oleh

Kodim 1613 Sumba Barat Gelar Pembinaan Komsos Cegah Tangkal Radikalisme

RADARNTT, Waikabubak – Merawat kebhinekaan untuk tangkal radikalisme dan separatis dalam bingkai NKRI dan sosialisasi Covid-19, Kodim 1613/Sumba Barat menggelar kegiatan komunikasi sosial (Komsos) cegah tangkal radikalisme dan separatis bersama Anggota Babinsa Kodim 1613/Sumba Barat, Persit dan Keluarga besar Kodim 1613/Sumba Barat, Selasa (15/9/2020), di Aula Terbuka Kodim 1613/Sumba Barat.

Dandim 1613/Sumba Barat, Letkol Czi Irawan Agung Wibowo, dalam arahannya mengatakan kegiatan komunikasi sosial cegah tangkal radikalisme perlu dilaksanakan supaya anggota TNI dan keluarga mempunyai daya tangkal dan tidak mudah terpengaruh suatu paham yang sifatnya menyimpang di tengah situasi perkembangan informasi dan teknologi yang sangat pesat dan mudah diakses.

“Dengan banyaknya kejadian yang terjadi baik di lingkungan kita ataupun yang beredar di media sosial, media cetak maupun elektronik hendaknya kita selalu waspada dan bijak dalam bermedia sosial, jangan mudah terpengaruh oleh suatu hal yang belum terbukti kebenarannya,” tegas Dandim.

Lanjut Dandim, kegiatan ini juga  bertujuan agar keluarga TNI tidak terpengaruh paham radikalisme, “Karena itu perlunya bimbingan dan arahan orang tua tentang bahaya paham radikalisme dalam pergaulan sehari-hari agar kita waspada terhadap paham radikalisme dimana paham ini dilarang. Sesuai perintah dari pimpinan agar kita jangan mudah terpengaruh oleh pihak tertentu untuk menanamkan suatu ajaran atau paham radikalisme,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, kata Dandim, paham radikalisme bertujuan merubah idiologi negara dengan paham lain yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD1945.

“Kita sebagai aparat negara harus selalu waspada dan menangkal segala bentuk paham radikalisme baik dalam lingkungan kita sendiri maupun di lingkungan bermasyarakat,” tandasnya.

Dalam kesempatan sama, Mayor Caj Mulyono (Pabung 1613/Sumba Barat) menegaskan bahwa saat ini ada pihak yang sering mengatasnamakan agama dengan tujuan dan maksud tertentu, terutama dalam politik menggunakan agama.

“Dengan isu agama dalam berpolitik akan mengakibatkan terbelahnya masyarakat dan terjadi adu domba oleh pihak tertentu untuk kepentingan kelompoknya yang merusak persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara,” terang Mulyono.

Mulyono mengatakan, sebagai aparat negara dan keluarga besar tentara selalu waspada terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengadu domba baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Berpolitik menentukan pilihan berdasarkan agama, berpotensi terjadi kelompok-kelompok berdasarkan agama dan mempertahankan ego masing-masing berdasarkan agama yang bisa menimbulkan perpecahan dan konflik berdasarkan agama.

“Hubungan kita kepada Tuhan penting, tidak kalah pentingnya hubungan kita antar sesama masyarakat karena kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain,” katanya.

Semua agama mengajarkan kebaikan sebagai tuntunan dan pedoman hidup, sebagai manusia wajib mempunyai agama. Untuk itu, kata Mulyono, dalam kehidupan sehari-hari antar umat beragama agar saling menghormati dan menghargai ajaran agama dan kepercayaan masing-masing. (AG/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan