oleh

Kapal Nelayan Bantuan KKP di Rote Ndao Diduga Pindah Tangan Tanpa Prosedur

RADARNTT, Ba’a – Kapal penangkap ikan bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2017 untuk 5 kelompok nelayan di kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur diduga telah dipindahtangakan dari beberapa kelompok nelayan ke salah satu oknum berinisial WP yang mengklaim dirinya diberi hak untuk mengelola kapal-kapal tersebut.

Hal ini terungkap dari informasi masyarakat di lokasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tulandale Ba’a Rote, Rabu,(14/10/2020) yang menuturkan bahwa kapal-kapal bantuan tersebut sempat berlabuh di lokasi TPI tanpa dimanfaatkan, namun kemudian ada 2 unit yang dialihkan ke daerah lain di luar provinsi.

“Yang saya paling sesalkan itu ada dua unit kapal yang dialihkan keluar daerah entah ke NTB atau mungkin ke pulau Dobo Maluku tenggara, kami nelayan di Tulandale ini juga butuh, tapi kami tidak pernah ditanyai apakah kami butuh atau tidak, kami hanya sebagai penonton, kami heran aturan model apalagi sehingga kapal-kapal itu dialihkan lagi ke daerah lain, sedangkan beda provinsi,” ungkap Eli Ndun, salah satu nelayan yang kesehariannya berada di lokasi TPI Tulandale,

Salmun Klas, salah satu ketua kelompok nelayan penerima bantuan tersebut ketika dikonfirmasi belum lama ini, kepada wartawan mengatakan, dirinya tidak punya inisiatif untuk mengalihkan kapal bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut untuk ke daerah lain, dalam hal ini ke luar daerah Kabupaten Rote Ndao. Namun mungkin karena ada perhatian dan penilaian dari Dinas Kelautan Perikanan tiba-tiba kapal tersebut dialihkan ke kabupaten lain yaitu ke Dobo di Maluku.

Lebih lanjut Salmun mengatakan bahwa, melalui Koperasi Bahari Mandiri Indah miliknya proses perpindahan kapal bantuan untuk kelompoknya yang dialihkan ke pulau Dobo menurutnya tidak menyalahi aturan. Namun justru kejanggalan-kejanggalan itu ada di koperasi-koperasi lain.

Ia menyebutkan, ada 5 titik koperasi yakni Kecamatan Rote Timur di Papela, Kecamatan Rote Barat Laut di Oelaba, Kecamatan Rote Barat Daya di Deranitan, Kecamatan Lobalain di Metina dan Kecamatan Ndao Nuse di Ndao.

“Saya punya saya yakin aman, ada bukti pengalihannya lengkap, yang lebih dikejar itu yang ada di WP, itu ada indikasi diperdagangkan. Dia tarik dari semua koperasi yang ada di Rote, frei (bebas) saya punya karena pada saat Dia datang saya tantang Dia, saya ancam kalau berani tarik saya punya saya pidanakan, karena saya mangarti (mengerti) prosedur, akhirnya Dia coba mengajak saya bekerja sama tapi saya tidak mau, karena saya tau persis siapa WP,” ujarnya.

Ketika dikonfirmasi di kediamannya, Rabu,(16/12/2020),pukul 14:35 wita, WP mengatakan, dirinya tidak tahu kapal-kapal penangkap ikan tersebut milik siapa, tapi sepengetahuannya adalah milik Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ia mengatakan informasi yang didapatkan pihaknya bahwa kapal-kapal tersebut berjumlan lebih kurang 50 unit yang katanya mau dialihlan ke luar daerah, lalu kemudian ada petugas yang datang mengaku bahwa dari Kementerian, ketika dirinya melihat persyaratan yang disodorkan terhadap dirinya, maka dirinya memenuhi persyaratan yang dimaksut untuk mengelola kapal-kapal tersebut, karena dirinya mempunyai koperasi dan setelah diperiksa seluruh administrasi Koperasinya maka dirinya dipercayakan untuk mengelola kapal-kapal tersebut.

“ini kapal sudah saya punya jadi silakan bilang saya menipu atau menyalahi aturan sudah saya punya, saya ada 30 unit kapal,” ucap WP.

Ia menambahkan, pihak kabupaten dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rote Ndao tidak memperhatikan kapal-kapal tersebut, bahkan dirinya telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memperbaiki kapal-kapal tersebut dan Ia telah memberikan beberapa unit kepada nelayan untuk dikelola secara baik. (TA/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan