oleh

Dialog Komunitas Tingkatkan Kesadaran Migrasi Aman dan Cegah Perdagangan Orang

RADARNTT, Tambolaka – Maraknya kasus human trafficking (perdagangan orang) bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di provinsi Nusa Tenggara Timur, Internasional Organization for Migration (IOM) melakukan dialog komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang migrasi aman.

IOM melakukan dialog komunitas di salah satu desa binaan desa Marokota, kecamatan Wewewa Barat, kabupaten Sumba Barat Daya. Dialog yang mengambil tema, “Peningkatan Kesadaran Migrasi Aman dan Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang” itu berlangsung Jumat, (18/12/2020) di Kantor Desa Marokota.

Kegiatan dialog komunitas dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Marokota, Seprianus Bili Wada didampingi oleh fasilitator perwakilan IOM pulau Sumba Adela Gultom dan dihadiri masyarakat desa Marokota sebagai peserta dialog.

Saat membuka kegiatan, Kepala Desa Seprianus Bili Wada, mengucapkan terima kasih atas kehadiran IOM dalam melakukan pendampingan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya perdagangan orang dan pekerja migran.

“Dengan adanya IOM yang bergerak di bidang migrasi, kami masyarakat Desa Marokota sangat berterima kasih karena IOM sudah mendampingi kami sejak bulan April 2020 untuk memberikan pencerahan tentang human trafficking atau perdagangan orang,” kata Kepala Desa Bili Wada.

Bili Wada meminta kepada peserta kegiatan dialog agar serius mengikuti penyajian materi dari IOM demi meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang bahaya penjualan orang dan bagaimana menjadi PMI yang aman bekerja di luar negeri.

“Saya selaku kepala desa berharap kepada peserta yang hadir hari ini untuk betul-betul mengikuti penjelasan dari IOM, agar peserta yang hadir menjadi tonggak estafet untuk menyampaikan informasi peningkatan kesadaran migrasi yang aman,” kata Bili Wada.

Agar masyarakat yang ingin menjadi PMI memperoleh informasi mengapa terjadi kasus perdagangan orang bagi PMI, kata Bili Wada, sehingga ke depannya jika ada PT yang mau merekrut saudara, keluarga dan tetangga kita, harus mengetahui dan memperhatikan legal standing dari pada PT itu. Imbuhnya.

Sementra, Fasilitator IOM di pulau Sumba, Adela Gultom mengatakan bahwa masyarakat umumnya mudah diiming-imingi dengan janji-janji surga oleh orang yang melakukan rekrutmen PMI. Karena minimnya pengetahuan tentang migrasi aman.

“Masyarakat kita sangat mudah diiming-imingi, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan human trafficking ini rentan terjadi,” kata Adela yang sering di sapa Bu Didi.

Ia mengatakan, perekrutan PMI harus sesuai prosedur migrasi, mulai dari pendaftaran, pelatihan, penampungan, pengiriman, perpindahan hingga kontrak kerja PMI serta sampai kembali di negara asal agar tidak terjadi penjualan orang.

Adela Gultom menjelaskan, apa yang sudah dilakukan IOM selama ini baru tahap awal sehingga masalah human trafficking di Sumba belum selesai. Karena apa yang dilakukan IOM selama sepuluh bulan, kapasitas baru mengkaver level masyarakat, Pemerintah Desa dan Pemerintah Kabupaten.

“Namun kami optimis, jika ini dilakukan secara jejaring maka bukan tidak mungkin untuk membantu menghapus kasus-kasus human trafficking yang di pulau Sumba khususnya di Sumba Barat Daya dan Sumba Barat,” tutur Adela.

Implementasi dari IOM itu sendiri, menurut Adela Gultom selaku fasilitator IOM di pulau Sumba, setiap bulan melakukan dua kali kegiatan diskusi bersama masyarakat untuk membicarakan terkait bahaya human trafficking.

“Setiap bulan melakukan dua kali kegiatan diskusi bersama masyarakat untuk membicarakan terkait bahaya human trafficking. Harapan kami, dengan langsung kami berdialog dengan masyarakat, maka kami akan menyentuh langsung dengan gesture atau level paling kecil dalam lingkup masyarakat,” terangnya.

Sehingga, lanjut Adela, mereka menjadi agen-agen perubahan yang mampu membawa kabar baik ke masyarakat sekitar lingkungan mereka bahwa human trafficking ada dimana saja dan terjadi kapan saja serta bisa menimpa siapa saja.

Untuk diketahui, komunitas IOM di pulau Sumba terdiri dari dua lokasi, yakni desa Marokota, kecamatan Wewewa Barat di kabupaten Sumba Barat Daya dan desa Tebara, kecamatan Kota Waikabubak di Kabupaten Sumba Barat. (AG/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan