oleh

Humanity Inclusion Wadah Bagi Penyandang Disabilitas

-Alor, Daerah-215 views

RADARNTT, Kalabahi – Semua pihak wajib mendukung program yang dilakukan Humanity and Inclusion (HI) dalam advokasi para penyandang disabilitas di kabupaten Alor, program ini sangat baik dan mulia. Lembaga ini mengadvokasi para penyandang disabilitas dalam upaya menanggapi kebutuhan dasar dan memperbaiki kondisi kehidupan serta meningkatkan harkat dan martabat penyandang disabilitas.

“Program yang dilakukan HI relevan dengan Program GEMMA MANDIRI dalam spirit Tancap Gas yakni Alor Sehat, Alor Pintar dan Alor Kenyang. Saya harap program HI tidak hanya dilaksanakan selama 2 tahun tetapi dapat dilaksanakan lebih dari 2 tahun di kabupaten Alor,” ujar Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Kabupaten Alor Obeth Bolang, di sela-sela acara pembukaan kegiatan Making It Work (MIW) di Aula Gedung Wanita Kabupaten Alor, Selasa (2/9/2020).

Advokasi penyandang disabilitas yang dilakukan oleh HI kata Obeth, baru dilakukan di tiga desa yaitu, Desa Wolwal kecamatan Alor Barat Daya, Desa Lendola kecamatan Teluk Mutiara dan Desa Alimebung kecamatan Alor Tengah Utara.

Ia harapkan kegiatan tersebut dapat dilakukan di desa-desa lainnya di wilayah Kabupaten Alor.

“Ada 175 desa/kelurahan di Kabupaten Alor. Saya harap HI dapat memperluas wilayah pelayanan advokasi terhadap penyandang disabilitas,” harap mantan Kabag Administrasi Pembangunan Setda Alor.

Project Incluser HI Kabupaten Alor Rocky Rian Kale pada tempat yang sama menuturkan, HI merupakan wadah bagi penyandang disabilitas, dimana HI bekerjasama dengan berbagai pihak baik pemerintah maupun pihak swasta, LSM dan Pers termasuk CIS Timor Kabupaten Alor untuk melakukan advokasi kepada para penyandang disabilitas.

Advokasi yang dilakukan HI menurut Kale bertujuan untuk merubah pemahaman para penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat menyadari bahwa mereka juga memiliki potensi diri untuk dikembangkan serta memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan masyarakat lainnya.

“Kami mengadvokasi mereka (Penyandang Disabiitas) agar mereka dapat memenuhi kebutuhhan dasar mereka, jika mereka memiliki kemampuan untuk bekerja di perusahaan maka kami advokasi agar mereka dapat bekerja di perusahaan, bila mereka membutuhkan modal usaha, kami advokasi untuk mendapat modal usaha dari Bank, Koperasi atau dari Pemerintah,” ujar Kale.

Untuk itu, Kale harapkan, dukungan dari semua pihak untuk bekerja bersama menciptakan lingkungan yang inklusif atau lingkungan yang setara dengan kondisi para penyandang disabilitas, seperti tempat kerja, sarana umum termasuk tempat-tempat ibadah.

Terkait MIW, Rocky Kale katakan, MIW merupakan suatu methodologi yang melibatkan berbagai pihak untuk bekerja secara kolektif melakukan aksi perubahan berbasis bukti (Replikasi). Artinya MIW merupakan Tim kecil yang melibatkan unsur dinas teknis, LSM lokal, Pers dan Penyandang Disabilitas.

Tim kecil ini akan melakukan pengumpulan aksi-aksi atau perbuatan-perbuatan nyata yang perlu dilakukan bagi penyandang disabilitas untuk didokumentasikan dan dipublikasikan dalam bentuk cerita, buku maupun film dokumenter.

Hasil proses kegiatan MIW menurutnya akan disampaikan kepada pemerintah maupun pihak swasta agar dalam meletakan kebijakan pembangunan maupun penyediaan layanan umum dapat menyesuaikan dengan kondisi penyandang disabilitas. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan