oleh

Komunitas Peduli Lingkungan Pariti Adukan 5 Perusahaan Tambang Galian C

RADARNTT, Oelamasi – Masyarakat Desa Pariti yang tergabung dalam Komunitas Peduli Lingkungan Desa Pariti mengadukan aktivitas pertambangan Galian C di Desa Pariti kepada Ombudsman Perwakilan NTT dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi NTT.

Aktivitas pertambangan ini dilakukan oleh 5 perusahaan yakni PT Metro, PT Sama Jaya, PT Sumber Karunia, PT HMN, PT Timor Beton.

Melalui surat pengaduan yang kopiannya diterima media ini, Rabu (24/6/2020) masyarakat menyampaikan bahwa aktivitas pertambangan Galian C telah berdampak pada rusaknya air di sungai Noel Biboko. Masyarakat juga membeberkan fakta-fakta dari aktivitas pertambangan tersebut, sebagai berikut:

Pertama, sejak dulu masyarakat menggantungkan kebutuhan air di kali Noel Biboko mulai dari sumber air minum (sumur), serta irigasi;

Kedua, akibat eksploitasi Galian C di wilayah sungai, dampaknya mulai dirasakan oleh masyarakat berupa debit air mulai berkurang diakibatkan oleh aktifitas pengelola Galian C di wilayah hulu;

Ketiga, mayoritas masyarakat desa pariti petani;

Empat, sawah petani di wilayah hilir sungai;

Kelima, luas sawah kurang lebih 700an hentar di wilayah desa Pariti;

Keenam, saat ini air di sumur mulai mengering;

Ketujuh, dampak ke sawah di tahun 2020 tidak ada aktifitas pekerjaan di daerah sawah karena debit air yang berkurang (gagal tanam);

Kedelapan, mayoritas belum ada air sumur PDAM;

Kesembilan, selama ini untuk memenuhi kebutuhan air, ketika sumurnya kering masyarakat turun gali perdalam lagi sumur;

Kesepuluh, sebagian masyarakat terpaksa membeli tanki air;

Dijelaskan dalam suratnya bahwa aktivitas pertambangan ini sejak awal didirikan tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan. Justru sebaliknya berdampak buruk pada lingkungan sekitar dan juga berdampak pada ekonomi masyarakat. Pengrusakan wilayah hulu sungai Noel Biboko akibat aktivitas pertambangan berujung pada akses air masyarakat terutama petani mulai berkurang.

Hal ini kemudian berdampak pada kekeringan di persawahan. Sepanjang tahun 2020, petani di desa Pariti mengalami gagal tanam dan sebagian mengalami gagal panen. Dampak lingkungan lain yang dialami oleh masyarakat adalah, sumur milik warga sebagian mulai mengering.

Masyarakat juga mempertanyakan selama  bagaimana prosedur pengurusan izin bagi PT sehingga mendapat izin beroperasi di sungai yang merupakan satu-satunya sumber air bagi pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga; Apakah dalam pengurusan izin PT, masyarakat tidak dilibatkan?

“Selama ini masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam setiap diskusi maupun sosialisasi terkait rencana kegiatan perusahaan. Apakah aktivitas pertambangan diperbolehkan memprivatisasi sumber air masyarakat?,” tegas dalam surat aduan.

Masyarakat meminta bantuan pihak Ombudsman Perwakilan NTT untuk mengadvokasi masalah pertambangan Galian C yang merusak sumber air irigasi pertanian dan air konsumsi. Dan meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan provinsi NTT agar menyelesaikan masalah itu.

“Kami minta bapak Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan provinsi NTT sekiranya dapat membantu masyarakat dalam menyelesaikan maslah itu,” tegas masyarakat dalam surat.

Masyarakat menegaskan bahwa sampai saat ini kondisi di lokasi pertambangan telah berdampak merusak lingkungan dan lahan pertanian sehingga masyarakat meminta agar aktivitas perusahaan dihentikan dan mencabut izin usaha.

Pihak Ombudsman Perwakilan NTT dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan provinsi NTT saat dihubungi via pesan whatsapp belum memberikan tanggapan terkait pengaduan tersebut. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan