oleh

Desa Taenterong 2 Manfaatkan Dana Desa untuk Konservasi Mata Air

RADARNTT, Bajawa – Air adalah kehidupan itu sendiri, begitu urgennya air maka perlu diusahakan perlindungan dan pelestarian sumber-sumber mata air. Demikian halnya warga Desa Taenterong 2, kecamatan Riung, kabupaten Ngada pada Senin, (27/1/2020) menggelar launching konservasi mata air.

Kegiatan konservasi itu sebagai bentuk keprihatinan mengingat pasokan air bersih untuk Taenterong Raya dari sumber mata air Sumpa Nitu terus menurun debitnya dari tahun ke tahun. Jika tidak diantisipasi maka cepat atau lambat, mata air ini akan mengalami kekeringan, yang bisa menjadi masalah sosial bagi kehidupan masyarakat di wilayah itu pada waktu mendatang.

Informasi yang diterima media ini, dari Ketua YPF Emanuel Djomba bahwa Kegiatan launching berlangsung di Gunung Niki yang dibawahnya terdapat sumber mata air Sumpa Nitu itu, ditandai dengan penanaman berbagai anakan pohon. “Kegiatan dihadiri Kapala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ngada Emanuel Kora, Danramil 1625/01 Surisina Kapten (Inf) Supriyanto dan jajaran Babinsa, Kepala Desa Taenterong 2 Maksimilianus Kamis, Pembina Yayasan Puge Figo (YPF) Nao Remon, Ketua YPF Emanuel Djomba, Pejabat yang mewakili Camat Riung Wora Markus, para perangkat desa dan warga desa dari Taenterong Raya,” terangnya.

Emanuel Djomba menjelaskan, warga desa dari Taenterong Raya sejak pagi membawa serta ananakan pohon menunju Gunung Niki sekitar 3 km dari Kuwuk. Gunung yang disebut terdapat situs kampung tua kedua nenek moyang orang Riung itu dicapai dari arah utara. Setelah mencapai puncak, warga dan sejumlah undangan menuruni gunung Niki di belahan selatan menuju mata air Sumpa Nitu.

“Setelah semua warga berkumpul bersama para undangan, Tua adat setempat melakukan upacara adat ‘Pintu Manuk’ memohon restu leluhur dan Molas Mata Wae (Putri panjaga mata air) agar konservasi yang dimulai tahun ini membawa manfaat bagi masyarakat,” urai Emanuel Djomba.

Setelah ritual adat, kata dia, dilanjutkan dengan kegiatan penanaman bersama oleh sejumlah pejabat yang hadir dan diselesaikan oleh warga masyarakat. “Pada saat itu warga menanam sekitar 2.400 anakan pohon di kawasan yang sudah disiapkan sebelumnya, seperti: anakan asam, kupe, waru, kaliandra merah dan putih, kembur dan jabon. Warga juga menabur 210 kilogram biji-bijiaan pada guludan yang sudah disiapkan,” jelas Emanuel Djomba.

Selain 2.400 anakan pohon untuk konservasi mata air, Taenterong 2 juga menyediakan sekita 2.000 anakan cendana (jenis tanaman aromatik) yang bernilai ekonomis agar dapat ditanam di pekarangan masyarakat.

Konservasi mata air ini dikatakan kepala desa Taenterong 2 Maksimilianus Kamis merupakan program desa yang didanai dana desa melalui inovasi desa tahun 2019, namun kegiatannya sudah dilakukan sejak November tahun lalu. “Mulai dari tahapan sosialisasi, persiapan lahan oleh masyarakat didampingi Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD),” ungkap Kepala Desa.

Terkait dengan konservasi ini,  kata Maksimilianus Kamis, Yayasan Puge Figo yang selama ini bergerak dalam bidang konservasi berperan sebagai P2KTD yang mendampingi program inovasi desa bidang konservasi.

Selaku P2KTD, YPF adalah lembaga yang direkomendasi Dinas PMD P3A kabupaten, dan secara resmi telah mengikuti pelatihan P2KTD di tingkat provinsi tahun 2018 di Kupang dan sudah terdaftar di direktori DPMD Provinsi NTT.

Program inovasi desa bidang konservasi mata air ini menjadi prioritas desa Taenterong setelah menyadari kondisi rill bahwa ketersediaan air bersih menjadi masalah serius. Sementara pasokan air dari mata air Sumpa Nitu terus menurun karena kerusakan hutan akibat kebakaran setiap tahun.

“Atas dasar itu, kita kemudian memilih program inovasi desa dengan pilihan konservasi mata air, dan ini akan berlanjut ke tahun berikut melalui program perawatan dan pembuatan ilaran api. Kita siapkan juga alokasi dana dari dana desa,” jelas Maksimilianus.

Konservasi pertama ini menelan dana desa Taenterong 2 sebesar Rp 101 juta tahun anggaran 2019. Dana sebesar itu, selain pengadaan anakan pohon dan biji-bijian juga untuk sosialisasi dan pendampingan teknis. “Tahun 2020 tinggal perawatan dan pembuatan ilaran api, juga tetap didanai dengan dana desa sebesar Rp 20 juta,” imbuh Maksimilianus.

Maksimilianus mengatakan, kegiatan ini bukan main-main. Ini sangat serius karena menyangkut hajat hidup orang banyak. “Karena itu apa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, harus dijaga kemudian akan menjadi keajaiban bagi generasi dan anak cucu kita kelak, karena berhasilnya konservasi ini diukur dengan meningkatnya debit di mata air,” tegasnya.

Maksimilianus mengingatkan, jangan sampai kegiatan ini dianggap hanya seremonial semata. “Ingat kita butuh air, lebih dari sekedar kebutuhan yang lain seperti listrik. Kita sudah berjalan jauh, naik turun gunung hingga ke tempat ini. Bukan hanya sekali tetapi sudah sejak persiapan lahan. Karena itu, apa yang sudah kita mulai ini harus terus dijaga dan dirawat sehingga segala jerih lelah bahkan biaya yang sudah dikeluarkan dapat memberi hasil pula,” pungkasnya .

Sementara Pembina YPF Nao Remon pada kesempatan itu memberi apresiasi dan rasa gembiranya atas respek masyarakat yang sangat antusias menyambut program konservasi ini. Dan menurut Nao, Taenterong 2 merupakan desa satu-satunya di Ngada yang sudah melakukan pilot project konservasi mata air dengan sangat serius dan akan dilakukan secara berkesinambungan.

Nao Remon yang mengambil program doktor dengan melakukan penelitian tentang keturunan orang Riung mengatakan, di sini bukan tempat sembarang. “Di Gunung Niki ini ada situs kampung tertua nenek moyang orang Riung (Mbola Niki) sebelum terpencar ke berbagai tempat di kawasan Riung. Mereka berdiam di sini ratusan tahun lamanya sebelum berpindah lagi. Gunung Niki adalah tempat kedua setelah Wolomeze,” ungkapnya mengisahkan.

Di bawah situs kampung tua Mbola Niki ini terdapat mata air yang kini dialiri melalui pipa ke kawasan Taenterong Raya. Sumber mata air ini, kata Nao Remon, sumber kehidupan nenek moyang orang Riung dahulu. Karena debitnya makin kurang, maka Desa Taenterong 2 mengambil langkah cepat melakukan konservasi di mata air yang memiliki nilai sejarah masa lampau itu. “Karena itu kita berusaha bersama agar jaga api agar kegiatan konservasi ini bisa membawa manfaat bukan untuk kita saat ini saja, tetapi juga membawa manfaat bagi anak cucu kelak,” kata Nao Remon.

Di bagian lain Danramil 1625/01, Kapten (Inf) Supriyanto menengaskan, penghijauan atau konservasi itu membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Sehingga membakar hutan yang menghanguskan dan memusnahkan berbagai spesies tumbuhan adalah petaka untuk seluruh umat manusia. “Tanpa konservasi atau penghijauan, mustahil air bisa terserap ke dalam tanah. Kita harus merawat alam. Dalam kitab suci juga dikatakan, Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya. Merusak isi bumi ini berarti merusak ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa,” kata Supriyanto.

Supriyanto mencontohkan, kalau satu pohon mampu menyerap air lima liter maka hitung saja berapa liter kalau ada 1000 pohon di gunung ini? Diingatkan, “Jangan lupa, sampai di rumah ceritakan kepada anggota keluarga, terutama anak-anak tentang pentingnya menjaga alam untuk kehidupan kita. Bahwa yang kita tanam hari ini akan bermanfaat kalau kita merawat dengan baik,” pinta Suriyanto.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Emanuel Kora menegaskan pemerintah selalu mendukung setiap upaya berbagai elemen dan lembaga seperti juga Yayasan Puge Figo untuk melakukan kerja sama konservasi semacam ini. Diharapkan kegiatan-kegiatan merawat alam akan selalu diikuti oleh berbagai kalangan di setiap kecamatan di Kabupaten Ngada. Eman Kora juga memberi apresiasi kepada YPF yang selama ini dalam amatannya ternyata selalu menjalin kerja sama dan mendorong gerakan penghijauan dan konservasi.

Eman Kora juga mengingatkan para pemburu satwa yang sebenarnya punya jasa ikut menyebarkan biji-bijian tanpa disengaja. Jenis satwa seperti burung, kera, dan musang sebenarnya ikut membantu kita membawa buah/biji-bijian ke berbagai tempat yang sebenarnya sulit dijangkau oleh manusia untuk penghijauan. “Kalau satwa-satwa itu saja bisa menyebarkan biji-bijian/buah, kenapa manusia tidak menabur/menanam. Sudah tidak melakukan, malah membunuh satwa-satwa yang sudah membantu itu,” katanya.

Karena itu, kata Eman Kora, satwa yang karena naluri mereka namun menguntungkan, “Kita harus lindungi, jangan malah menenteng senapan kemana-mana lalu menembak habis. Makanya banyak satwa yang sebenarnya kehadiran mereka membawa keuntungan justru dibantai habis,” tegasnya.

Mewakili Camat Riung, Wora Markus memberi apresiasi desa Taenterong 2 yang sudah berani mengambil langkah melalui program inovasi desa dengan melakukan konservasi mata air. Ini sangat positif dan bermanfaat. “Saya minta warga agar menghentikan kebiasaan bakar hutan juga termasuk dengan alasan berburu, agar apa yang sudah dimulai ini dapat membawa manfaat bagi kehidupan kita dan generasi kelak,” pintanya. (FX/RN)

Komentar