oleh

Daniel Aluman: Produktif di Tengah Pandemi Melalui Irigasi Tetes

RADARNTT, Kupang – Banyak cara dapat dilakukan untuk untuk tetap produktif di masa pandemi Covid-19, di bidang pertanian, Daniel Aluman patut dijadikan contoh.

Pandemi Covid-19, tidak menyurutkan semangat Daniel Aluman (53). Ketika ditemui di kebunnya, di Fatukoa, salah satu kelurahan di pinggiran Kota Kupang, ia tersenyum tipis. Dengan gagah ia berujar, “ untuk makan saya sudah cukup, saya hanya ingin menjadi berkat bagi sesama dengan cara menjadi petani yang cerdas.” Ia melanjutkan,“ agar makanan tersedia bagi semua orang.”

Lewat perannya sebagai Ketua Kelompok Tani Noetnana, Klaster sapi binaan Bank Indonesia, Daniel dkk, melakukan inovasi, memadukan secara serius pertanian terintegrasi: penggemukan sapi dan budidaya hortikultura.

Tidak hanya itu, ditengah pandemi Covid-19, ketika banyak petani patah arang karena produksi hortikultura melimpah dan daya beli masyarakat turun, Daniel justru berkolaborasi dengan Power Agro menerapkan irigasi tetes di kebunnya seluas 2 hektar dan melakukan budidaya tomat 15 ribu pohon, cabai 10 ribu pohon, melon dan semangka 10 ribu pohon.

Menurut Daniel, upaya ini adalah wujud tanggungjawab kami untuk membantu ketersedia pangan jenis hortikultura mulai bulan Desember 2020 sampai April 2021. Ia menegaskan, untuk kondisi NTT, penerapan teknologi irigasi tetes sangat membantu karena ketersediaan air kita terbatas.

“Dari sisi waktu dan tenga pun sangat hemat, dalam durasi waktu 15-20 menit, luasan lahan horti dua hektar sudah selesai disiram dan dipupuk,” jelasnya.

Apa yang memotivasi Daniel dkk, sehingga tetap produktif dan inovatif ditengah pandemic Covid-19? Mewakili teman-temannya kelompok tani Noetnana, ia berujar, menjadi petani dan proses bertani itu sendirilah yang membuat kami menjadi lebih tangguh menghadapi setiap tantangan, termasuk pandemic covid ini.

“Saya selalu menegaskan kepada semua anggota kelompok, kita harus selalu menjadi berkat bagi banyak orang dan lentur dalam kondisi apapun,” ujarnya.

Kebahagian terbesar yang kami rasakan justru ada pada keterlibatan   bersama semua pelaku usaha tani lainnya membangun kemandirian pangan dan kesejahteraan anggota kelompok tani dengan berbagai jenis inovasi termasuk, irigasi tetes.

Sebuah rahasia yang menjelaskan daya tahan Daniel dkk berhadapan sikap dan motivasi SDM yang rendah, kebijakan yang kadang tidak relevan, ialah karena Daniel, tak pernah menyerah ingin melihat perubahan pada anggota kelompoknya, orang-orang kecil yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Ia berujar, “Saya puas, kalau mereka berubah.” Ini dilakukannya dengan dua cara. Pertama, dia yakin bahwa “mereka pasti bisa, karena mereka memiliki pikiran dan hati, sama seperti saya.” Dan ini hal yang tidak mungkin dirampas oleh siapapun juga.karena itu saya selalu memberi motivasi dengan contoh dan menjadikan mereka bagian dari Kelompok Tani Noetnana.

Kedua, dia berjuang keras mengatasi segala macam hambatan, termasuk di tengah pandemi Covid-19 dengan komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi. Teknologi irigasi tetes yang sekarang kami gunakan adalah buah dari komunikasi dan kolaborasi.

Dia berpendapat, pandemi Covid 19 mengajarkan kita untuk terus berinisiatif dan mengambil kendali. “Kalau tetap berputar-putar tanpa berinisiatif mencari solusi, kita  akan tetap tertawan pada masalah tanpa ada solusi yang nyata”.

Sekadar sebagai informasi, menurut FAO- organisasi pangan dan pertanian dunia, “Kini hampir, 690 juta orang di dunia mengalami kelaparan, meningkat 10 juta dari 2019. Pandemi Covid-19 akan menambah 83-132 juta penduduk lagi yang kelaparan.”

Dengan  pancaran optimisme, Daniel  berujar, “sebagai petani, saya ingin berdedikasi untuk bangsa dan negara di bidang pertanian. Saya ingin orang-orang kecil hidupnya berubah, saya ingin diri saya menjadi “berkat” bagi banyak orang.”

NTT dan Indonesia, membutuhkan sosok seperti Daniel. Dalam konteks menjaga inflasi yang disebabkan oleh komoditas pangan, ia adalah “fondasinya”. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan