minta diagnosa yang tepat, sehingga obat juga tepat. Jangan pasien flu dan embaien dibilang Corona,” pinta Bupati Djobo.

Bersyukur Musim Panen; Masyarakat Dilarang Pesta Pora

Dalam keadaan gundah gulana, Pamong Praja tulen ini masih melihat secerca harapan pada masyarakat di kampung-kampung yang bekerja sehari-hari sebagai seorang petani, yang kejadian korona terjadi telah selesai menuai hasil panenan.

Untuk itu, Bupati Djobo meminta masyarakat agar jangan mengadakan pesta pora, tapi berupaya berhemat hingga musim tanam 2021 mendatang.

Tak luput pula, Pembina Aparatur Sipil Negara agar menjadi contoh disiplin bagi masyarakat dan diharapkan tidak ada yang keluar daerah menggunakan SPPD. Bila dirinya mendapatkan hal demikian, maka tak segan-segan dikenakan sanksi berat. Karena ke depan tak menutup kemungkinan SPPD dialihkan ke penanganan korona.

Hari Raya Keagamaan Disuaikan dengan Pemerinta dan Lembaga Agama

Menghadapi hari raya keagamaan ke depan Bupati Djobo mengharapkan tetap melindungi diri dan keluarga dengan melaksanakan himbauan pemerintah yang sudah disepakati bersama para pimpinan agama bersama lembaganya seperti: MUI (Islam), PGI (Protestan) dan KWI (Katolik) serta Hindu Parisada.

Di akhir jumpa media tersebut, Bupati Amon Djobo berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu Satgas Covid-19 di antaranya: penyemprotan disinfektan oleh PMI, Bantuan tempat cuci tangan dari PERTAMINA Alor dan bantuan ember dan peralatan cuci tangan oleh Peguyuban Tionghoa di Alor. (Gabriel L. Tang/ Kasubag Komunikasi Pimpinan Setda Alor)

Komentar

Jangan Lewatkan