oleh

Ditolak Warga, Bupati Dulla Ngotot Geothermal Wae Sano Dilanjutkan

-Daerah, Mabar-3.304 views

RADARNTT, Labuan Bajo – Meski mendapat penolakan dari sebagian masyarakat Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat terhadap rencana eksplorasi energi panas bumi (Geothermal) Wae Sano, namun pemerintah tetap ngotot agar pembangunan pembangkit listrik di Desa itu tetap dilanjutkan.

“Saya tetap mendorong pembangunan itu (Geothermal) tetap dilanjutkan, saya telah mendapatkan hasil kajian dan analisis dari PT. SMI (Sarana Multi Infrastruktur) dan mereka telah mempresentasinya,” kata Bupati Agustinus Ch. Dulla di hadapan perwakilan massa aksi penolakan Geothermal di ruangan Bupati Manggarai Barat, Senin (2/3/2020).

Dikatakan Dulla kehadiran Geothermal di Wae Sano tentu menguntungkan negara khususnya pemerintah Manggarai Barat. Sehingga tidak perlu menolak.

“Geothermal ini tentu akan menghemat BBM (Bahan Bakar Minyak) ke depannya. Selain itu jika bisnisnya (Pembangkit listrik) berjalan dengan baik maka pemerintah mendapatkan dana CSR (Corporate Social and Responsibility) dari PT. MSI, sehingga tentu kita dibantu membangun infrastruktur jalan raya, pendidikan, dan kesehatan,” ujar Dulla.

“Kita ini bagian dari NKRI, ini program pusat yang kami pemerintah daerah mengikuti. Sebab tidak ada program pemerintah yang tidak pro rakyat. Panas bumi ini tentu menguntungkan negara. Karena itu saya tetap mendorong untuk dilanjutkan,” kata Dulla.

Dulla menegaskan pihaknya tak punya kepentingan apa pun selain kepentingan kesejahteraan masyarakat Manggarai Barat.

“Saya mendengar pendemo mengatakan saya terima uang, itu tidak benar saya hanya mengurus kesejahteraan rakyat Manggarai Barat. Jadi pembangunan itu harus dilanjutkan karena ada juga masyarakat yang pro Geothermal itu,” tutur Dulla.

Ketua Presidium PMKRI Cabang Santu Agustinus Ruteng, Ignasius Pandur mengatakan eksplorasi energi panas bumi (Geothermal) di Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang berpotensi merusak ekologi. Dimana salah satu sebaran titik pemboran Geotemal di Wae Sano adalah di kawasan hutan lindung.

Dia menjelaskan Undang-Undang (UU) Nomor 41 tahun 1999 menjelaskan bahwa hutan lindung merupakan kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah instrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Di kawasan ini terdapat burung endemik Flores.

“Selain itu, eksplorasi Geothermal Wae Sano juga nantinya mengancam kehidupan sosial, budaya, keagamaan, dan mata pencaharian masyarakat Wae Sano,” tegasnya. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan